BatamNow.com, Jakarta – Princeton Digital Group (PDG), perusahaan penyedia pusat data terkemuka di Asia, mengumumkan nilai investasi awal yang ditanamkan di Nongsa Digital Park (NDP), Batam, Kepri, senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 15 triliun (kurs Rp 15.000/US$).
Nantinya, di atas areal seluas 15 hektare akan dibangun gudang pusat data yang terdiri dari empat gedung dengan kapasitas masing-masing hingga 24 MW, sehingga total 96 MW untuk seluruh kapasitas.
“Dengan investasi ini akan memungkinkan pelanggan untuk memperluas infrastruktur mereka dengan mulus dari Singapura ke kampus pusat data yang skalanya dapat ditingkatkan di Singapura, Batam, dan Johor,” kata PDG yang berpusat di Singapura dalam keterangan persnya, Selasa (21/02/2023).
Dijelaskan, dengan perluasan bisnis ini, PDG berharap seiring tingginya penetrasi teknologi, akan membuat bisnis layanan pusat data dalam negeri semakin kompetitif, dengan sejumlah perusahaan lain, lokal maupun luar yang kini telah berebut pangsa pasar yang ada.
Disampaikan, sesuai laporan yang diterbitkan oleh Google, Temasek Holdings, dan Bain & Co., bahwa Asia Tenggara merupakan rumah bagi induk Shopee Sea Ltd hingga Grab dan GOTO, di mana ekonomi digitalnya diperkirakan akan tembus US$ 330 miliar di 2025.
“Penetrasi tinggi dan cepat pada adopsi seluler dan layanan digital menciptakan peningkatan permintaan baru untuk infrastruktur dan layanan komputasi awam. Persyaratan lokalisasi data di seluruh kawasan Asia Tenggara juga ikut memicu permintaan akan pembangunan sejumlah pusat data baru,” sebut PDG.
Sejauh ini, Pemerintah Indonesia telah menetapkan Nongsa sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk ekonomi digital dan pariwisata. Presiden Jokowi bahkan melukiskan Nongsa dan Batam sebagai “jembatan digital” antara Singapura dan Indonesia, karena permintaan akan talenta teknologi, listrik berkelanjutan, lahan untuk mengembangkan pusat data dan kapasitas akan terus meningkat.
Melalui kehadiran KEK Nongsa Digital Park ini, kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, diharapkan dapat menghemat devisa negara dalam bisnis digital hingga Rp 20 – 30 triliun per tahun dengan kontribusi terbesar dari sektor data center dan pendidikan internasional. (RN)

