Ke Batam Menhub ‘Pasang Tenda’

Mestinya Bangun Terminal Penumpang

Batam NowMENTERI Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, di Batam, Sabtu (25/5) dalam rangka kunjungan kerja.

Dia ke sini, melihat dari dekat (sidak), berbagai persiapan daerah ini menyambut mudik Lebaran tahun ini tentang kesiapan transportasi laut, darat dan udara.

Pelabuhan laut Batu Ampar, satu titik yang ‘disidak’. Di sana ada kegiatan pelabuhan penumpang kapal Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), berbobot besar.

Saat acara “tengok-tengok”, dia memerintahkan pemasangan banyak tenda-tenda, di pelabuhan itu.

Tidak saja hanya tenda, fasilitas lain seperti kesehatan juga disinggung.

Tiga pejabat penting yang kompeten untuk kesiapan transportasi laut para pemudik di Batam, Gubernur Riau Nurdin Basirun, Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Edy Putra Irawady serta Dirut Pelni.

Merekalah diminta koordinasi memasang tenda-tenda yang banyak. Di “terminal” penumpang itu.

Ini upaya maksimal untuk kenyamanan calon penumpang di pelabuhan yang serba darurat itu.

Batam, sampai saat ini, tidak memiliki terminal penumpang laut yang permanen dan standar.

Inilah tangis warga Batam selama ini. Pulau industri ke sohor ini, tak memiliki terminal untuk kapal penumpang berbobot besar.

Tangis yang sudah lama. Para penumpang kapal Pelni ini, terdiskriminasi hak-haknya sebagai konsumen. Selama belasan tahun.

Termarjinalkan karena para penumpang di pelabuhan keberangkatan dan ketibaan, selalu kurang aman dan nyaman kondisinya.

Lihatlah di pelabuhan kargo Batu Ampar itu. Di sanalah kapal penumpang Pelni itu bersandar. Menaikkan dan menurunkan penumpang.

Kondisi terminalnya sangat darurat, bila dibanding dengan pelabuhan lainnya di mana pun.

Sudah menjadi pemandangan biasa, bila penumpangnya berjalan kaki sekitar 500 meter mau keluar dari pelabuhan.

Tak nyaman, karena penumpang lebih sering menyusuri celah lalu-lalang truk pembawa kontiner yang ke luar masuk pelabuhan kargo itu.

Ini sebenarnya bukan hanya tak nyaman. Tapi sangat berbahaya untuk keselamatan manusia. Ini satu fakta yang entah sampai kapan berakhir.

Apalagi, biasanya, kebanyakan para penumpang yang tiba di pelabuhan itu banyak menjinjing barang bawaan. Sembari berjalan tertatih kecapekan menyusuri dermaga pelabuhan, hingga ke jalan utama.

Belum lagi bagi mereka yang menggiring anak-anak kecil, berjalan terengah-engah dari kapal ke luar pelabuhan.

Mereka tak jarang, berjalan beriringan di celah lalu lintas truk-truk besar yang hilir-mudik di sana.

Belum lagi di saat turun hujan. Para penumpang kuyub kehujanan. Menyusuri jalan berlumpur ke luar pelabuhan.

Sebegitu parahnya pelabuhan di Batam itu. Sementara di mana mana, terminal penumpang laut domestik berstandar internasional, sudah sejak lama dinikmati masyarakat.

Terminal yang nyaman dan aman. Terminal yang sudah moderen, yang tak perlu menyusuri jalan sampai beratus meter.

Sistem check-in penumpang pun, di pelabuhan penumpang lain di Indonesia, setara seperti terminal bandara udara. Menggunakan “auto gate”.

Kecuali Kota Batam yang berpenduduk 1,5 juta jiwa ini. Terbiarkan. Apalagi, di sini, dominan pendatang. Banyak pemudik, kala hari besar.

Dan menteri pun datang lalu mengatakan: pelabuhan penumpang di Batam itu tak layak.

Sebenarnya statement itu tak jauh beda dengan menteri lainnya yang sudah berulang kali ke Batam. Mereka hanya berbicara “tak layak” tetapi tak ada tindak lanjut.

Kondisinya Diskriminatif dan Kontras

Kondisi di pelabuhan penumpang komersil Pelni di Batam itu, sangat kontras bila dibandingkan kondisi pelabuhan lain di Batam.

Kualitas pelabuhan Pelni di Batam hampir sama dengan pelabuhan perintis.

Penampakannya seakan kembali ke zaman baheula. Dimana terminal penumpang zaman itu, sangat darurat dan kurang manusiawi.

Batam memang tak memiliki pelabuhan penumpang domestik, untuk seukuran kapal penumpang Pelni. Untuk kapal berbobot 14.000 GT dengan 1.500 penumpang. Apalagi dengan terminal penumpang khusus.

Pelabuhan tempat sandar kapal Pelni selama ini, hanya untuk kargo. Beberapa tahun lalu, kapal Pelni ini cukup lama mengambil posisi operasinya di pelabuhan Sekupang.

Kondisinya pun sama dengan di Batu Ampar.

Penumpang yang hendak berangkat di pelabuhan itu “dionggokan” dulu di keberangkatan, di bawah tenda-tenda sekelas teratak.

Di sanalah maksud Budi Karya, tenda-tenda itu diperbanyak. Untuk fasilitas calon penumpang yang menunggu hendak berangkat. Ini ibarat tenda posko darurat di areal bencana alam.

Tujuan baik Budi Karya kali ini, memperbanyak tenda-tenda dimaksud, karena diprediksi populasi mudik akan lumayan banyak pada musim Lebaran ini.

Apalagi setelah harga tiket pesawat melangit. Diperkirakan, banyak pemudik beralih ke kapal Pelni. Penumpang yang hendak ke Jawa, Sumatera dan lainnya.

Di Batam, sebenarnya, begitu banyak pelabuhan berstandar internasional. Bahkan semua memiliki terminal modern.

Baik pelabuhan domestik. Antarpulau, dengan kapal berbobot jauh di bawah GT kapal Pelni.

Terminal antarpulau di Pelabuhan internasional Harbour Bay, misalnya. Tujuan Tanjung Balai Karimun saja, terminal penumpangnya sudah modern.

Ruang keberangkatan dan kedatangan tak ada peluh bagi penumpang. Lengkap berpendingin. Punya kursi penumpang yang berkelas.

Padahal terminal ini, tidak berjarak jauh dari pelabuhan Batu Ampar yang darurat, tak nyaman itu.

Di sinilah bentuk kontras dan diskriminasinya.

Pelabuhan yang dikelolah swasta, kalah jauh dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pemilik kapal penumpang Pelni itu.

Miris memang melihat kondisi ini. Di saat pemerintah jor-joran membangun berbagai terminal darat, laut dan udara yang mewah.

Harusnya terminal penumpang di Batam sudah sejak lama dibutuhkan, dan segera harus dibangun.

Bukan lelap memperbanyak tenda, sebagaimana diperintahkan Budi Karya itu.

Jauh-jauh Pak Menteri dari Jakarta, hanya memperbanyak tenda-tenda darurat untuk penumpang.

Masyarakat sebenarnya sangat berharap, kedatangan Menteri Budi Karya kali ini, selain melakukan sidak fasilitas laut transportasi mudik juga memastikan pembangunan terminal penumpang di sini. (Red-1)

avatar
  Langganan  
Berikan notifikasi