Pak Murni dari Geranting, Penjaja Ikan Ketengan Kaki Lima Ingin Bertemu Amsakar Achmad - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Pak Murni dari Geranting, Penjaja Ikan Ketengan Kaki Lima Ingin Bertemu Amsakar Achmad

05/Jan/2026 13:06
Getirnya Hidup Pak Murni dari Geranting ke Batam Jual Ikan Asin Ketengan Demi Menopang Hidup Keluarga

Pak Murni menjajakan ikan asin ketengannya di tangga kaki lima Adhya Building, Sukajadi. (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Di usianya yang hampir menginjak 65 tahun, Pak Murni masih berkeliling setiap hari di seputaran Sukajadi, Batam menjajakan dagangannya.

Namun saat di ajak bicara wartawan media ini dua minggu lalu, penjaja ikan asin ketengan asal Pulau Geranting, wilayah Kelurahan Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam itu, menyampaikan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Wali Kota Batam, Amsakar Achmad.

Pak Murni mengaku mengenal Amsakar dan pernah bertemu di Gedung LAM Kota Batam beberapa waktu lalu.

Kini, di tengah hidup yang semakin berat, harapan itu kembali ia ucapkan dengan sederhana.

“Saya mau ketemulah, mudah-mudahan bisa,” ucapnya lirih, penuh harap.

Getirnya Hidup dari Geranting ke Batam

Saya mengenal Pak Murni sekitar empat tahun lalu. Saat itu ia berkeliling menjajakan ikan asin ketengan di perumahan tempat saya tinggal, di kawasan Batam Kota.

Saya membeli dagangannya—sekadar berbagi rezeki dan pengin menggali siapa sebenarnya orang tua penjaja ikan yang berjalan tertatih ini.

Saat pertemuan kembali dua minggu lalu itu, di kawasan Sukajadi kala Pak Murni masih dengan kegiatan kesehariannya menenteng lalu menjajakan jualannya berupa ikan bilis dan lainnya.

Tubuhnya terlihat letih, kesehatannya pun sepertinya tak begitu baik. Namun ia tetap berjuang berkeliling menjajakan dagangannya ke tempat orang ramai, khususnya yang nongkrong di kafe di Sukajadi.

Setiap Malam Menumpang Tidur di Masjid

Hampir setiap malam, dari Sukajadi, Pak Murni selalu kembali ke Masjid Baiturrahman, Sekupang, tempat ia biasa menumpang tidur selama berada di Batam.

“Masih ke sana sejak beberapa tahun lalu,” katanya.

Ia biasa menumpang bus karyawan Rumah Sakit Awal Bros Batam. Dari Sukajadi, ia berjalan sekitar dua kilometer menuju halte.

“Kalau tak ada uang, ya jalan kaki,” katanya sambil tersenyum tipis.

Seharian berjualan hanya beberapa bungkus saja dagangannya yang laku. Satu bungkus plastik ikan asin seberat sekitar 70 gram dijual Rp 15.000.

Begitulah hidup yang ia lakoni hampir lima tahun terakhir: bolak-balik dari Pulau Geranting ke Batam, hanya untuk menjual ikan asin ketengan.

Ikan asin ketengan, dagangan Pak Murni. (F: BatamNow)

Tiga Hari Sekali Menyeberang Laut

Pak Murni datang ke Batam sekali dalam tiga hari menggunakan boat pancung dengan rute Geranting–Teluk Sunti–Teluk Bakau–Kasu–Sekupang. Ongkos sekali jalan Rp 40.000.

“Paling ramai penumpangnya 20 orang,” katanya.

Boat ini menjadi penghubung hidup warga pulau—mengangkut orang dan barang kebutuhan untuk dijual kembali di pulau-pulau hinterland.

Ritme kehidupan sehariannya di Batam: setelah salat Subuh, Pak Murni berkemas. Beberapa plastik berisi ikan asin ia tenteng, lalu naik bus kota menuju kawasan Sei Jodoh dan sekitarnya.

Dalam kondisi terbaik, ia bisa menjual sekitar 60 bungkus setiap tiga hari. Namun sering kali jauh dari itu. Kadang hanya 40 bungkus, 10 bungkus, bahkan pernah tak laku sama sekali. Sesekali 100 bungkus—itu pun jarang.

Margin keuntungannya hanya Rp 3.000 per bungkus.

Jika dalam sebulan nasib baik berpihak, ia menjual 2.000 bungkus, penghasilan kotor sekitar Rp 5 juta. Namun masih harus dipotong ongkos transportasi sekitar Rp 1 juta per bulan, belum termasuk biaya makan.

“Untuk makan cari yang murah saja, Pak. Kadang sehari sekali. Pagi tak makan. Malam di masjid cuma roti atau gorengan sama air putih,” tuturnya lirih.

Pak Murni bukan perokok. Batuk yang sesekali datang hanya diobati dengan obat batuk yang dibelinya dari minimarket.

Anak-anak yang Putus Sekolah

Di Pulau Geranting, Pak Murni tinggal di rumah pelantar di tepi pantai bersama istrinya, Imah, dan empat anak mereka: Rani (20 tahun) – putus sekolah, masih belajar mengaji; Suhada (16) – putus sekolah; Wahana (14) – ikut melaut; dan Iwan (13) – ikut melaut.

“Tak mampu bayar uang sekolah,” katanya dengan suara berat.

Dua anak lelakinya memilih ikut ke laut agar tidak lagi membebani orangtua. Selama  ini Pak Murni mengaku tak pernah menerima bantuan sosial apa pun dari Pemko Batan termasuk sebagai Lansia.

“Tak ngerti mau mengadu ke mana,” ujarnya polos.

Harapan di Tengah Riuh Batam

Di tengah gemerlap industri Batam dan APBD yang hampir menyentuh Rp 5 triliun tahun 2026, masih banyak kehidupan memprihatinkan seperti yang dialami Pak Murni—sunyi, getir, dan nyaris tak tersentuh.

Ia gagal menyekolahkan keempat anaknya. Bukan karena tak peduli pendidikan, melainkan karena tak sanggup menanggung kerasnya hidup.

Kini, harapan Pak Murni sederhana: bisa bertemu Wali Kota Batam, menyampaikan langsung kisah hidupnya, dan berharap ada secercah jalan keluar.

Semoga kisah ini tak berhenti hanya menjadi cerita.

Dan semoga tak banyak lagi “Pak Murni” lain dari pulau-pulau yang harus bertahan hidup dengan cara seperti ini. (Red)

Berita Sebelumnya

Universiti Malaya Wales Perkenalkan Program PhD Berbasis Riset di Awal 2026

Berita Selanjutnya

Menang Seleksi, Posbakumadin Batam Siap Layani Pencari Keadilan di Pengadilan Agama Batam

Berita Selanjutnya
Menang Seleksi, Posbakumadin Batam Siap Layani Pencari Keadilan di Pengadilan Agama Batam

Menang Seleksi, Posbakumadin Batam Siap Layani Pencari Keadilan di Pengadilan Agama Batam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com