BatamNow.com – Puluhan warga Teluk Bakau didampingi organisasi mahasiswa ‘menggeruduk’ Mapolresta Barelang, Kota Batam pada Selasa (22/04/2025).
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes penangkapan dua warga yakni Pius Pati Bala dan Emanuel Ginting.
Mery Oin, istri Pius, salah satu yang hadir dalam aksi protes di Mapolresta Barelang. Ia tak tahu saat sang suami ditangkap polisi.
Menurutnya, Pius terakhir dilihat ketika berangkat kerja pada Senin (21/04) kemarin. Seperti biasa, seharusnya sang suami pulang ke rumah sekira pukul 18.00.
“Yang saya tahu suami saya pergi kerja pada pukul 07.00 dan pulang jam 18.00 namun tidak pulang-pulang sampai hari ini. Saya sudah mencari ke mana-mana dan satu malam ini saya tidak bisa tidur,” ucap Mery kepada wartawan di Mapolresta Barelang, Selasa (22/04).
@batamnow Puluhan warga Teluk Bakau didampingi organisasi mahasiswa ‘menggeruduk’ Mapolresta Barelang, Kota Batam pada Selasa (22/04/2025). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes penangkapan dua warga yakni Pius Pati Bala dan Emanuel Ginting. Mery Oin, istri Pius, salah satu yang hadir dalam aksi protes di Mapolresta Barelang. Ia tak tahu saat sang suami ditangkap polisi. Menurutnya, Pius terakhir dilihat ketika berangkat kerja pada Senin (21/04) kemarin. Seperti biasa, seharusnya sang suami pulang ke rumah sekira pukul 18.00. “Yang saya tahu suami saya pergi kerja pada pukul 07.00 dan pulang jam 18.00 namun tidak pulang-pulang sampai hari ini. Saya sudah mencari ke mana-mana dan satu malam ini saya tidak bisa tidur,” ucap Mery kepada wartawan di Mapolresta Barelang, Selasa (22/04). Kini, ia khawatir dengan kondisi suaminya yang tetiba ‘menghilang’ dan tak ada kabar serta tidak bisa dihubungi pihak keluarga. “Saya di rumah, saya tidak tahu dia ditangkap di mana. Motor dia, tas dia kerja, tidak ada sama saya hari ini, tidak tahu dia di mana. Saya sudah pikiran saya di mana-mana, apa dia diculik ya atau dibunuh, saya takut sekarang,” kata Mery. “Telepon sampai ratusan kali tidak ada diangkat. WA masuk dibaca tapi tidak ada, tidak tahu HP dia sama siapa,” lanjutnya. Baca selengkapnya di BatamNow.com #batam #batamnow #batamtiktokcommunity #batamnews #batamisland #batamhits #batamsirkel #kotabatam #batampunyacerita #semuatentangbatam #galang #barelang #fypツ #batam #batamdaily #batampunyacerita #batamhariini ♬ original sound – BatamNow.com
Kini, ia khawatir dengan kondisi suaminya yang tetiba ‘menghilang’ dan tak ada kabar serta tidak bisa dihubungi pihak keluarga.
“Saya di rumah, saya tidak tahu dia ditangkap di mana. Motor dia, tas dia kerja, tidak ada sama saya hari ini, tidak tahu dia di mana. Saya sudah pikiran saya di mana-mana, apa dia diculik ya atau dibunuh, saya takut sekarang,” kata Mery.
“Telepon sampai ratusan kali tidak ada diangkat. WA masuk dibaca tapi tidak ada, tidak tahu HP dia sama siapa,” lanjutnya.

Tiga anak dari pasangan itu pun kini juga khawatir terkait keberadaan sang ayah.
“Anak saya itu tiga, hari ini tidak sekolah karena tidak tahu bapak dia ada di mana,” ungkapnya.
Ia pun berharap agar polisi membebaskan Pius. “Kasih keluar suami saya itu. Tidak ada surat pemberitahuan. Kalau dibilang sekarang baru kasih, aku tidak mau, tidak sah menurut saya,” tegasnya.
Turut mendampingi aksi warga Teluk Bakau, Andre Sena dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Wilayah Riau-Kepri meminta agar polisi segera membebaskan kedua warga yang ditangkap.
“Jadi kepada Kapolres, hari ini 1×24 jam kami minta bebas,” tegas Andre.
Warga lainnya juga menyuarakan desakan pembebasan terhadap kedua rekan mereka yang ditangkap.
Emanuel Ditangkap di Rumah, Istri: Anak Kami Trauma
Berbeda dengan Mery, penangkapan Emanuel Ginting disaksikan istrinya yakni Mahda Lena Sinulingga.
“Suami saya ditangkap pukul 17.30 WIB, rumah kami dikepung sampai anak kami trauma. Mereka hanya menunjukkan surat, saya tidak membaca semua, hanya namanya saja saya baca,” ujar Mahda kepada BatamNow.com.
Tujuan warga mendatangi Mapolresta Barelang hari ini untuk menemui Kapolresta Barelang Kombes Zaenal Arifin. Namun saat warga datang, ia belum tiba di Mapolresta.
Diberitakan, penangkapan tersebut setelah bentrok terkait sengketa lahan yang terjadi antara warga Teluk Bakau dengan perwakilan perusahaan pada Minggu (20/04). Ada lima korban di pihak PT Citra Tritunas Prakarsa.
Pemicu bentrokan diduga karena pihak perusahaan yang beraktivitas di lokasi, sementara belum semua warga mendapatkan kompensasi ganti rugi atas bangunan di atas lahan yang bersengketa.
Informasinya, ada 144 kepala keluarga (KK) yang terdampak di Teluk Bakau.
Konflik Berkepanjangan, Diduga Karena Intervensi Oknum Aparat
Jhon Making pimpinan PMKRI Wilayah Riau Kepri yang ditemui BatamNow.com, mengatakan informasi diperoleh dari warga bahwa ada dugaan aktor utama yang menyebabkan konflik di Teluk Bakau berkepanjangan hingga kini.
Disebutkannya, oknum itu berinisial AUT dan masih aktif berdinas di Kodim.
“Pihak keamanan dalam hal ini Polsek Nongsa tidak dapat mengintervensi atau mengatasi persoalan di Teluk Bakau karena adanya oknum TNI ini,” ujarnya.
Menurut informasi yg beredar di masyarakat, oknum TNI aktif ini sudah lama menjadi pemain lahan atau makelar tanah di Batam.
“Bahwa beliau mendapat dukungan dari jenderal-jenderal yang ada dipusat. Pertanyaannya kira-kira siapa jendral jenderal yang membekingi oknum TNI AUT selama ini. Saya sebagai perpanjangan tangan pengurus pusat PMKRI di wilayah Riau Kepri berharap agar Panglima TNI segera menyelidiki atau memberikan atensi kepada pimpinan Korem dan Kodim yang berada di wilayah Kepri dan Batam agar oknum tersebut segera ditertibkan atau diproses sesuai UU Militer,” kata Jhon.
PMKRI menegaskan, akan mendampingi warga Teluk Bakau membuat laporan resmi ke Polsii Militer.
“Dalam waktu dekat ini saya sendiri selalu pimpinan wilayah akan mendampingi pengurus PMKRI cabang Kota Batam dan masyarakat akan membuat laporan secara resmi ke Polisi Militer Kota Batam,” katanya. (Hendra)

