BatamNow.com – Satu unit kapal bernama SS8 berjenis crane base larat (hanyut) hingga menabrak karang di perairan Sagulung, dekat Pulau Lingke, Kota Batam.
Kapal hanyut itu, pertama kali ditemukan Muchtar (80 tahun) ketika mencari spot memancing ikan pada Minggu sore, 15 Desember 2024.
Muchtar sendiri merupakan masyarakat Pulau Kertam dan merupakan pendiri Lembaga Suku Laut Nusantara Indonesia (LSLNI) dan juga sebagai Ketua RW 006.
“Pada hari Minggu sekitar jam 4 sore, jadi saya ketemu dengan kapal itu sudah terdampar di atas terumbu karang,” ucap Muchtar, ketika diwawancarai di rumah Kepala Suku Laut, di Pulau Lingke, Jumat (27/12/2024).

Pulau Lingke sendiri, berada di Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Batam.
Pulau Lingke berjarak sekitar 7 menit menggunakan speedboat dari pelabuhan rakyat Pandan Bahari, Tanjung Uncang, Batu Aji.
@batamnow Satu unit kapal bernama SS8 berjenis crane base larat (hanyut) hingga menabrak karang di perairan Sagulung, dekat Pulau Lingke, Kota Batam. Kapal hanyut itu, pertama kali ditemukan Muchtar (80 tahun) ketika mencari spot memancing ikan pada Minggu sore, 15 Desember 2024. Muchtar sendiri merupakan masyarakat Pulau Kertam dan merupakan pendiri Lembaga Suku Laut Nusantara Indonesia (LSLNI) dan juga sebagai Ketua RW 006. “Pada hari Minggu sekitar jam 4 sore, jadi saya ketemu dengan kapal itu sudah terdampar di atas terumbu karang,” ucap Muchtar, ketika diwawancarai di rumah Kepala Suku Laut, di Pulau Lingke, Jumat (27/12/2024). Baca selengkapnya melalui link di Bio. #batam #rempang #galang #barelang #batamnow #batamdaily #batamhits #batampunyacerita #semuatentangbatam #batamsirkel #batamnews #batamhariini ♬ Suspenseful and tense orchestra(1318015) – SoLaTiDo
Kembali ke cerita Muchtar yang menemukan kapal larat yang ditaksir berukuran ±90 meter dengan lebar ±10 meter tersangkut di atas bebatuan dan terumbu karang.
Ia langsung melaporkan temuan itu kepada kepala suku Laut dan suku laut lainnya.
“Setelah saya menemukan kapal itu terdampar, saya melaporkan temuan saya itu kepada kawan-kawan, supaya ditindaklanjuti ke depannya seperti apa,” ucap Muchtar.
Muchtar tak bisa menjelaskan secara rinci bagaimana cerita kejadiannya hingga kapal berada di atas terumbu karang.
“Saya juga kurang paham, apa dia terdampar atau hanyut kah (larat) saya kurang tahu, tiba-tiba dia (kapal) sudah terdampar di atas terumbu karang,” jelasnya.
Menurutnya, terumbu karang sangat berarti bagi kehidupan para suku laut, yang menggantungkan hidupnya di atas laut.
“Terumbu karang itu sangat berarti bagi nelayan daerah sini, yang mata pencahariannya sebagai nelayan. Jadi istilahnya itu kalau terumbu karang kami rusak, otomatis harapan nelayan itu sudah tidak bisa lagi mencari makan di situ,” ucapnya.
Pada Rabu (25/12), Muchtar dengan para suku laut lainnya, mendatangi kapal untuk kedua kalinya dan naik ke atas kapal, untuk mencari identitas kapal.
“Hari Rabu-nya, kami naik ke atas kapal untuk kedua kalinya dari hasil pertemuan kedua kalinya itu, orang kapal (ABK) tapi kami tidak mendapat kepastian dari perusahaan pemilik kapal,” jelasnya.
Seingat Muchtar, kapal itu sudah lego jangkar di perairan Sagulung selama ±15 tahun lamanya dan warga sekitar tidak ada yang mengetahui tujuan kapal itu lego jangkar di perairan tersebut.
“Kapal itu sudah lego jangkar sudah hampir selama 15 tahun lamanya dan kami tidak mengetahui kapal itu milik siapa dan mau apa di situ,” jelas Muchtar.
Masyarakat di Tiga Pulau Terdampak
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua LSLNI, Tuty.
Berdasarkan keterangan warga di tiga pulau yang terdampak yakni Pulau Lingke, Kertam, serta Gara, pihak RT ataupun RW tak pernah mendapat pemberitahuan dari pemilik kapal semenjak labuh jangkar di perairan itu hingga kini.
