BatamNow.com – Sejumlah pelaku usaha hotel di Batam (Kepri) membenarkan occupancy rate (tingkat hunian) kamar menurun pada akhir bulan ini jika dibanding dengan bulan sebelumnya.
Mereka menduga kondisi ini lebih cenderung dipengaruhi polemik Pulau Rempang sehingga tingkat kunjungan wisatawan asing maupun domestik cenderung berkurang.
Kepada BatamNow.com, beberapa manajer hotel di Batam yang tak mau ditulis namanya membenarkan tingkat okupansi kamar hotel menurun antara 20 hingga 30 persen, utamanya tamu wisatawan mancanegara (wisman).
“Ya, akhir bulan ini tetiba menurun dan terlebih pada weekend ini dan utamanya wisman,” kata mereka.
Namun, ujarnya, kalau wisatawan domestik tak begitu terasa khususnya pada event meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE).
Mereka senada pasca angkara murka Covid-19, tren occupancy hotel di Batam sudah sangat sangat membaik.
Menurut mereka kondisi itu bukan saja hanya di Batam, tapi merembes ke kawasan wisata Lagoi di Bintan dan Tanjungpinang.
Seorang manajer hotel di Lagoi yang dikonfirmasi wartawan media ini membenarkan tingkat hunian menurun.
Ia tak dapat memastikan musababnya, apakah faktor ricuh di polemik Pulau Batam atau lainnya.
PHRI Kepri: Occupancy Umumnya Turun 20 Persen
Sementara Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) BPD Kepri, Yeyen Heryawan mengatakan arus kunjungan wisatawan menurun ke Batam (Kepri) sejak peristiwa bentrok di Jembatan Sultan Zainal Abidin pada Kamis (07/09/2023).
Ia menyebutkan, awalnya pada 7 September 2023 sebenarnya beberapa travel agent terutama di Singapura sudah mulai gelisah.
“Ada beberapa tamu bertanya-tanya,” katanya menjelaskan ke BatamNow.com.
Termasuk, katanya, setelah unjuk rasa yang rusuh pada 11 September di Batam Center. “Selain travel agent dari Singapura mulai juga banyak bertanya-tanya dan ada beberapa tamu cancel, ada yang postpone (menunda),” ujarnya.
Menurut Yeyen, banyak dari travel agent di Singapura yang bertanya “aman nggak ke Batam”?
Bahkan Surya Wijaya Ketua Asosiasi Pariwisata Bahari (Aspabri) Kepri menenanyakan ke Yeyen tentang perkembangan.
Ditambahkan Yeyen, kalau untuk Hotel Santika di Batam Center yang marketnya lebih banyak pemerintahan, tidak terpengaruh banget. “Mungkin ada 1 atau 2 event di-cancel karena tamunya Singapura,” tambahnya.
Sedangkan hotel yang di Nagoya, katanya, seperti Aston, Fave, dan lain-lain, tingkat huniannya turun sekitar 25 persen dari tamu wisatawan Singapura.
“Biasanya Jumat, Sabtu, Minggu itu bisa di 75 persen, kini 50 persen. Bisa dilihat dari Thamrin City juga,” katanya.
Demikian juga, kata Yeyen, di beberapa hotel di Harbour Bay juga mengalami tingkat penurunan tamu-tamu dari Singapura.
Di sini juga pasca demo rusuh di polemik Rempang juga mempengaruhi penurunan meeting coorporate dan pemerintahan.
Tapi intinya, kata Yeyen, para tamu bertanya kondisi di Batam apakah aman atau tidak?
Bahkan Yeyen katakan para pelaku usaha hotel di kawasan Nagoya, membuat promo dengan menerakan keterangan bahwa hotel mereka jauh dari Batam Center, untuk meyakinkan para tamu dari Singapura untuk datang.
Jadi menurut Yeyen, persentase secara umum penurunan hunian hotel yang dimungkinkan imbas dari isu polemik Pulau Rempang, rata-rata 20 persen.
“Itu setelah tanggal 7 dan 11. Padahal sebenarnya, bulan September ini harusnya arus kedatangan tamu asing lebih bagus, dimana momen saatnya peningkatan kunjungan. Kejadian itu, intinya, berdampak sih,” ujar Yeyen.
Dampaknya signifikan, sebab travel agent Singapura banyak yang telepon ke Yeyen dan bertanya ‘’gimana bang aman nggak?’’.
“Akhirnya saya bilang kemarin ‘kan belum ada titik kejelasannya’, karena ada info demo, demo, mereka akhirnya menunda,” ujarnya.
Yeyen atas nama PHRI Kepri berharap penyelesaian polemik Rempang itu bisa segera selesai dengan aman, agar situasi kondusif.
Kadis Pariwisata Kota Batam Ardiwinata Sebut Normal
Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Batam Ardiwinata membantah informasi tingkat hunian hotel yang menurun, khususnya di Batam.
Menurut Ardi, tingkat okupansi hotel normal di Batam dan tidak ada keluhan dari para pelaku usaha hotel dan restoran. Bahkan tak ada pelaku usaha hotel yang membatalkan ordernya.
“Dan soal data konkretnya harus lewat BPS,” ujarnya.
Lagian, tulisnya lewat chat WhatsApp, data statistik harus membandingkan tahun per tahun dengan bulan yang sama.
Untuk bulan September, sebut Ardiwinata, belum ada rilis BPS.
Dan ia tambahkan, setiap bulan tingkat kunjungan wisata dipengaruhi oleh event dan hari-hari besar negara.
Ia mencontohkan bulan Febuari setiap tahun akan lebih besar tingkat kunjungan wisman ke Kepri khususnya Batam karena dipengaruhi hari besar Imlek.
Pada Sabtu (23/08/2023), dihelat Tour de Batam 2023 di Nuvasa. Pihak penyelenggara menyebut jumlah peserta yang mengikuti event ini sebanyak 750 orang yang berasal dari 38 negara. Ada dari Asia, Eropa, dan Amerika juga diikuti peserta dari Indonesia dan Batam. (LL/RED)

