Di Batam, hampir semua orang mengenal minuman yang disebut “teh obeng”. Istilah itu begitu populer sehingga seolah-olah “obeng” merupakan nama asli minuman tersebut.
Benarkah demikian?
Jika ditelusuri dari sejarah istilah dan budaya kopitiam masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara, istilah yang lebih tepat untuk ditelusuri adalah “Teh O Peng”.
Perbedaannya hanya satu bunyi, tetapi di baliknya terdapat sejarah bahasa, migrasi dan percampuran budaya yang panjang.
Bahasa Tionghoa Bukan Hal Asing di Batam
Penggunaan istilah-istilah yang berasal dari bahasa atau dialek Tionghoa sebenarnya merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari di Batam.
Hal ini tidak terlepas dari keberadaan masyarakat Tionghoa yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi Batam atau Kepri
Pengaruh tersebut dapat ditemui dalam perdagangan, kuliner, nama makanan dan minuman, hingga percakapan sehari-hari.
Posisi geografis Batam juga memperkuat proses tersebut.
Batam berada sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia, dua kawasan yang secara historis juga memiliki komunitas Tionghoa yang besar serta tradisi kopitiam yang kuat.
Hubungan perdagangan, mobilitas penduduk, perjalanan dan interaksi masyarakat antara Batam, Singapura dan Malaysia membuat berbagai istilah bahasa dan dialek Tionghoa mudah menyebar dan beradaptasi dalam percakapan masyarakat Batam.
Karena itu, mendengar istilah seperti Teh O, Teh O Peng, Kopi O, Kopi Peng dan berbagai istilah kuliner lainnya bukan sesuatu yang asing di Batam.
Dalam konteks inilah istilah “Teh O Peng” kemudian berkembang menjadi “teh obeng” dalam bahasa tutur masyarakat Batam.
Apa itu Teh O Peng?
Frasa “Teh O Peng” terdiri dari tiga unsur: teh, O, dan peng.
Teh adalah minuman teh. Kata “teh” sendiri memiliki sejarah panjang dalam perdagangan teh Tiongkok dan masuk ke berbagai bahasa Asia melalui jalur perdagangan maritim.
O dalam tradisi kopitiam berarti teh tanpa susu.
Sementara peng berkaitan dengan karakter Tionghoa 冰, yang berarti es atau dingin. Dalam pelafalan Hokkien/Minnan, kata tersebut dikenal dengan bunyi yang mendekati “peng”.
Maka Teh O Peng pada dasarnya berarti teh tanpa susu yang disajikan dengan es—es teh tawar.
Dari mana istilah “Peng” berasal?
Jejak bahasa “Peng” mengarah pada Hokkien/Minnan (閩南語), salah satu kelompok bahasa Tionghoa yang berakar di Fujian bagian selatan, terutama kawasan Quanzhou, Zhangzhou dan Xiamen.
Fujian selatan sejak dahulu merupakan kawasan penting perdagangan maritim Tiongkok. Masyarakat dari wilayah ini kemudian bermigrasi ke berbagai kawasan Asia Tenggara.
Mereka membawa bahasa, tradisi dan kebiasaan kuliner yang kemudian berinteraksi dengan bahasa Melayu serta bahasa masyarakat setempat.
Salah satu ruang penting percampuran tersebut adalah kopitiam.
Dari “O Peng” menjadi “Obeng”
Lalu bagaimana Teh O Peng berubah menjadi teh obeng di Batam?
Dalam percakapan sehari-hari, kata “O Peng” dapat diucapkan secara cepat dan menyatu. Bunyi tersebut kemudian terdengar seperti “obeng”.
Lama-kelamaan, bentuk “teh obeng” menjadi sangat populer di Batam. Bahkan, bagi sebagian masyarakat, “teh obeng” justru terasa sebagai istilah yang sudah baku.
Di sinilah menariknya perjalanan sebuah bahasa.
O Peng merupakan gabungan dua unsur, sedangkan obeng kemudian dipersepsikan sebagai satu kata.
Padahal, dalam bahasa Indonesia, obeng memiliki arti lain: alat untuk memutar atau mengencangkan sekrup.
Apakah menyebut “Teh Obeng” salah?
Tidak harus dianggap salah.
Bahasa yang hidup di tengah masyarakat memang mengalami perubahan. Sebuah kata atau istilah dapat berubah bunyi ketika berpindah dari satu komunitas ke komunitas lain.
Karena itu, “teh obeng” dapat dipandang sebagai istilah lokal yang telah mengakar dalam budaya tutur Batam.
Yang menarik untuk dikritisi bukan masyarakat yang menggunakan istilah tersebut, melainkan hilangnya kesadaran terhadap asal-usul istilahnya.
Sebab ketika “teh obeng” dianggap sebagai istilah asli, kita berpotensi melupakan bahwa di baliknya ada sejarah pertemuan bahasa Tionghoa dan Melayu serta perjalanan masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara.
Secangkir Teh dan Sejarah Batam
Menariknya, hanya dengan memesan satu gelas Teh O Peng, kita sebenarnya sedang menyentuh sejarah yang jauh lebih panjang daripada sekadar minuman.
Ada jejak bahasa Hokkien dari Fujian selatan.
Ada sejarah perdagangan teh Tiongkok.
Ada migrasi masyarakat Tionghoa ke Asia Tenggara.
Ada perkembangan budaya kopitiam di Singapura dan Malaysia.
Dan ada posisi Batam yang sangat dekat dengan kedua kawasan tersebut, sehingga pertukaran bahasa dan budaya berlangsung secara alamiah.
Jadi, Teh O Peng atau Teh Obeng?
Kalau berbicara tentang istilah yang telah populer dalam budaya tutur Batam, jawabannya: teh obeng.
Tetapi kalau sedang menelusuri akar istilahnya, kita perlu kembali kepada Teh O Peng.
Sebab terkadang, sebuah perubahan bunyi yang sangat kecil dapat menyimpan sejarah budaya yang sangat panjang—tentang Tiongkok, migrasi, Singapura, Malaysia dan Batam sebagai ruang pertemuan berbagai kebudayaan. (Red)
