Mendesak, Audit Independen Catchment Area
:batamnow:-SEMENTARA itu, soal mengeringnya air dam di Batam, di sorot Wali Kota Batam Muhammad Rudi.
Dia menegaskan mengeringnya air dam, bukan semata faktor kemarau panjang.
“Sebagian karena tak diurus serius, selama ini,” tegas Wali Kota Batam Muhammad Rudi, Sabtu (27/4).
Siapa yang tak mengurus, tak dijelaskan Rudi. “Cari sendirilah, takkan semua saya jelaskan,” katanya dengan mimik senyum.
“Coba cek itu hutan seputar tangkapan air. Banyak masalah kan?,” kata Rudi dengan nada bertanya.
Dijelaskan “Wali Kota Terbaik 2019” ini, ternak piaraan liar pun ada di hutan, di sekeliling areal dam.
Belum lagi, katanya, pembiaran perambah hutan di seputaran “catchment area” atau daerah tangkapan air.
Menurut Rudi, kebakaran hutan pun menambah deretan masalah.
Selalu tak cepat tanggap. Hutan hangus di beberapa titik.
Padahal armada pemadam kebakaran milik BP Batam, cukup lengkap.
Rudi juga mempertanyakan soal menjamurnya enceng gondok di dam. “Sampai sekarang, tak diurus. Enceng gondok itu, kan rakus menghisap air.”
Belum lagi soal peternak keramba yang beternak di tengah dam. “Ini kok bisa.”
Soal terjadinya pendangkalan atau sedimentasi di areal dam, juga dipertanyakan wali kota yang sebentar lagi menjadi Ex-Officio Kepala BP Kawasan Batam itu.
Kondisi seperti ini, menurut Rudi, sungguh sangat keterlaluan. “Bisa terjadi pendangkalan sampai bertahun, kok tak di keruk.
Ini saya bilang tadi, dam itu memang tak diurus,” tegas Rudi.
Diragukan Wilayah Catchment Area
Bicara penyebab keringnya lima dam di Batam, faktor alam selalu satu-satunya dalih.
Alasan selalu karena kemarau panjang.
Sementara faktor atau kelalaian manusia jarang dipermasalahkan. Padahal, ini penentu juga.
Misalnya, lemahnya pengawasan akan kelestarian hutan di daerah resapan. Pun perawatan berkala yang tak kongkrit diurus.
Air baku sebagai sumber air minum adalah air tadah hujan.
Tapi jangan menganggap hanya dam satu satunya penahan air hujan. Fungsi hutan yang rimbun nan luas juga sangat berperan.
Daerah tangkapan air, hal yang sangat diperhitungkan menyimpan debit air, selain wadah dam. Ini sangat alami sifatnya.
Inilah perlunya hutan dilestarikan di seputaran dam. Kemampuan hutan lebat menyimpan air, cukup tinggi.
Menjadi pertanyaan, apakah standarisasi atau kemampuan areal tangkapan air masih tetap seperti desain awal?
Atau jangan-jangan luas hutan daerah resapan air, sudah kritis. Tak sebesar yang dicadangkan semula.
Ini perlu diskursus berkelanjutan. Karena pengalokasian lahan, selama ini, terkenal obral dan amburadul. Sementara faktor lingkungan sangat abai.
Tak jarang, hutan lindung dialokasikan. Hutan perawan disatroni.
Sehingga dikuatirkan, luas areal hutan lindung penyangga air hujan itu, sudah berkurang drastis.
Kondisi itu terlihat dengan kasat mata di seputaran lima dam.
Belum diperoleh keterangan dari pihak BP Batam, berapa hektar luas hutan yang tersisa.
Menipisnya hutan seputar daerah penyangga, tidak saja karena luas areal yang berkurang. Tapi populasi pepohonan pun mulai berjarak.
Dugaan sementara, faktor penyebabnya, terjadi perambahan hutan atau populasi pohon berkurang karena pencemaran.
Pendangkalan Berkelanjutan
Satu hal yang sangat disayangkan Rudi adalah soal pendangkalan dam. Dam di daerah Sei Harapan, kini kritis. Terjadi pendangkalan menahun. Ini sangat serius.
Pihak BP Batam sebagai pemilik atau pengelola air baku, tampak tak ambil pusing. Justru dibiarkan terus-menerus, tanpa solusi.
Bayangkan, pendangkalan terjadi sejak tahun 2017. Sudah memakan hampir sepertiga ruang wadah dam. Artinya, daya tampungnya berkurang drastis.
Mengapa ditelantarkan? Benarkah dana atau anggaran untuk biaya pengerukannya, cekak?
Kalau ini benar, lalu mengalir ke mana dana hasil penjualan air baku selama ini?
Tunggu hasil investigasi :batamnow:. (Red-1)

