BatamNow.com – Nama atau merek jembatan layang (flyover) di Batam ini gonta-ganti sebelum diresmikan, pun sesudah diresmikan.
“Buat bingung masyarakat aja,” kata beberapa pekerja taman di bawah jembatan layang ini, Selasa (21/01/2024) saat disamperi wartawan media ini.
Sebelum peresmian jembatan ini, nama Flyover Lela Bahari sudah disiapkan.
Namun kala diresmikan Kepala BP Batam Muhammad Rudi pada 31 Desember 2024, nama yang dipasang di plang di bawah jembatan dengan nama Flyover Laksamana Ladi.

Mendapat penolakan dari tokoh dan Lembaga Adat Melayu (LAM, diubah lagi dengan nama Flyover Sungai Ladi dan tiga hari kemudian mereknya terpampang di plang di bawah jembatan layang.

Selang berapa hari, entah dengan tujuan apa, merek Flyover Sungai Ladi di persimpangan Jalan Gajah Mada itu tetiba siselimuti dengan spanduk kusut warna biru.

Dan spanduk yang diselimutkan di plang nama jembatan itu bermerek Flyover Laksamana Ladi. Nama yang sudah diubah, masih nongol lagi.
Setelah diberitakan media ini, “selubung” spanduk lusuh itu pun sudah disingkap habis dan merek Flyover Sei Ladi sudah terpampang kembali.
“Namanya bolak balik entah karena apa, mungkin BP Batam sedang gamang dan mungkin ada yang tak beres di balik proyek yang diresmikan seperti dipaksakan itu sehingga urusan nama jembatan saja gonta ganti,” kata Firdaus SSos, pemerhati perkotaan.

Penulis pun ternyata sampai-sampai gamang juga menulis konstruksi berita gonta-ganti merek jembatan layang itu.
Publik sampai ada menyebutnya flyover yang “over play”.
Lalu sudah tuntas kah penamaan flyover ini? Sepertinya belum.
Pantauan BatamNow.com pada Selasa (21/01), marmer prasasti sudah dipasang baru seperti sebelumnya, tapi belum ditandatangani Muhammad Rudi.

Pada prasasti awal yang dibongkar, tanda tangan Muhammad Rudi dengan tinta warna emas terlihat di sana dan kini tidak.
Mengapa? Ini seperti masih misteri.
Apakah masih ada seremoni peresmian ulang oleh BP Batam dan Muhammad Rudi dan akan menorehkan ulang tanda tangannya di marmer prasasti?
Jika menyimak kutipan pidato Muhammad Rudi, saat peresmian, sepertinya tak mungkin, kata Panahatan SH.
Sebab Muhammad Rudi bilang begini,”Pada kesempatan yang sangat baik ini karena mungkin tidak ada waktu lagi untuk meresmikan karena akhir jabatan kami mungkin di awal, bisa Januari bisa Februari, untuk serah terima”.
Tapi bisa saja berubah lagi ‘kan, seperti gonta-ganti nama jembatan itu, kata Fadel, tokoh masyarakat Baloi di salah satu kafe di sana.
CCTV Belum Punya
Selain gonta-ganti nama yang “ambyar”, sesuai penelusuran BatamNow.com bahwa di Flyover Sungai Ladi sudah lalu lalang kendaraan bermotor dari semua jenis.
Tapi tidak dengan kamera pengawas atau closed circuit television (CCTV) yang kerap dalam bahasa gaul disebut “mata malaikat”.
Disebut mata malaikat karena bisa merekam peristiwa di sekitarnya kapan pun sesuai dengan sistem dan mekanisme jaringan IT yang dioperasikan.
Sebagaimana lazimnya kota modern, peran CCTV sangat signifikan dalam melawan dan mencegah aksi kejahatan, merekam insiden laka lantas dan lainnya.
Namun penelusuran BatamNow.com di laman siaran langsung (streaming) “Matanya Batam” milik Diskominfo maupun website “Area Traffic Control System (ATCS)” milik Dinas Perhubungan, tidak terdapat CCTV di sepanjang jalan jembatan layang dengan panjang 120 meter itu. Demikian juga dan di seputaran area flyover berbiaya Rp 132 miliar itu.
Beda misalnya di Flyover Laluan Madani, di Jalan Sudirman itu sudah dengan beberapa kamera CCTV aktif.
Dikonfirmasi ke Kabiro Humas BP Batam, Ariastuty Sirait, terkait kemungkinan tidak tersedianya CCTV di jembatan layang itu dan kelanjutan seremoni peresmian penamaan Flyover Sungai Ladi, namun tak ada respons. (A/Red)

