BatamNow.com – Keluhan dan keresahan warga Batam atas pelayanan buruk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) BP Batam terus menggelinding dan terus disuarakan bagi yang mengalaminya.
Setelah warga Batam di Batu Merah, Batu Ampar, melakukan aksi demo Agustus lalu, ribuan warga Putra Jaya Residence melakukan aksi demo yang sama pada Rabu (18/09/2024).
Mereka sampai berpeluh diterpa panasnya sengatan matahari menyuarakan derita yang menerpa mereka atas matinya aliran air minum ke kawasan perumahan padat itu selama 10 tahun terakhir.
Sepanjang jalan mula dari Tanjung Uncang hingga ke Gedung “Elang Emas” BP Batam, riuh aksi demo itu.
Jalanan sampai macet dan puncak titik demo di gedung BP Batam, memaksa Kepala BP Batam Muhammad Rudi SE MM, turun menemui pendemo dengan segala janji-janjinya.
Tak henti derita yang dialami warga Batam, —hari ini, Minggu (22/09/2024), keluhan yang sama datang dari warga Perumahan Golden Prima, RW 19, Bengkong, Batam.
Aksi protes yang mereka lakukan beda dengan yang dilakukan warga Batu Merah dan Putra Jaya Residence dalam menyampaikan keluhannya atas matinya aliran air minum ke rumah mereka.
Warga Perumahan Golden Prima hanya memajang tiga papan bunga digandeng menjadi satu, berisi ucapan duka cita berukuran jumbo.
Ucapan duka cita atas matinya aliran air minum ke rumah mereka.
“Turut berduka cita atas matinya air bersih di Perum Golden Prima. Semoga arwahnya melayang-layang di BP Batam. Warga Golden Prima Bengkong RW 19,” demikian kalimat yang dibuat di papan bunga itu.
Ada lagi papan bunga dengan narasi, “Turut berduka cita atas matinya air bersih di Perum Golden Prima. Semoga arwahnya bergentayangan mencari orang yang bertanggung jawab untuk menghidupkannya kembali. Warga Golden Prima Bengkong RW 19”.
Belum terkonfirmasi kepada Ketua RW setempat keberadaan papan bunga ucapan “duka cita” itu.
Namun beberapa warga di sana kepada BatamNow.com, membenarkan papan bunga itu dari warga Golden Prima yang tengah dilanda kegelisahan atas pelayanan buruk pengelola SPAM BP Batam atas aliran air minum.
Aksi protes atas pelayanan buruk SPAM BP Batam yang meresahkan warga terjadi di mana-mana di Batam, sejak peralihan pengelolaan SPAM dialihkan dari PT ATB ke BP Batam.
Berbagai aksi demo ke Gedung BP Batam dan ke kantor mitranya PT Moya Indonesia, —kini PT Air Batam Hilir (ABH), tapi tak kunjung ada perbaikan yang signifikan.
Saat masa transisi pengelolaan SPAM BP Batam, sejumlah pejabat di sana termasuk para direktur Badan Usaha (BU) SPAM BP Batam, sesumbar bahwa pengelolaan SPAM akan jauh lebih baik di tangan mereka dibanding sebelumnya.
Tapi faktanya, puluhan ribu warga pelanggan atau konsumen air minum perpipaan itu, kini sengsara.
Sebagaimana kerap ditulis BatamNow.com, lewat perundang-undangan negara menjamin kelancaran aliran dan akses atas air minum ke warga 24 jam sehari dan harus dijalankan dan dipertanggungjawabkan BP Batam, khususnya Muhammad Rudi yang mencalonkan diri sebagai Gubernur Kepri itu.
Kesepakatan PBB juga meminta setiap negara menjamin kelancaran hajat hidup vital manusia itu, agar masyarakat jangan sampai dehidrasi.
Namun bagi BP Batam yang mendapat cuan lebih kurang Rp 500-600 miliar pasca peralihan pengelolaan dari PT Adhya Tirta Batam (ATB), sejak tahun 2020, seakan tak peduli dengan apa yang diderita warga.
Banyak alasan, janji yang disuguhkan BP Batam lewat Muhammad Rudi untuk mem-PHP warga di sini di tengah kesulitan warga mendapat aliran air minum.
Untuk keperluan wudu demi menunaikan ibadahnya pun, warga sulit mendapatkan air. (red)


