BatamNow.com – Krisis air minum perpipaan yang dialami warga Bengkong, Batam, akan dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD Kota Batam bersama warga terdampak dan sejumlah pihak terkait, pada esok Senin (14/09/2026).
Berdasarkan surat undangan yang diterima BatamNow.com, persoalan mendera warga itu akan di-RDP-kan mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai di ruang rapat Komisi III DPRD Kota Batam.
Komisi III yang membidangi pembangunan sarana dan prasarana serta lingkungan hidup mengundang warga terdampak dalam rapat tersebut.
Sejumlah pihak terkait juga dijadwalkan hadir, di antaranya Direktur SPAM BP Batam, Direktur PT Moya Indonesia, Direktur PT Air Batam Hilir (ABHi), Camat Bengkong, serta Lurah Tanjung Buntung.
Surat undangan tersebut ditandatangani Ketua Komisi III DPRD Kota Batam, Muhammad Rudi ST dan Sekretaris Komisi III Walfentinus Tindaon, A.Md, serta diketahui Wakil Ketua DPRD Kota Batam Aweng Kurniawan.
“Benar,” jawab Muhammad Rudi membenarkan agenda RDP tersebut saat dikonfirmasi BatamNow.com melalui WhatsApp, Minggu (13/09/2026).
Warga Terpaksa Begadang Menunggu Air Mengalir
Bengkong Pertiwi menjadi salah satu wilayah yang terdampak gangguan suplai Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) jaringan perpipaan.
Warga mengaku sudah hampir sebulan harus menunggu hingga dini hari agar air mengalir ke rumah mereka.
Sebagian warga bahkan mengaku mulai jenuh melaporkan gangguan pelayanan yang terjadi.
“Sudah jenuh kami melaporkan terkait gangguan ini, lebih capek melaporkan gangguan air dari pada begadang menunggu airnya,” ujar salah seorang warga RT 04/RW 16 kepada BatamNow.com.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya yang mengaku sudah jenuh dengan jawaban dari BP Batam maupun PT Air Batam Hilir (ABHi).
Menurut warga, bantuan air melalui mobil tangki juga belum bisa diandalkan karena mereka harus menunggu tanpa kepastian waktu.
“Saat kami minta bantuan air tangki pun disuruh menunggu dengan waktu yang tak pasti kapan datangnya. Alasan mereka selalu sama, ‘mohon bersabar, lagi antre’. Itu terus jawabannya,” kata warga tersebut.
Hingga Minggu (13/09/2026), warga menyebut air dari jaringan perpipaan baru mengalir sekitar pukul 01.00 WIB hingga 05.00 WIB. Setelah itu, aliran kembali terhenti.
Kondisi tersebut membuat warga khawatir terhadap kesehatan mereka. Pasalnya, pada siang hari mereka tetap harus beraktivitas dan bekerja, sementara pada malam hari harus terjaga untuk menunggu air mengalir.
“Kami mulai khawatir dengan kesehatan masing-masing. Tiap malam kami harus rela menahan kantuk untuk menunggu air mengalir,” ujar warga lainnya.
Warga juga mempertanyakan imbauan agar tetap tenang dan kondusif di tengah kondisi sulit mendapatkan pasokan air secara normal.
“Kalau begini terus, sampai kapan warga bisa kondusif seperti ini? Kami merasa tersiksa kalau keadaan terus seperti ini,” katanya.
Warga terdampak berharap RDP yang digelar DPRD Kota Batam dapat menghasilkan solusi konkret atas persoalan suplai air yang mereka alami.
“Semoga saja ada hasil rapat besok, soalnya kami sudah tidak tahan dengan keadaan seperti ini,” kata warga. (A)
