BatamNow.com – Ratusan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Batam mendadak mengalami diare massal setelah menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan pada Selasa (11/11/2025).
Dari total 648 siswa MAN 2 Batam, sebanyak 235 orang mengalami sakit perut yang mulai terasa sejak pukul 19.00 WIB di hari itu.
Kepala Sekolah (Kepsek) MAN 2 Batam, Ernawati saat ditemui awak media mengatakan, tiga siswa bahkan harus dilarikan ke UGD di beberapa rumah sakit.
“MBG itu dibagikan pukul 12.00 siang, dan kami baru dapat laporan keluhan sekitar pukul 19.00 hingga 20.00 WIB. Tiga anak sempat dibawa ke UGD,” ujar Ernawati pada Jumat (14/11/2025).

Keesokan harinya, ratusan siswa absen karena sakit. Pihak sekolah yang khawatir langsung berkoordinasi dengan tim MBG, Puskesmas Tanjung Buntung, Kapolsek Bengkong, dan BIN untuk melakukan pengecekan.
Menu yang dibagikan pada hari itu terdiri dari dendeng, tahu goreng, timun, dan jeruk.
Ernawati menduga bahwa daging dendeng menjadi penyebab utama diare massal di MAN 2.
“Kata dokter, indikasinya karena makan daging. Dendeng ini sebenarnya enak, bahkan ada anak yang makan sampai dua atau tiga porsi, tapi malamnya malah sakit perut,” jelasnya.
Ernawati menambahkan bahwa menu daging memang pernah menimbulkan masalah kecil sebelumnya pada menu black pepper, namun rendang aman dikonsumsi siswa. Ia menduga teknik pengolahan daging yang kurang tepat menjadi penyebab masalah ini.
“Menurut saya, kalau masak daging dari freezer langsung dikasih air, bakterinya bisa menempel. Sebaiknya, daging didiamkan dulu beberapa jam sampai esnya mencair,” tuturnya.
Meski demikian, Ernawati menolak menyebut kejadian ini sebagai “keracunan” dan lebih memilih istilah “dugaan keracunan” karena hanya satu indikasi yang terpenuhi, yaitu diare.
Dapur SPPG Bengkong Laut 2, yang mendistribusikan makanan ke 14 sekolah di Kecamatan Bengkong, dihentikan sementara sejak Kamis untuk evaluasi. Menu dendeng sendiri baru pertama kali disajikan di MAN 2 Batam sejak program MBG berjalan per 16 Juli 2025.
“Kami masih menunggu hasil observasi resmi dari dinas kesehatan,” pungkas Ernawati. (H)

