Catatan Tim News Room BatamNow.com
Dua nama pulau di judul atas sengaja dibalik dari penyebutan selama ini.

Tim redaksi media ini sepakat penulisan nama jembatan dimaksud dengan frasa seperti itu. Tentu, khusus di kalangan sendiri.
Dasar pemikirannya, bagaimana jika penyebutan dari aspek geografinya diawali dari pulau terbesar dan sekaligus tempat Ibu kota Provinsi Kepri itu. “Bintan-Batam”.
Toh frasa atau penyebutan selama ini bukan hal yang baku, apalagi di kamus Lembaga Bahasa.
Ini bagian dari kontribusi kecil dari satu pemikiran tegak lurus saja. Sama sekali tak bernuansa politis. Pun ide itu tak lahir dari terawangan uka-uka, takhayul apalagi.
Juga tak bermaksud mendikotomi antara Bintan dengan Batam dari aspek mana pun. Batam sudah punya jembatan yang ikonik: Jembatan Batam-Rempang-Galang (Barelang).
Dan frasa di judul di atas tak bermaksud menyinggung ungkapan William Shakespeare “apalah arti sebuah nama”. Meski NAMA, sering diyakini mengandung arti dan makna. Bahkan nama adalah doa bagi sebagian orang.
Rencana Jembatan Bintan-Batam, kekinian panas dibahas. Baik di jajaran petinggi pemerintahan pusat, terlebih di Provinsi Kepri.
Rencana proyek yang sebenarnya larut dalam rencana. Dari periode ke periode kepemimpinan di daerah ini.
Namun Gubernur Kepri Ansar Ahmad, tampaknya tampil beda. Ia sangat optimis rencana proyek itu melangkah jauh lebih maju.
Gubernur yang baru dilantik Februari lalu itu sangat yakin pembangunan proyek fisik jembatan spektakuler itu dimulai pada tahun 2022.
Ansar berpegang, salah satunya pada janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke masyarakat Kepri. Janji yang menyetujui rencana proyek jembatan berbiaya sekitar Rp 8 triliun itu.
Sebaliknya, rakyat Kepri sangat berharap jembatan ini bisa terwujud di masa pemerintahan Jokowi.
Jangan sampai proyek “PHP”.
Kekhawatiran seperti itu selalu mengundang. Itu pun bukan tanpa alasan.
Misalnya nih, jika melihat rilis tentang mata anggaran rencana pembangunan jembatan dengan taksiran biaya Rp 8 triliun itu yang tidak masuk dalam Major Project atau proyek prioritas strategis di APBN 2022.
Lalu anggaran pembiayaannya dari mana?
Dulu, janjinya lewat APBN. Rupaya Menteri PUPR justru memutar dengan skema lain.
Katanya kemudian, Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), juga ditambah dari APBN. Tapi dana APBN pun bersumber dari skema pinjaman lunak luar negeri (LN) itu juga. Begitu ditulis media.
Ada juga stakeholder di Kepri menyebut pendanaannya dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) atau Bank Investasi Infrastruktur Asia. Bank yang terdiri dari 100 negara Asia dan berpusat di Beijing, Tiongkok yang kini tengah krisis likuiditas dari Evergrande efek.
Kembali ke wacana skema anggaran ini. Sedari awal kerap seakan mengiba ke Tiongkok.
Ini mengingatkan pada kondisi jauh sebelumnya. Dimana pendanaan “jembatan” ini dirancang dari kerja sama dengan China Communications Constructions Company Ltd. (CCCC).
Itu, kala Nurdin Basirun di singgasana Gubernur Kepri, yang juga kebelet dengan wacana pembangunan Jembatan Bintan-Batam itu.
Ia, saat itu, pede banget dengan pinjaman LN itu. Nurdin sempat menyebut sudah lampu hijau dari Tiongkok.
Padahal jangankan itu, dari sudut keterlibatan konsultan independen Tiongkok, pun sama sekali belum melakukan studi kelayakan rencana proyek itu.
Mimpi Nurdin, dulu, membangun jembatan itu sepaket dengan mimpi membangun Pelabuhan Kontiner di Tanjung Sauh, Batam.
