BatamNow.com – Sejumlah pohon jati emas (Cordia subcordata) yang ditanam sejak 24 Agustus 2022 di sepanjang tepi jalan arteri di Batam, kini hancur berantakan, bahkan banyak yang punah.
Ada yang terkulai di gundukan tanah. Ada yang seperti merana di tebing gundukan tanah bekas pelebaran jalan arteri itu.
Terlihat hak hidup sejumlah pohon jati emas yang berderet di sepanjang buffer zone, yang sedang dikerjakan, sangat terganggu. Bahkan terlihat banyak yang mulai kering kerontang.
Paling tidak kondisi itu dapat dilihat di sepanjang tepi Jalan Sudirman mulai dari fly over Laluan Madani ke arah Bandara Hang Nadim, Batam.
Padahal pohon jati emas ini tadinya dibanggakan Wali Kota Batam ex-officio Muhammad Rudi, sebagai bagian dari program penghijauan dan penataan kota yang berkesinambungan.
Muhammad Rudi kala berbicara atas kebijakan penghijauan tersebut, justru meminta publik untuk ikut menyukseskan program penghijauan kota ini lewat penanaman pohon jati emas itu.
Rudi juga meminta masyarakat ikut bekerja sama merawat hidup pepohonan yang seremoni penanamannya oleh Muhamamad Rudi sendiri.
Namun sangat ironis jika melihat fakta di lapangan. Sangat bertolak belakang dengan “pencitraan” yang dibangun Muhamamd Rudi. Sejumlah pohon jati emas itu kini hidupnya diganggu oleh aktivitas pembangunan pelebaran jalan arteri.

Pantauan BatamNow.com di lapangan, sebenarnya kondisi sejumlah pohon jati emas itu masih butuh perawatan karena masih kecil.
Namun entah mengapa banyak pepohonan yang masih berusia dini itu terkulai dan banyak yang tertimbun gundukan tanah galian/timbunan eks pelebaran jalan itu.
Muhammad Rudi sendiri, —sehemat redaksi media ini, belum memberi komentar apa-apa atas nasib deretan pohon jati emas yang kerap “dikampanyekan” itu.

12 Ribu Pohon Ditanam, Sumber Dananya CSR Perusahaan Batam
Jauh sebelumya, sebagaimana dilansir media mainstream, Muhammamd Rudi mengklaim telah menanam sekitar 12 ribu pokok pohon bibit jati emas. Utamanya di tepi jalan besar di Pulau Batam.
Rudi mengakui bahwa program penanaman pohon jati emas itu tidak dibiayai oleh APBN maupun anggaran daerah, kecuali dikumpulkan dari Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial 43 perusahaan di Batam dalam Program Green 2022 Pohon Jati Emas.
Belum diperoleh data seberapa banyak rupiah dari CSR perusahaan swasta yang terkumpul untuk biaya penghijauan itu.
Apakah penghijauan itu hanya sebagai bukti simbolis kepada pemberi CSR? Ini menjadi tanya besar.
Tapi bagaimanapun, sangat disayangkan di saat pepohonan itu mulai berkembang, malah sebagian dimusnahkan oleh aktivitas pelebaran jalan yang pengerjaannya juga di bawah perintah Muhammad Rudi.
Sebagaimana dikutip dan dihimpun redaksi BatamNow.com banyak pihak menyayangkan dan sangat prihatin dengan kondisi ini.
Banyak juga yang mencibir bahwa kondisi itu dapat mempermalukan karena Muhammad Rudi sendiri dinilai seperti ambigu, dan kebijakannya dianggap membingungkan.
Banyak juga yang menyebut telah terjadi pembohongan publik di balik punahnya sejumlah pohon jati emas itu.
Alasan dasar argumentasi mereka, di satu sisi Muhammad Rudi mengajak masyarakat untuk mendukung program penghijauan itu, namun di saat pepohonan kecil itu butuh perawatan malah diobrak-abrik oleh pelaksana proyek pelebaran jalan.
Adapun proyek pelebaran jalan arteri sepanjang jalan di Batam adalah proyek BP Batam dan Pemko Batam yang “dikomandoi” oleh Muhammad Rudi sendiri.
Belum didapat penjelasan dari pelaksana proyek mengapa pepohonan yang masih kecil itu, diganggu hak hidupnya bahkan banyak yang punah.
Apakah kondisi yang terjadi sudah sepengetahuan Muhammad Rudi atau memang tindakan sepihak dari pelaksana proyek sehingga pepohonan yang digadang-gadang Muhammad Rudi, kini berantakan?
Bukan saja hanya nasib pepohonan jati emas itu yang disayangkan banyak pihak, namun kebijakan di pusaran antara penanaman pohon jati emas dengan pelebaran jalan yang dinilai amburadul. (*)

