Mikol dan Rokok Non Cukai Masih Beredar Luas

Batam NowMINUMAN beralkhohol (mikol) dan rokok non cukai masih beredar luas di tengah masyarakat Batam, Bintan dan Karimun.

Bukan saja hanya di ketiga kawasan FTZ tersebut, di daerah di pesisir Sumatera juga masih beredar seperti selama ini.

Di Pekanbaru, Batam Now masih menemukan mikol impor dengan label “Khusus Free Trade Zone Batam”.

Rokok dari berbagai merek non cukai juga demikian.

Bocornya rokok dan mikol jatah kawasan FTZ ini ke daerah pabean, khususnya di pesisir Sumatera, menjadi temuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Demikian juga berbagai jenis rokok berlabel FTZ Batam, Karimun dan Bintan. Beberapa kios rokok masih mengirimkan paket kiriman ke beberapa agennya di daerah perkebunan.

Sementara di Batam sendiri juga masih dengan kondisi lama.

Mikol impor dari berbagai jenis, demikian juga. “Masih harga lama non cukai,” kata seorang pedagang mikol non cukai di kawasan Kepri Mall di Batam kepada Batam Now.

Di semua outlet di Batam, termasuk di “outlet duty free” masih menjual berbagai jenis mikol impor non cukai.

Juga di outlet terminal internasional Harbour Bay, Pelabuhan Sekupang, Batam Centre dan yang lain.

“Belum ada perubahan harga. Masih harga biasa,” ujar penjaga toko di sana.

Pemerintah belum lama ini memutuskan untuk mencabut fasilitas pembebasan barang kena cukai yang selama ini diberlakukan di Kawasan Perdagangan Bebas Batam, Bintan, Karimun dan Pinang. Dengan pencabutan ini, rokok dan minuman beralkohol akan dikenakan cukai.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi menyatakan pencabutan tersebut dilakukan setelah pihaknya mendapatkan rekomendasi dari KPK.

Sebagai informasi, beberapa waktu lalu KPK melakukan penelitian atas peredaran rokok di Batam. Penelitian dilakukan pada November 2017 hingga April 2018.

Hasil penelitian mengungkap bahwa rokok beredar di Batam pada periode tersebut mencapai 2,5 miliar batang. Jumlah tersebut kata mereka mengindikasikan adanya penyelundupan rokok ke daerah lain.

Dari penelitan KPK itu, negara diperkirakan rugi ratusan triliun akibat bocornya mikol dan rokok non cukai itu ke daerah.(D/M)

avatar
  Langganan  
Berikan notifikasi