Catatan Redaksi BatamNow.com
Lengkaplah sudah nasib Jembatan Tengku Fisabililah yang biasa disebut Jembatan 1 Barelang ini.

Jembatan ikon Batam ini, selain menjadi destinasi wisata lokal, suka tidak suka stigma horor jembatan ini kini semakin menjadi-jadi.
Tak jarang jembatan sepanjang 642 meter ini dijadikan orang tempat bunuh diri dengan cara melompat ke laut dari ketinggian jembatan hampir 40 meter ini.
Entah sudah berapa orang yang menghabisi nyawanya di sana. Selain tempat bunuh diri, di atas jembatan ini juga sering dijadikan tempat parkir mobil hingga tempat nongkrong para geng motor yang kerap membuat onar. Padahal standar atau protap pengamanan jembatan ini tidak membenarkan itu.
Perebutan parkir kendaraan antara preman sering terjadi di sana. Tak dapat dinafikkan tarif parkir pun merangkak naik dipalak para preman.
Jembatan nan mahal ini sekarang memang sangat tidak terkontrol. Entah siapa yang bertanggung jawab atas keamanan jembatan ini. BP Batam seakan tak mampu menanganinya.
Semakin menjadi-jadi karena para oknum TNI AL dan AD baku pukul alias “tawuran” pada malam minggu lalu (27/11/2021).
Biasanya para preman baku pukul memperebutkan sesuatu.
Kepala Dinas Penerangan Korps Marnir Kolonel Gugun SR membenarkan kejadian itu.
“Tindakannya sangat tidak terpuji yang membuat citra buruk TNI,” kata Gugun saat dihubungi Suara.com, Senin (29/11).
Gugun mengatakan kalau kasus itu sudah dilimpahkan ke Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal). Selain memeriksa oknum, pihak Pomal juga akan menyelidiki penyebab terjadinya adu jotos tersebut.
Lalu apa yang diperebutkan para oknum itu di sana?
“Tentunya penyebabnya akan diselidiki terkait siapa yang benar yang salah,” ujarnya.
Nasib Gugusan Barelang Jauh dari Rencana Habibie?
Gugusan Jembatan Barelang terdiri dari enam jembatan dan Jembatan 1 yang bertipe cable-stayed (kabel pancang) inilah yang terpanjang dan terbesar.
“Saya selalu ditanyain para investor, luasan mana Singapura dengan Batam?” kata BJ Habibie dalam satu acara di Batam.
Memang luas Pulau Batam sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ), ketika itu hanya sekitar 2/3 dari luas Singapura.
Demi menarik minat para investor, BJ Habibie pun memperluas dan melebarkan kawasan FTZ hingga ke Rempang, Galang dan sekitarnya. Membangun enam jembatan yang merupakan obyek vital untuk menyatukan pepulau itu.
Total biaya pembangunan 6 Jembatan Barelang senilai Rp 278 miliar. Jembatan I Rp 88,1 miliar, Jembatan II Rp 56 miliar, Jembatan III Rp 22,1 miliar, Jembatan IV Rp 43,2 miliar, Jembatan V Rp 52,6 miliar dan Jembatan VI Rp 16 miliar. Itu pada tahun 90-an.
Praktis luas kawasan FTZ yang ditawarkan BJ Habibie ke investor melebihi luas Singapura.
Lantas berduyunkah investor masuk ke Rempang dan Galang (Relang)?
Nasib gugusan Relang ini sekarang, lebih dominan dijejali para penggarap lahan.
Gugusan Barelang tak jarang pula menjadi basis peyeludup barang-barang impor. Demikian juga BBM seludupan ekspor dan lainnya.
Status hukum lahan seluas hampir 300 km2 itu, kini abu-abu. BP Batam hingga kini belum memiliki Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dari Kantor Kementerian ATR/ BPN.
Padahal sejumlah bangunan permanen dari industri pengolahan limbah hingga tangki minyak berdiri kokoh di sana.
Selain stigma horor, sebagian pulau-pulau di sana menjadi “basis mafioso”.
Kondisi seperti digambarkan di atas selain sangat memprihatinkan dan jadi mengusik kenyamanan kalbu para warga tempatan kampung tua yang sedari dulu hidup dan berkehidupan di sana.
Tentu jika kondisi digambarkan di atas tidak segera diatensi pemerintah maupun BP Batam, jangan terkejut bila ke depan diberi stigma lain lebih negatif lagi, sebagai kawasan mafioso. (*)