BatamNow.com – Kepala Zona Badan Keamanan Laut (Bakamla) Barat di Batam, Laksamana Pertama (Laksma) Bakamla Bambang Trijanto memberi penjelasan perihal Kapal SS8 yang lego jangkar selama belasan tahun yang diduga merusak terumbu karang di perairan Batam.
Menurut Bambang, ia tidak punya kapasitas dan tidak memiliki data yang cukup terkait masalah SS8.
Dan ia pun mengarahkan media ini agar mengkonfirmasi ke pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam, yang menurutnya lebih paham atas persoalan ini.
“Saya tidak punya kapasitas dan tidak memiliki data yang yukup , menurut saya KSOP mungkin lebih paham,” kata Bambang kepada BatamNow.com pada 27 Desember 2024, lalu melalui pesan di WhatsApp.
Masyarakat suku laut, melalui Lembaga Suku Laut Nusantara Indonesia (LSLNI) diketahui sudah melaporkan hal tersebut ke Zona Bakamla Barat, Batam.
Dan petugas Bakamla juga telah melakukan penyelaman untuk memastikan kebenaran adanya terumbu karang di bawah kapal SS8.
Belum diketahui hasil konkret dari penyelaman itu dan apakah dilapor ke komandannya.
Kemudian, wartawan Batamnow.com mengirimkan satu video yang berdurasi 37 detik, berisi hasil rekaman saat petugas Bakamla melakukan penyelaman.
Bambang pun, membenarkan bahwa anggota Zona Bakamla Barat melakukan penyelaman, namun tak menjelaskan hasil penyelaman.
Tapi, dia katakan di sekitar pulau-pulau itu hanya ada bebatuan dasar laut bukan terumbu karang.
“Kalau untuk penyelaman betul Itu anggota Bakamla Barat. Kita juga mempunyai masyarakat pesisir binaan , tapi perlu saya konfirmasi kembali tentang terumbu karang ! Setahu saya terumbu karang di daerah pulau pulau tersebut sepertinya malah bebatuan dasar laut,”ucapnya.
Menurut Bambang, untuk permasalahan kapal yang larat, bahwa KSOP lebih memiliki kapasitas
“Tapi sekali lagi utk permasalahan kapal yang larat, mungkin, sekali lagi mungkin pihak KSOP lebih memiliki kapasitas,” jelasnya.
Di akhir percakapan itu, Bambang kembali menegaskan seperti dugaan sebelumnya bahwa di area itu hanya berisikan pasir dan lumpur serta bebatuan dasar laut, dan kecil kemungkinan adanya terumbu karang.
“Seperti dugaan saya mas , di area itu hanya pasir dan lumpur serta bebatuan dasar laut saja. Kecil kemungkinan ada terumbu karang Mas,” ucap Bambang.
@batamnow Satu unit kapal bernama SS8 berjenis crane base larat (hanyut) hingga menabrak karang di perairan Sagulung, dekat Pulau Lingke, Kota Batam. Kapal hanyut itu, pertama kali ditemukan Muchtar (80 tahun) ketika mencari spot memancing ikan pada Minggu sore, 15 Desember 2024. Muchtar sendiri merupakan masyarakat Pulau Kertam dan merupakan pendiri Lembaga Suku Laut Nusantara Indonesia (LSLNI) dan juga sebagai Ketua RW 006. “Pada hari Minggu sekitar jam 4 sore, jadi saya ketemu dengan kapal itu sudah terdampar di atas terumbu karang,” ucap Muchtar, ketika diwawancarai di rumah Kepala Suku Laut, di Pulau Lingke, Jumat (27/12/2024). Baca selengkapnya melalui link di Bio. #batam #rempang #galang #barelang #batamnow #batamdaily #batamhits #batampunyacerita #semuatentangbatam #batamsirkel #batamnews #batamhariini ♬ Suspenseful and tense orchestra(1318015) – SoLaTiDo
Atas pernyataan Bambang itu, Kepala Suku Laut, Sam Palale pun memberi tanggapan menohok.
“Kami bukan organisasi nelayan berdasi pak, kita asli Suku Laut, jadi apa yang terjadi sama laut itu kita tahu, karena kita lahir di atas laut, besar di laut makanya kita lebih tahu yang terjadi sama laut kita,” kata Sam kepada BatamNow.com, melalui sambungan telepon, Jumat (03/01/2024).

Sam Palele juga menjelaskan apabila jangkar kapal itu larat bukan hanya merusak karang tapi juga akan merusak kelong (keramba) milik masyarakat.
“Kalau jangkar kapal larat itu, kelong kita habis, karang kita yang habis, sekarang kita cari duit Rp 100 ribu sehari saja susah pak. Kami bukan orang-orang yang kerja di atas meja, kami mencari dulu baru dapat,” jelas Sam Palele. (A)

