BatamNow.com – Dalam momentum Hari Jadi Batam ke-196 yang jatuh pada Kamis (18/12/2025), Analis Kebijakan Publik dan akademisi, Rikson Tampubolon SE MSi, menyampaikan lima catatan kritis mengenai arah pembangunan kota ini.
Catatan ini sekaligus menjadi peringatan agar Batam memasuki fase pembangunan yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan, terutama di tengah kompleksitas ekonomi dan lingkungan kota industri modern.

1. Tidak Semua Warga Tumbuh Bersama Batam
Batam menjadi penopang utama ekonomi Kepulauan Riau. BP Batam menunjukkan bahwa kota ini menyumbang sekitar 66 persen PDRB provinsi dan terus menarik investasi industri dan logistik.
Namun pertumbuhan tersebut belum menghadirkan pemerataan bagi semua warga. Data BPS mencatat 83.057 warga Batam hidup di bawah garis kemiskinan pada Maret 2024, sementara lebih dari 42 persen tenaga kerja masuk kategori pekerja rentan, termasuk pekerja kontrak fleksibel dan informal.
Ketimpangan semakin tampak ketika mencermati biaya hidup. UMK Batam 2024 sebesar kurang dari Rp 5 juta tidak mampu mengimbangi kebutuhan hidup layak rumah tangga yang diperkirakan mencapai Rp 8-9 juta per bulan.
Kondisi permukiman juga menunjukkan masalah serius dengan 54 titik kawasan kumuh menurut Kementerian PUPR. Angka-angka ini menegaskan bahwa sebagian warga hanya survive, bukan sejahtera, meskipun ekonomi kota tumbuh pesat.
2. Krisis Lingkungan yang Tidak Boleh Lagi Ditunda
Batam berada dalam situasi darurat lingkungan. Timbulan sampah mencapai 1.185–1.300 ton per hari pada 2023–2024, sementara kapasitas TPA Telaga Punggur semakin menipis.
Peristiwa masuknya ratusan kontainer limbah elektronik ke Batam memperlihatkan lemahnya pengawasan dan integritas tata kelola lingkungan.
Berbagai kelurahan juga menghadapi ancaman banjir akibat alih fungsi lahan dan buruknya sistem drainase.
Sebagai kota industri strategis, Batam tidak boleh bergantung pada paradigma pengelolaan sampah dan limbah yang usang. Kota ini membutuhkan reformasi kebijakan lingkungan yang lebih tegas dan transparan.

3. Mengembalikan Batam sebagai Kota Layak Huni
Pembangunan fisik yang masif belum diimbangi dengan kualitas hidup yang memadai. Transportasi publik masih terbatas pada jam operasional 06.00–18.00, padahal sekitar 60 persen pekerja industri bekerja dalam sistem shift.
Belum lagi titik penjemputan dan jumlah bus masih minim.Akses terhadap ruang publik masih minim dan persoalan air bersih berulang setiap tahun.
BP Batam dan Ombudsman mencatat 16–20 persen rumah tangga belum mendapatkan layanan air bersih secara memadai akibat keterbatasan produksi dan jaringan distribusi.
Kota industri besar tidak boleh hanya mendukung mesin ekonomi, tetapi juga harus mempertahankan kualitas hidup warganya: aman, sehat, inklusif, dan manusiawi.
4. Momen Penting Menguji Kepemimpinan Baru
Kepemimpinan baru di bawah Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra–sekaligus Ex Officio BP Batam–menghadirkan harapan sekaligus ujian.
Masyarakat membutuhkan pemimpin yang berani menata ulang tata kelola kota, memperkuat transparansi, memastikan integritas dalam perizinan, dan keberanian membuat reformasi kebijakan yang tidak populer tetapi perlu. Batam hanya akan setangguh integritas pemimpinnya.
5. Masa Depan Batam Ada pada Generasi Mudanya
Batam adalah kota muda. Lebih dari separuh penduduknya berada pada kelompok usia produktif, tetapi kebijakan pengembangan pemuda belum terstruktur dan belum didukung ekosistem talenta yang kuat.
Kota ini harus berinvestasi pada pendidikan vokasi, pengembangan teknologi, literasi digital, kepemimpinan muda, dan penciptaan ruang inovasi agar Batam menjadi pusat kreativitas di Asia Tenggara.
“Peringatan Hari Jadi Batam ke-196 seharusnya menjadi momentum koreksi bagi semua pemangku kepentingan. Batam memiliki potensi besar, tetapi potensi itu hanya akan terwujud jika keberanian, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat menjadi fondasi utama kebijakan,” tegas Rikson Tampubolon.
Ia menambahkan bahwa Batam harus mulai menegaskan identitas barunya sebagai kota industri yang maju secara ekonomi, bersih secara lingkungan, adil secara sosial, dan layak dihuni oleh semua warga. Sehingga kita yakin Kota ini jalan dan sedang menuju cita-cita, Batam Bandar Dunia Madani. (A)

