Judi Singapura Kalau Bisa Satu Sen pun Jangan Terbawa Pulang

1500 Triliun Rupiah Disedot Dua Kasino Singapura? (Bagian 7)

Laporan: Ryanto

Batam NowBUKAN saja hanya orang tajir mangsa Kasino Singapura. Banyak orang miskin, yakni para pekerja formal dan non-formal menjadi korban meja judi internasional itu.

Uang terkuras, setelah mati-matian bekerja setiap hari. Hidup mereka pun terlunta-lunta dan menderita di Singapura.

Akibat kondisi ini, cukup alasan menuding dan memberi stigma “Kejamnya Pemerintah Singapura.”

Ini semua akibat kebijakan pemerintahan Lee Hsien Loong.

Membuka pintu sebebasnya, sehingga ribuan si miskin bebas terperangkap di Kasino.

Ini persoalan besar bagi negara-negara di luar Singapura, khususnya negara ASEAN.

Harusnya lewat semangat di Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) sesama mereka harus membangun kerja sama untuk saling mengawasi para pekerja rendahan di negara masing-masing, agar tidak menjadi korban judi kasino.

Justru selama ini, pemerintah sesama ASEAN “buta” karena banyak warganya terperangkap di Kasino. Apalagi pihak Kedutaan Besar nya di Singapura, tidak care dengan masalah ini.

Para pekerja dengan visa kerja dari India, Bangladesh (Bangla), Filipina, Thailand, Burma dan Indonesia.

Sungguh banyak dari mereka terjebak di hiburan beresiko itu.

Tak menyangka bahwa pihak pemerintah Singapura sebagai pemilik saham di Kasino, tidak membatasi strata ekonomi setiap pengunjung di sana.

Harusnya pemerintah di negeri “singa” itu membuat aturan dan standar keuangan bagi setiap Warga Negara Asing (WNA) yang diperbolehkan masuk ke kasino.

Parahnya orang miskin pun bebas masuk di sana. Ini sekaligus membantah mitos selama ini, bahwa hanya si kaya sajalah yang bisa masuk ke areal meja judi besar.

Banyak pihak berpendapat bahwa pemerintah Singapura memang rakus dengan duit.

Saking rakusnya, ada anekdot: apapun bisa anda lakukan di Singapura selagi anda cukup uang. Bahkan melanggar Undang-Undang (UU) sekalipun tidak apa-apa, kalau anda mampu membayar dendanya.

Pemerintah Singapura memang sengaja membiarkan semua orang asing menjadi korban Kasino. Termasuk para si miskin itu.

Di sini bukti rakusnya. Uang receh milik para pekerja saja dihalalkan. Ini sama dengan Pukat Harimau.

Sementara, orang Singapura diproteksi atau dilindungi dari kerusakan akibat judi Kasino ini. Dimana setiap warga Singapura harus terlebih dahulu membayar retribusi (levy), baru bisa masuk.

Jadi warganya tak bisa sembarang masuk Kasino kalau hanya dengan duit terbatas.

Tak demikian bagi warga asing tadi. Pemerintah Singapura, tampaknya, sudah mendesain cara seperti itu. Semua menjadi korban begitu masuk Kasino.

Demi uang, Singapura disebut sudah punya semboyan: ”satu sen pun uang pejudi, jangan sampai terbawa pulang”.

Singapura memang kota Kosmopolitan. Negara dengan biaya hidup termahal di dunia.

Negara itu tidak punya sumber daya alam sama sekali. Tapi negara itu super kaya.

Apalagi ditambah pundi-pundi dari dua Kasino dengan pajak negara 30 persen. Dan sebagian pajak itu adalah uang para pekerja si miskin tersebut.(*)

avatar
  Langganan  
Berikan notifikasi