BatamNow.com – Sejak 15 November 2020, PT Moya Indonesia menggantikan PT Adhya Tirta Batam (ATB) mengelola Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Batam.
PT Moya kini menyediakan Call Centre (CC)150155 sebagai layanan pelanggan lewat Interactive Voice Response (IVR).
Dengan menekan tombol ekstensi di keypad handphone, misalnya, pelanggan dapat jawaban otomatis.
“Ini terobosan kami dalam layanan pelanggan,” kata Corporate Communucation Manager PT Moya Astriena Veracia dalam satu acara podcast salah satu media lokal, Selasa (17/11/2020).
Padahal teknologi seperti ini sudah jamak dan cukup lama diterapkan di era kemajuan digitalisasi sekarang.
Penggunaan layanan CC ini, ternyata dengan berbayar.
Kepala Biro Humas, Promosi dan Protokol BP Batam Dendi Gustinandar membenarkan itu.
“Benar biaya call dibayar pelanggan,” ucap Dendi ke BatamNow.com, Kamis (19/11/2020).
Untuk membuktikan sistem baru layanan air minum ini, awak BatamNow.com, Kamis (19/11/2020), menghubungi CC 150155 dengan “password” nomor pelanggan air.
Ketika dihitung biaya percakapan untuk durasi 1 menit 37 detik, tercatat Rp 3.600.
Itu baru hanya mengakses informasi total tagihan rekening air saja.
Diteruskan ke ekstensi lain dengan durasi 3 menit, biayanya menjadi Rp 7.000 lebih.
Biaya itu muncul atas percakapan pelanggan kategori rumah tangga golongan A.
Bila dihitung biaya rata-rata pemakaian per m3 harga progresif golongan A dengan volume pemakaian 27 m3 atau Rp 97.850, maka harga per m3 Rp 3.624.
Biaya percakapan di CC itu Rp 7.000, setara dengan 2 m3 kubik air. Biaya sebesar itu untuk percakapan sekilas info air.
Agaknya biaya layanan berbayar ini relatif memberatkan bagi pelanggan.
Bila CC tetap berbayar, dikhawatirkan berakibat pada keengganan pelanggan menghubungi nomor tesebut.
Ini bisa berujung pada kesulitan mendapatkan informasi air yang valid oleh pelanggan air minum.
Apalagi di masa transisi peralihan pengelola air dari ATB ke PT Moya/ BP Batam yang dinilai sangat minim informasi bagi pelanggan.
Dan agaknya pelanggan yang menjadi kalut.
Misal kepastian informasi akan beralihnya tujuan rekening pembayaran air minum.
“Terhitung 1 Desember 2020, tujuan pembayaran rekening air berlalih ke rekening BP Batam,” kata Dendi.
Tentang peralihan tujuan rekening pembayaran air ini memang agak simpang-siur dan bisa membingungkan pelanggan.
Karena beda lagi keterangan Astriena, dimana tujuan pembayaran rekening pemakaian air sejak 1 Desember 2020 beralih ke rekening PT Moya sebagai pengelola SPAM.
Sekitar 230 ribu pelanggan air di Batam butuh informasi air minum ini. Apalagi atas berbagai kebijakan baru dari pengelola.
Kondisi ini muncul karena pengelola transisi SPAM masa enam bulan ke depan adalah pengelola baru.
Sementara informasi air minum dari BP Batam maupun PT Moya, dinilai kurang masif dan transparan.
Hendaknya hal ini disikapi secara bijak oleh para pengelola dan penyedia air. Pelayanan air tidak bisa disamakan dengan bisnis berorientasi profit.
Di UU Sumber Daya Air No 17 Tahun 2020 sangat jelas ditekankan mengenai keterbukaan informasi air minum ini, harus transparan dan tak boleh menyulitkan pelanggan (masyarakat).
Lain lagi dengan Undang-undang 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, pasal (2) ayat 3:menyajikan informasi cepat, tepat waktu, biaya ringan dan cara sederhana.
Apalagi pelayanan dan pengelolaan air minum di Batam dilakukan BP Batam sebagai badan layanan umum (BLU).
Pada masa transisi pengelolaan air, pelanggan membutuhkan informasi yang terang benderang.
Bukan tidak mungkin pelanggan akan menunda pembayaran tagihan air karena keragu-raguan informasi di seputar peralihan pengelola SPAM. Apalagi enggan mengakses CC berbayar.
Sebaiknya untuk memberi layanan yang baik pada pelanggan, sudah sepantasnya PT Moya/ BP Batam memberikan layanan CC tanpa beban biaya.
Pembebasan biaya CC itu, paling tidak, 2 bulan atau hingga di akhir masa transisi enam bulan ke depan
Apalagi prediksi taksasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) PT Moya maupun BP Batam sebagai BLU pengelola air minum, dinilai cukup besar.(*)

