Neta: Keluarga Cendana Big Dalang Kerusuhan 21 Mei

Batam NowKETUA Presedium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menuding keluarga Cendana “The Big Dalang” kerusuhan 21 Mei di Jakarta.

Meski tidak merinci siapa persisnya keluarga Cendana dimaksud, tapi menurut pria kelahiran Medan ini, polisi sebenarnya sudah mengetahui hal itu.

Itu maka, dia minta, polisi harus segera memeriksa serius kasus ini dan menyapu bersih semua yang terlibat.

Dikatakan, kerusuhan 21 dan 22 Mei itu ada dua bagian. Bagian pertama, kerusuhan itu sendiri dan bagian kedua adalah rencana pembunuhan terhadap empat orang tokoh nasional dan seorang pimpinan lembaga survei.

Sebagaimana rilis Polri ke empat tokoh itu: Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Ham (Polhukam) Wiranto; Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (LBP); Kepala BIN RI Budi Gunawan; dan Staf Khusus Presiden Gories Mere dan Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya.

Ditambahkan Neta, tim keluarga Cendana tidak akan mampu men “chaos” kan keadaan pada saat itu, karena mereka menggunakan preman. Kalau target “chaos”, Tanah Abang sudah habis mereka bakar.

Yang bisa men“chaos”kan biasanya hanya mahasiswa, karena tidak ada tolak ukur ekonomi.

Mahasiswa, tambah dia, militan. Semakin dilukai polisi, mereka akan semakin eksis. “Kalau preman, begitu dana kurang mereka tak mau aksi,” kata Neta.

Jadi, jelas Neta, keterlibatan dan target keluarga Cendana hanya menciptakan bargaining. Dan, sepertinya upaya bargaining itu sudah sempat tercapai saat itu.

“Saya dapat masukan, tindakan itu dalam upaya bargaining,” ujarnya tadi malam, saat wawancara.

7 Lagi Jenderal Purn Polisi Harus Diperiksa
Peristiwa 21 dan 22 Mei, menurut Neta adalah peristiwa luar biasa dalam fenomena politik di Indonesia.

Selain mengungkap keterlibatan Sofyan Yakop yang purnawirawan Polisi berbintang tiga itu, Neta juga meminta polisi segera memeriksa tujuh lagi jenderal purnawirawan (pol), yang diduga terlibat. Dan bila terbukti terlibat segera harus ditahan.

Neta meminta ke tujuh jenderal purnawirawan polisi itu jangan sampai dibiarkan. “Mereka masih punya akses ke institusi, dan akan bisa merecoki proses dan hasil pemeriksaan nanti”, pinta Neta lagi.

Ketujuh jenderal yang dimaksud, sebagaimana diungkap Neta ke media dua hari lalu: yakni Irjen A, Irjen HP, Brigjen SH, Brigjen DS, Brigjen Z, Brigjen ES, dan Brigjen Har.

Selain itu, Neta juga mengklasifikasi kelas para dalang. Ada operator di lapangan, ada “middle” dalang dan “the big” dalang.

“Middle dalang itu kan sudah dirilis polisi. Kan baru satu orang,” urai Neta lagi.

Jadi intinya bahwa para tersangka perencanaan penembakan sudah ditangkap. Sementara para dalang kerusuhan dan pendananya belum dijamah. “Kan baru hanya satu orang, yakni HM. Sementara TS belum,” sebut Neta.

Nah, menurut dia, kalau TS inidapat dikorek akan semakin mengkerucut ke atas siapa sebenarnya “big” dalang itu.

Menjawab pertanyaan, TS, menurut Neta adalah seorang pengusaha dan juga sama seperti HM orang di dalam Partai Politik.

Dialah, kata Neta, yang mendatangkan sejumlah massa preman dari Surabaya ke Jakarta dengan transportasi pesawat udara. Mereka diinapkan di beberapa hotel di seputaran Jalan Wahid Hasym, Jakarta dekat dengan gedung Bawaslu dan KPU RI.

Sementara itu, jelas Neta lagi, masih ada enam orang yang diduga terlibat yang belum ditangkap. Dua orang purnawirawan perwira tinggi, dua orang perwira menengah, satu orang tokoh preman dan satu orang anak pemuka agama ternama.

Tak dijelaskan Neta apakah dua purnawirawan perwira tinggi dan menengah itu dari TNI atau polisi.

“Jadi dalang kerusuhan baru hanya satu orang yang tertangkap sebagai pendana, yakni HM. Sedangkan dalang lain belum,” kata Neta.

Inilah yang dikesalkan Neta. Mengapa polisi lamban mengungkap semua pelakunya.

“Saya kesal, polisi masih banyak pertimbangan”.(Red-1)

Dikutip dari wawancara live dengan jurnalis Metro TV, Rabu(12/5/2019), malam sekitar 19.30. Neta S Pane berada di gedung DPR RI di Senayan.

avatar
  Langganan  
Berikan notifikasi