BatamNow.com – Tiongkok kembali memimpin sebagai pemasok utama impor ke Batam yang “membanjiri” sepanjang semester pertama 2025.
Menurut data BPS Batam, nilai impor dari Tiongkok mencapai US$ 3,28 miliar, mewakili hampir 50% dari total impor kota ini.
Pada Juni saja, nilai impor tersebut mencapai US$ 477,41 juta, meski turun drastis dibanding Mei dan Juni tahun sebelumnya.
Meski banyak proyek konstruksi dan industri di Batam dikelola oleh perusahaan Tiongkok, faktanya, baja, pipa, komponen elektronik, dan suku cadang, bahkan semen masih banyak yang diimpor langsung dari negaranya.
Ini menunjukkan minimnya peran bahan lokal dan komponen lokal dalam proyek-proyek besar yang dieksekusi di wilayah ini.
Dampak Ekonomi Lokal yang Semakin Tertinggal
Ketergantungan tinggi pada impor luar negeri, terutama dari Tiongkok.
Nilai tambah ekonomi dalam negeri minim, karena sebagian besar keuntungan kembali ke luar negeri.
Potensi defisit perdagangan lokal meningkat, jika ekspor tidak seimbang dengan impor.
Munculnya praktik TKA ilegal, yang mengancam kesempatan kerja lokal dan kepatuhan hukum.
Dominasi Tenaga Kerja Asing (TKA) dari Tiongkok
Laporan dari Dinas Tenaga Kerja Kota Batam menunjukkan bahwa jumlah TKA asal Tiongkok yang resmi sejumlah 1.539 orang
Untuk periode Januari-Februari 2025, dari 465 TKA yang bekerja, 139 adalah warga negara Tiongkok—menjadikan mereka kelompok TKA terbesar di kota ini.
Pada Maret 2025, total TKA di Batam tercatat 759 orang, dengan Tiongkok tetap memimpin kontribusi tenaga kerja asing sebesar 319 orang atau sekitar 30% dari total.
Batam Tak Hanya Jadi Pasar, Tapi Juga Panggung Asing
Sambil investasi dan proyek berkembang, jika bahan baku, teknologi, dan tenaga kerja tetap diimpor dari luar, maka Batam berisiko menjadi pos pasar pasif—bukan pusat industri berdaulat dan mandiri.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah Lokal?
Demi menjaga kemandirian dan kedaulatan ekonomi, pemerintah perlu menekankan bahwa investasi asing mewajibkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) akan produk dan bahan lokal dalam proyek konstruksi & manufaktur.
Selain itu perketat pengawasan dan tindak tegas praktik TKA ilegal.
Mendorong transfer teknologi dan pelatihan untuk tenaga kerja asli Batam.
Menerapkan kebijakan substitusi impor, menggantikan barang yang sudah bisa diproduksi lokal.
Batam bisa menjadi pusat industri mandiri jika dibangun dengan kebijakan yang berpihak pada rakyat dan ekonomi lokal.
Sudah saatnya Batam menjadi simbol kemandirian, bukan sekadar pintu masuk barang dan tenaga kerja asing.
Data diperoleh menunjukan bahwa komposisi negara pemasok impor ke Batam (Januari–November 2024), Kota Batam mencatat nilai impor dari berbagai negara dengan proporsi sebagai berikut:
Negara Asal | Nilai Impor (Juta USD) | Pangsa dari Total Impor (%)
- Tiongkok | 4.493,66 | 34,5%
- Singapura | 1.778,65 | 13,7%
- Jepang | 1.021,55 | 7,9%
- Taiwan | 830,32 | 6,4%
- Malaysia | 820,71 | 6,3%
- Korea Selatan | 611,03 | 4,7%
- Filipina | 424,66 | 3,3%
- Jerman | 342,31 | 2,6%
- Amerika Serikat | 316,44 | 2,4%
- Italia | 206,45 | 1,6%
- Total dari 10 negara utama | 10.845,79| 83,3%
- Negara lainnya 2.166,53 16,7%
- Total keseluruhan impor 13.012,32 100%
— Sumber: BPS Kota Batam
Adapun komposisi TKA di Batam sesuai data Disnaker Kota Batam per Juni 2025, dapat dilihat dari data 5 besar asal negara TKA di Batam:
- Cina: 1.539 orang
- India: 761 orang
- Malaysia: 495 orang
- Singapura: 362 orang
- Filipina: 293 orang. (A)

