Opini oleh :Omrad
Agaknya, gerakan spontan Wali Kota Batam Muhammad Rudi “bersama melawan Corona”, baru pertama di Indonesia.
Apalagi setelah seorang perempuan (warga Batam) positif terinfeksi Covid-19, sebagaimana diumumkan, Kamis (19/3/2020).

Pasien positif Covid-19 yang sekarang dirawat intensif di Rumah Sakit (RS) Embung Fatimah, di sini.
Seakan kecolongan karena, Rudi, sampai Rabu (18/3/2020), masih optimis kalau warga kota ini masih nihil terinfeksi.
Genderang Perang Ditabuh
Ibarat menabuh genderang perang, dia lalu ber- “maklumat” Kamis (19/3/2020).
Akan mengerahkan tim 4000 orang turun langsung ke lapangan.
Tim besar ini akan menyisir langsung 60 orang yang masuk catatan, setelah terdeteksi closed Contact dengan 1 pasien positif Covid-19 itu.
Tujuan lain gerakan serentak ini, nanti, sekaligus melakukan screening deteksi dini mengetahui indikator utama sudah seperti apa kegawatdaruratan Batam.
Tim ini akan turun setelah baju safety standart kesehatan WHO, anti wabah virus Corona, tersedia.
Mengerahkan 4000 orang, bukan jumlah yang sedikit. Pun bukan pekerjaan gampang. Apalagi mengeluarkan banyak energi.
Tampak begitu waspadanya, Rudi dan semua stakeholder Batam. Mewanti-wanti kemungkinan terjadinya teori deret hitung terinfeksi positif.
Mari Bahu-membahu
Kita memang tak boleh berpasrah diri atas virus Corona yang tengah mengancam.
Support moral bagi seluruh tenaga kesehatan yang berjuang menelamatkan nyawa dari serangan virus Covid-19, wajar digaungkan.
Semua warga Batam dan pihak-pihak terkait, mesti ikut bahu membahu memberi support atas ajakan Rudi sebagai wali kota.
Rudi memang seakan tak pasrah melihat warganya seorang pun terinfeksi pandemi Corona ini. Itu terlihat karena tongkat Komando Gugus Tugas penanggulangan virus Corona yang dia ambil alih dari wakilnya Amsakar.
Dia akan memimpin upaya penanggulangan ini secara langsung. Gayung bersambut, support pun datang dari para pengusaha lewat Apindo, PSMTI dan Yayasan Buddha Tsu Chi- Batam.
Bukan hanya semangat perlawanan yang tergerak, bahkan bentuk nyata berupa materi sebesar Rp 6,470 Miliar, sudah terkumpul dari para pengusaha.
Dana ini akan segera digunakan, paling tidak, mengupayakan pengadaan Sar-COV 2 Strep sebanyak 500 buah, Rapid Test sebanyak 1000 buah, APD 500 pieces, dan N-Cov test sebanyak 1.000 buah.
Termasuk yang utama pembelian mesin Polymerase Chain Reaction (PCR). Mesin pendeteksi COVID-19 yang memang saat ini belum dimiliki Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Batam.
Gerakan ini memang spesifik dan satu-satunya gerakan “deteksi dini” di Indonesia, dengan cara jemput bola ke tengah warga.
Satu gerakan moral yang sungguh luar biasa, yang patut diapresiasi demi melawan Corona.(*)