“Mereka tidak pernah ada pemberitahuan kepada pihak setempat seperti RT/RW selama 15 tahun sudah berlabuh,” ucap Tuty di rumah Kepala Suku Laut.
Dari awal terlihatnya kapal itu terdampar pada Minggu (15/12) hingga Kamis (26/12), pihak perusahaan seperti tidak ada niat mendatangi masyarakat yang terdampak rusaknya terumbu karang di sana akibat SS8 larat.
“Dari pihak terkait seperti perusahaan tidak ada niat untuk mendatangi masyarakat setempat. Karena ‘kan yang terdampak itu kan masyarakat setempat, tempat mereka mencari makan sudah hancur,” ucap Tuty.
Kala masyarakat Suku Laut menaiki kapal SS8 dan bertemu krunya, Tuty ikut serta mendampingi untuk menanyakan tanggapan pihak pemilik kapal.
Namun kru kapal ‘lepas tangan’, menyuruh masyarakat berkomunikasi dengan pemilik kapal, yang tak mereka ketahui.
“Lalu kami naik ke atas kapal, untuk meminta tanggapan mereka kepada masyarakat yang terdampak, tapi ketika kita sampai di kapal, kita seperti bola dibuat di lempar lempar sini, tidak ada tanggapan,” ucap Tuty.
Tuty menyebutkan, ia masih mencari informasi terkait izin legalitas kapal SS8 itu serta izin dari pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam.
“Terkait mereka izin ke KSOP itu saya lagi mengecek surat-surat legalitas mereka,” ucapnya.
Perwakilan Perusahaan (Agen) Kapal Temui Tokoh Suku Laut
Lalu pada Jumat (27/12) pagi, sekitar pukul 10.00, pihak agen kapal SS8 menemuii masyarakat terdampak kapal yang larat itu.
Adalah Mulyadi yang mengaku sebagai pimpinan cabang Batam, Bayu Maritim Berkah.
Kala itu, Mulyadi datang bersama satu rekannya dan dua anggota Zona Bakamla Barat.
Pertemuan itu, diadakan di rumah kepala Suku Laut, Sam Palale. Adapun tujuan kedatangan Mulyadi itu, untuk membicarakan permasalahan ini secara kekeluargaan.

Pada pertemuan itu, adu argumentasi pun tak terelakkan.
Hingga pada akhirnya, kesepakatan terjalin, di mana Mulyadi akan segera melaporkan permasalahan itu ke kantor pusatnya.
Hasil dari laporan Mulyadi ke kantor pusat, akan segera ia kabarkan ke Ketua LSLNI, Tuty.
Kepala Suku Laut: Kami Bukan Organisasi Nelayan Berdasi
Dari hasil pertemuan itu, Kepala Suku Laut, Sam Palale, pria berusia 65 tahun itu berharap ada kerja sama yang baik antara pemerintah dan perusahaan terhadap masyarakat terdampak.
“Kalau saya sebagai kepala suku di sini, saya mengharapkan kerja sama yang baik, tapi selama ini tidak ada kerja sama yang baik. Seperti enak sama mereka, sakit sama kami,” ucap Sam pria berambut putih itu.
Sam mengatakan bahwa mereka bukanlah organisasi nelayan berdasi, melainkan mereka keturunan asli dari Suku Laut yang lahir dan hidup di atas laut.
“Kami bukan organisasi nelayan berdasi pak, kita asli Suku Laut, jadi apa yang terjadi sama laut itu kita tahu, karena kita lahir di atas laut, besar di laut makanya kita lebih tahu yang terjadi sama laut kita,” jelas Sam.
Kata Sam, kapal ini sudah beberapa kali larat, namun ada saja oknum yang memanfaatkan momen itu dengan mengatasnamakan warga tempatan.
“Pernah juga larat sebelumnya, namun ada oknum dari luar pulau yang mengatasnamakan warga tempatan, dari dulu sampai sekarang kita gitu pak, selalu ada saja oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan masyarakat,” ucapnya.
Sam menjelaskan, apabila jangkar kapal itu larat, bukan hanya merusak karang tapi juga maka akan merusak kelong (keramba) milik masyarakat.
“Kalau jangkar kapal larat itu, kelong kita habis, karang kita yang habis,” jelasnya.
Sam Juga menegaskan, ada 76 KK total masyarakat di Pulau Lingke, 63 KK di Pulau Kertam, serta 80 KK di Pulau Gara, sebagai masyarakat yang terdampak.
Bila tidak ada kejelasan dari pihak perusahaan, masyarakat terdampak meminta kapal itu untuk segera dipindahkan.
“Masyarakat sependapat kalau tidak ada negosiasi kerja sama (ganti rugi) yang baik, kami minta dipindahkan, apapun hukum akan kami hadapi, karena kami merasa punya hak,” tegas Sam. (A)

