BatamNow.com – Media ini dalam berbagai tulisan sering mengkritisi sistem drainase penyebab meluapnya banjir di Kota Batam.
Pada edisi pagi, hari ini Sabtu (02/01/2021), media ini juga mengkritisi seluruh pemangku kepentingan yang jarang turun ke lapangan melihat beragam derita masyarakat setiap kali diterpa banjir.
Perlunya para pemangku kepentingan itu turun ke lapangan agar tahu persis apa penyebab sebenarnya sering meluapnya air dari drainase itu sendiri. Padahal drainase itu, sebenarnya, solusi mengatasi banjir.
Entah kebetulan atau tidak, Wali Kota Batam Muhammad Rudi yang juga Kepala BP Batam hari ini Sabtu (02/01) menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan di jajarannya turun langsung ke titik-titik banjir bersama masyarakat.
Hal itu disampaikan Rudi saat meninjau kondisi banjir yang meluap di berbagai titik secara merata di Kota Batam.
Dia memerintahkan para Camat, Bina Marga dan Sumber Daya Air, Satpol PP dan Ditpam untuk turun ke titik-titik banjir bersama masyarakat.
Dia ingin drainase yang ada, dibersihkan dari sampah yang menutup saluran.
Memang, sampah-sampah dari tangan masyarakat di perumahan, pertokoan dan mall yang dibuang sembarangan juga menambah beban drainase. Tingkat disiplin masyarakat juga menjadi masalah.
Bagaimanapun itu, Rudi memerintahkan para pemangku kepentingan itu Minggu besok (03/02) sudah harus mulai bekerja bersama masyarakat yang berada di lingkungan masing-masing, khususnya yang sering terkena luapan banjir.
Soal sistem drainase yang ditulis dan dikritisi media ini yang dianggap salah satu biang meluapnya banjir setiap hujan di Batam, akan segera direvitalisasi.
Rudi dalam publikasinya lewat media, berjanji akan segera membahas dengan jajarannya di Badan Pengusahaan (BP) Batam.
Dia mengakui bahwa lebar drainase di Batam sangat kecil. Ini tentu bila dibanding dengan debit air hujan, apalagi saat hujan lebat. Soal itulah yang sering dikritisi media ini.
Pelebaran sistem drainase yang direncanakan itu termasuk di jalan-jalan protokol.
Itulah kata Rudi solusi konkrit untuk mengatasi kondisi banjir yang sering terjadi akhir-akhir ini saat musim penghujan.
Diperlukan Sistem Drainase Berkualitas
Membangun drainase dari lebar 1-2 meter menjadi 7 atau 8 meter khususnya di lokasi tertentu yang sering kebanjiran, memang tak segampang membalik telapak tangan.
Butuh waktu tentunya.
Dari segi dana, mungkin BP Batam memilikinya. Dikabarkan dana APBN dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) di “kocek” BP Batam masih surplus seperti yang pernah disampaikan Wakil Kepala BP Batam Purwiyanto, belum lama ini.
Memang sistem drainase yang kurang lebar tidak satu-satuya penyebab meluapnya air di drainase hingga meluber dengan deras ke jalan dan kawasan-kawasan perumahan.
Namun kualitas bangunan sistem drainase itu sendiri oleh pelaksana proyek maupun kontraktor pelaksana bangunan hidraulik, sering diabaikan seolah-olah tak penting.
Padahal menurut para ahli hidraulik, pekerjaan drainase merupakan pekerjaan yang rumit dan kompleks.
Secara fungsional, ujar ahli, sulit memisahkan secara jelas sistem drainase dan pengendalian banjir. Namun secara praktis drainase menangani kelebihan air sebelum masuk ke alur-alur besar atau sungai. Konsep sistem drainase yang berkelanjutan adalah prioritas utama.
Untuk mencapai sistem drainase yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan Batam diperlukan penanganan pembangunanya dengan kontraktor yang ahli.
Sehingga ke depan jangan asal tunjuk kontraktor karena faktor KKN dan lain sebagainya, seperti dugaan selama ini. Bangunan proyek asal jadi dan tanpa pengawasan yang ketat secara internal dan eksternal.
Tentu tidak hanya pelebaran saja yang dilakukan ke depan. Bangunan sistem drainase saluran penerima (interceptor drain), saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran induk (main drain) dan badan penerima air (receiving waters) harus menjadi perhatian serius dan dipentingkan.
Di sepanjang sistem darinase sering dijumpai bangunan lainnya seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air (aquaduct), pelimpah, pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando dan stasiun pompa.
Sistem ini harus menjadi kajian serius lebih awal, baik oleh BP Batam maupun Pemko Batam. Kalau tidak, masalah akan terulang lagi seperti keledai jatuh ke lubang yang sama itu.(*)
Oleh: Tim News Room BatamNow.com

