BatamNow.com – Sebanyak 1.268 gram atau sekitar 1,2 kilogram (Kg) narkotika jenis sabu lolos melalui pelabuhan resmi Tanjung Balai Karimun dan akhirnya ditangkap di bandara di Kota Batam.
Kasus ini terungkap dari penangkapan yang dilakukan Bea dan Cukai Batam di Bandara Hang Nadim saat seorang kurir hendak melakukan perjalanan menggunakan pesawat tujuan Surabaya.
Pada Sabtu (22/11/2025), petugas Bea Cukai Batam mencurigai gerak-gerik AW (27) saat melewati pemeriksaan di terminal keberangkatan domestik.
Saat diperiksa, AW tampak gelisah dan tidak nyaman.
Pemeriksaan mendalam kemudian menemukan kejanggalan pada insole sepatu AW, dan petugas mendapati dua bungkus plastik sabu seberat 602 gram.
Pengembangan dilakukan, dan BC Batam bersama BNNP Kepri kembali menangkap AH (50) di kawasan Bengkong.

AH diduga merupakan kaki tangan pengendali jaringan tersebut. Dari lokasi tersebut, petugas kembali menemukan satu bungkus sabu seberat 666 gram yang disembunyikan di bawah tempat tidur.
Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan (P2) BC Batam, Muhtadi, mengatakan bahwa AW merupakan seorang buruh bangunan di Batam yang mendapatkan tawaran menjadi kurir sabu dari temannya berinisial MH asal Madura dengan imbalan Rp 70 juta.
“AW diperintah oleh MH untuk mengambil sabu dari Tanjung Balai Karimun dan membawanya ke Madura dengan upah Rp 70 juta serta diminta berkoordinasi dengan AH setelah sampai di Batam,” ujarnya dalam konferensi pers di Aula Kantor BC Batam, di Batu Ampar, Selasa (02/12/2025).

Pada Rabu (19/11), AW berangkat ke Tanjung Balai Karimun melalui Pelabuhan Domestik Sekupang.
Ia mengambil paket sabu dari seseorang suruhan MH di pinggir jalan dekat pelabuhan, kemudian kembali ke Batam melalui pelabuhan resmi Tanjung Balai Karimun.
Artinya, AW lolos membawa sabu dari dua pintu pelabuhan resmi: terminal keberangkatan di Karimun, dan terminal kedatangan di Sekupang, Batam.

Muhtadi membenarkan bahwa AW memang datang melalui pelabuhan domestik resmi. Lalu seperti apa pemeriksaan di pelabuhan?
“Iya benar, karena itukan domestik. Jadi kami memang sampai sekarang ini untuk domestik ini kan untuk masuk ya, memang belum ada ini ya. Jadi berdasarkan pemeriksaan untuk sampling, berdasarkan risk management untuk jadi enggak semua kita lakukan pemeriksaan,” ujarnya. (H)

