Rentetan Tragedi Bunuh Diri di Jembatan Barelang, Sampai Kapan? - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Rentetan Tragedi Bunuh Diri di Jembatan Barelang, Sampai Kapan?

by Junpa Siregar
12/Nov/2020 16:07
Rentetan Tragedi Bunuh Diri di Jembatan Barelang, Sampai Kapan?

Jembatan I Barelang. (F: BestWesternIndonesia)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Tidak hanya Netti Batubara yang mengakhiri hidup dengan cara menerjunkan dirinya dari Jembatan I Barelang.

Banyak “Netti” lain menempuh cara yang tak pantas ditiru itu.

Entah mengapa, beberapa korban manusia di Batam menjadikan Jembatan Tengku Fisabilillah sebagai “tiang gantungan”. Dan kejadian seperti itu, tampaknya, menjadi satu trend negatif dan tragis.

Dari landasan jembatan di ketinggian lebih kurang 30 meter dari permukaan laut itu, entah sudah berapa orang yang melompat menceburkan dirinya ke laut. Mati.

Belum terkonfirmasi, jangan-jangan dari mereka sebenarnya tidak semua yang dengan sengaja bunuh diri. Bisa jadi akibat kelalaian.

Ada korban, beberapa hari baru ditemukan setelah terjatuh. Ada yang tenggelam digulung arus laut dan sebagainya.

Dan memang alam laut di sana berbahaya bila seseorang melompat dari atas jembatan terjun ke bawah. Apalagi bagi yang tak bisa berenang.

Arus air laut di bawah jembatan nan megah itu, memang lumayan deras. Arus deras itu langsung menyedot setiap benda yang jatuh dari jembatan. Dan kedalaman lautnya yang lumayan.

Lalu mengapa sesederhana dan segampang itu keputusan pikiran setiap korban melakukan aksi mautnya di jembatan itu? Adakah daya magis alam di sana yang mempengaruhi nalar manusia?

Fakta di lapangan dan secara akal sehat, lingkungan alam laut di sana memang riskan dan berbahaya karena ketinggian jembatan dari permukaan laut tadi.

Andaikan seseorang terjun dari jembatan lain digugusan trans Barelang itu, belum tentu setragis atau sebahaya di lingkungan alam jembatan terbesar dari enam jembatan itu.

Dan tampaknya, hal itu memang belum pernah terjadi. Setiap kabar ada korban terjun bunuh diri atau jatuh karena lalai, fakta kejadiannya masih di Jembatan I.

Sehingga jembatan ikon Batam itu, selain favorit sebagai destinasi wisata, kini mendapat julukan miring, “favorit bagi setiap orang yang mengakhiri hidupnya di sana.”

Jembatan yang dibangun tahun 1997 dengan biaya ratusan miliar rupiah itu, selalu ramai pengunjung, terutama pengunjung lokal di saat hari libur.

Kondisi dan suasana di seputaran jembatan itu nyaris tak ada pengawasan, apalagi larangan keras secara formal dari pemerintah maupun BP Batam sebagai penguasa jembatan.

Tak jarang deretan bermacam kendaraan, leluasa terparkir dua arah di atas jembatan dengan konstruksi cable stayed atau jembatan kabel cekung mengantung itu.

Ratusan orang, apalagi di saat pengunjung ramai, memadati jembatan selebar sekitar 20 meter itu.

Padahal tak jauh dari jembatan itu, kalau tak salah, ada kantor Direktorat Pengamanan (Ditpam) Badan Pengusahaan (BP) Batam dengan beberapa anggotanya.

Menurut seorang ahli konstruksi jembatan, kondisi kesembronoan pengunjung seperti itu sebenarnya tidak dibenarkan. Itu harus dilarang.

Jembatan dengan konstruksi kabel-kabel sebagai penggantung yang menghubungkan gelagar dengan menara itu bukan area lalu lalang orang.

Pengunjung harusnya berada di area yang agak jauh di kedua ujung jembatan. Dan para pengunjung tak dibenarkan leluasa sampai di bahu, apalagi di tepi jembatan.

Ia katakan, bukan karena faktor model dan spesifikasi jembatan itu yang menggantung. Tapi jamak di dunia, jembatan sekelas itu prioritasnya hanyalah untuk lalu lintas kendaraan.

Bahwa jembatan itu terbiarkan menjadi area dan subyek pemandangan, duduk-duduk, swafoto beramai-ramai, apalagi dengan kendaraan terparkir, itu masalah besar, kata seorang ahli jembatan.

Jembatan sepanjang 450 meter itu mulai ujung ke ujung harusnya dilarang menjadi “pasar” dan area parkiran kendaraan dan orang.

Selain larangan bagi pengunjung, sebagai antisipasi ke depan, bagian tepi jembatan kiri-kanan sudah seharusnya dimodifikasi dengan meningkatkan bagunan pagar pengaman jembatan (guard rail).

Ini juga mengingat berbagai kejadian yang tragis itu.

Kondisi selama ini, sejak jembatan itu dibangun semasa BJ Habibie, 23 tahun lalu, agaknya, belum ada peningkatan apa-apa khusus dari aspek pengamanan dari konstruksi fisik jembatan.

Fakta di lapangan tak sedikit orang bebas duduk persis di tepian landasan jembatan kiri-kanan dengan jurang ke laut. Pun kala malam hari. Apalagi tanpa lampu penerangan yang tak maksimal.

Terkadang ada juga anak-anak muda lomba terjun dari jembatan.

Kondisi konstruksi pipa stager tepi kiri-kanan jembatan bisa dengan mudah dilangkahi orang, lalu mengambil posisi duduk berleha di tepi jembatan.

Padahal, ada Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) RI No 82 Tahun 2018 yang mengatur tentang alat pengendali pengguna jembatan.

Enam jembatan yang dimimpikan BJ Habibie seyogianya dapat meningkatkan investasi di Pulau Rempang, Galang dan Galang Baru, dipastikan gagal total.

Ratusan miliar dana (sekarang bisa mencapai triliunan) negara tersedot membangun enam jembatan yang menghubungkan tujuh pulau di sana.

Kawasan itu kini, selain basis penyeludupan berbagai komoditas barang ekspor impor, BBM, juga jadi “ngetop” karena cerita peristiwa bunuh diri.

Kita tak berharap sedikitpun, kelak jembatan Barelang I menjadi jembatan horor seperti “Si Manis Jembatan Ancol”.

Negara, pemerintah, pun BP Batam ke depan mesti berupaya meminimalisasi kejadian-kejadian tragis itu dengan meningkatkan aspek pengamanan.

Jembatan Fisabilillah ini, harus dijadikan jembatan yang harus dikagumi bukan saja hanya dari konstruksinya.

Tapi dari aspek kearifan lokalnya. Jembatan ini harus menjadi jembatan penghubung atas dinamika kehidupan manusia meraih masa depannya.

Masihkah pemerintah di Batam dan BP Batam berdiam diri atas tragedi kemanusiaan bunuh diri dan akibat kelalaian di Jembatan Barelang ini?(JS)

Berita Sebelumnya

Gugatan Pailit Ace Hardware Dicabut, Sidang Gugatan Baliknya Dimulai

Berita Selanjutnya

Netti Dikebumikan di Sei Temiang

Berita Selanjutnya
Ibu Bunuh Diri di Jembatan I Barelang Positif Covid-19. Pihak Keluarga Menolak Keras dan Minta Bantuan PBB

Netti Dikebumikan di Sei Temiang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com