BatamNow.com – Warga Palestina Maher al-Akhras mengungkapkan kisahnya selama jadi tahanan Israel.
Ia pun melakukan aksi mogok makan, sebagai bentuk upaya protes terhadap kebijakan rasis Israel.
“Saya melakukan pemogokan (untuk mengungkap kebijakan pendudukan Israel) dan saya berhasil melakukannya, kami tidak bisa diam tentang ketidakadilan yang dipraktikkan terhadap kami ini,” ungkapnya.
Dilansir Pikiran-Rakyat.com, Ia juga mengaku dirinya dan tahanan lainnya tidak memiliki senjata apapun, hanya miliki tekad dan kemauan.
“Kami tidak memiliki senjata tetapi kami memiliki kemauan dan tekad yang kuat untuk menghadapi pendudukan dan kebijakan rasisnya,” katanya, dikutip Pikiran-rakyat.com dari Anadolu Agency.
Dari pengakuannya, ada sekitar 4.400 warga Palestina yang ditahan di penjara Israel, termasuk 39 wanita, 155 anak-anak, dan sekitar 350 tahanan administratif.
Penahanan administratif adalah penahanan tanpa dakwaan dan sidang untuk jangka waktu hingga enam bulan yang dapat diperpanjang.
Al-Akhras mengatakan selama ditahanan di penjara Israel, ia dan tahanan lainnya menjadi sasaran “kejahatan paling keji Israel.”
Ia pun berpesan pada warga Palestina yang masih ditahan untuk tetap gigih dan keras kepala.
Dia mendesak faksi Palestina untuk bersatu dan menolak perbedaan dan perpecahan (internal).
“Saya mengalami hari-hari yang sulit selama pemogokan. Saya merasa hampir mati syahid, terlepas dari semua rasa sakit dan kesulitan. Saya bersabar dan kemenangan tidak lain adalah kesabaran selama satu jam,” katanya.(*)

