BatamNow.com, Jakarta – Pelabuhan kargo Batu Ampar sangat tak layak dijadikan pelabuhan pelayanan penumpang Pelni.
Sarana dan prasarana yang minim, bahkan bisa dikatakan tidak layak untuk sebuah terminal penumpang di pelabuhan, membuat pengguna transportasi laut hanya bisa mengurut dada, meski terasa sesak.
Hal tersebut kembali terlihat ketika 2.600 penumpang berjubel untuk berangkat mudik ke Belawan, Sumatera Utara, dengan KM Kelud beberapa hari lalu.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Biro (Kabiro) Humas, Promosi dan Protokol BP Batam Ariastuty Sirait mengakui bahwa Pelabuhan Batu Ampar memang didesain untuk pelabuhan kargo, dan terus dikembangkan untuk melayani kegiatan ekspor-impor internasional juga domestik.
Dia sepertinya enggan menjawab pertanyaan terkait kesemrawutan yang terjadi di terminal penumpang Batu Ampar. Dia hanya menjelaskan, “Kegiatan Kapal Pelni direncanakan akan dipindahkan ke (Pelabuhan) Bintang 99. Rencananya di pertengahan tahun 2022”.
Saat ini, kata Ariastuty kepada BatamNow.com, progres pembangunan sedang berjalan terus, dan koordinasi antar-pihak terus dilakukan.
Soal pengembangan Pelabuhan Batu Ampar sendiri, Ariastuty mengatakan, pengembangannya terus dilakukan dengan 3 tahap. “Tahap pertama periode 2021-2025, tahap kedua 2026-2030, dan tahap ketiga 2030-2040 dengan ultimate design mencapai 6,7 juta TEUs [twenty-foot equivalent units],” tuturnya.
Sementara itu, dalam keterangannya pasca mengunjungi Pelabuhan Batu Ampar, Rabu (27/04) lalu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta agar pengembangan dan penataan Terminal Batu Ampar menjadi fokus Badan Pengusahaan (BP) Batam guna mendukung roda perekonomian Batam khususnya serta nasional.
Pindah dari Sekupang
Awalnya, terminal penumpang di Batam ada di Pelabuhan Sekupang. Namun, dalam kunjungan kerja ke Batam, saat meninjau kesiapan pelabuhan menyambut Lebaran tahun 2016, Menteri Perhubungan (kala itu) Ignasius Jonan, melihat realitas bahwa Pelabuhan Sekupang tidak layak menjadi terminal penumpang.
“Saya nilai kondisi terminalnya saat ini belum layak. Ini gudang. Saya minta terminal domestik Pelabuhan Sekupang agar Senin nanti (20/06/2016) dipindah ke Pelabuhan Batu Ampar,” tegas Jonan.
Saat itu, Menhub Jonan mendapati kondisi atap terminal penumpang di Sekupang bocor dan lantainya hanya terbuat dari coran semen.
Untuk mengantisipasi terjadinya penumpukan penumpang di Batu Ampar karena pengalihan penumpang domestik dari Pelabuhan Sekupang, Menhub Jonan meminta pihak pelabuhan untuk menyiapkan tenda bagi penumpang.
Enam tahun sudah berlalu, namun hingga kini penumpang di Batu Ampar saat menunggu naik ke kapal pun hanya ditudungi oleh tenda. Apakah dalam 6 tahun tidak ada upaya memperbaiki terminal penumpang di Pelabuhan Batu Ampar? Atau jangan-jangan memang sengaja dibuat demikian?
Menjadi pertanyaan, apakah selama 6 tahun tidak ada upaya dari BP Batam melalui BUP untuk memberi kenyamanan dan kondisi yang lebih layak bagi warga yang menggunakan transportasi laut melalui Pelabuhan Batu Ampar?
Rencana perpindahan terminal penumpang ke Bintang 99 pun masih menyisakan tanya, apakah di Pelabuhan Bintang 99 yang notabenenya milik swasta itu kondisi akan lebih baik? Atau sebaliknya, ibarat keluar dari mulut buaya masuk mulut harimau. Kasihan warga Batam kalau begitu terus menerus. (RN)