Apa jadi? Mimpi tinggal mimpi. Kerja sama dengan Tiongkok berakhir “bongkok”, hingga Nurdin berangkat “sekolah”.
Ups, tulisan ini lelap mengulas rencana pembiayaan oleh pemerintah pusat.
Bagaimana sebenarnya kesiapan di Pemprov Kepri?
Meski Ansar berapi-api, namun katanya, masih ada persyaratan teknis dari rencana proyek jembatan itu masih harus dituntaskan. Makjang!
Masih harus diselesaikan pembebasan lahan. Juga akan penyelesaian DED izin lingkungan, Andalalin, AMDAL.
Itu disampaikan Cen Sui Lan, anggota Komisi V DPR RI dari dapil Kepri ini ke media dan dia sekaligus mengingatkan pihak Pemprov Kepri.
Begitu peliknya episode mimpi membangun tol jembatan ini.
Di era 90-an, Ketua Otorita Batam (OB) BJ Habibie yang perdana merencanakan jembatan itu. Anda sudah tahulah kapasitas BJ Habibie di negara ini. Saat itu. Pun kemampuan keahliannya. Ia sebagai engineer sejati jebolan Jerman.
Visinya hampir sama dengan rencana kekinian. Bagi BJ Habibie, dulu, kehadiran infrastruktur jembatan ini menjadi dambaan. Dengan sarana “jembatan” itu dapat mendorong, mempercepat pengembangan perekonomian wilayah industri Bintan, bersinergi dengan Free Trade Zone (FTZ ) Batam yang dipisah laut itu.
Dulu, BJ Habibie merancang Bintan dengan industri padat karya, sementara di Batam dengan industri padat modal alias high tech.
Syahdan, kala BJ Habibie mendengungkan rencana pembangunan jembatan ini, polemik muncul ditengah masyarakat. Riuh.
Pemicunya bukan soal pembiayaan proyek di era Presiden Suharto itu.
Riuh karena masyarakat mempermasalahkan penyebutan Jembatan Batam-Bintan, apalagi jika disingkat Babin.
Banyak pihak yang tak setuju, apalagi dengan singkatan itu. Takut dipelesetkan. Sensitif.
Kemudian, waktu pun berlalu. Era pun berganti. Rencana proyek jembatan bak hilang terbawa angin, seperti lirik lagu lawas Nike Ardilla itu.
Lalu, di era Ismeth Abdullah sebagai Ketua OB sampai menjabat gubernur di sini, kembali melempar rencana proyek itu. Lagi-lagi, hingga Ismeth “sekolah”, sebelum Nurdin, mimpi jembatan itu tinggal mimpi.
Pun di periode gubernur lain, larut dengan angan yang sama.
Di masa Muhammad Sani, Nurdin Basirun, Isdianto dan Bahtiar (Pjs Gubernur Kepri), “setali enam mimpi”.
Kini, asa di tangan Ansar. Rakyat Kepri menanti perjuangannya. Rakyat men-support upaya kerja kerasnya. Berharap dengan hokkie dan tangan dinginnya.
Moga-moga Feng Shui ber-energi positif menghalau energi negatif yang mengombang-ambing selama ini.
Atau bila diperlukan pencanangan titik koordinat tiang pancang rencana fisik jembatan itu, sekalian saja diulang dari Pulau Bintan.
Manalah tahu dengan momen pencanangan ulang dan dengan membalik frasa dimaksud dapat memberi spirit atau energi positif baru, demi terwujudnya jembatan Bintan-Batam yang dinanti itu.
Akh, ada-ada saja. Tulisan “Selayang Pandang”. Jikalau di buang, sayang.(*)
Emile Boirac tahun 1876 seorang Psikolog asal Prancis pernah mengeluarkan istilah ” Deja-vu”.
Para Gubernur Kepri di jaman nya mungkin merasakan Dejavu saat itu.
Hanya Tuhanlah yg tau apakah jembatan itu jadi atau tdk nanti di Bangun.
Kt liat saja Nanti mudah2an jadi walau pem bangunannya makan waktu lama yg penting terlaksana dan jadi buat apa d sibukkan