BatamNow.com – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan komitmennya untuk menuntaskan persoalan krusial pelayanan air bersih (harusnya air minum perpipaan-Red) di Kota Batam.
Ia menyatakan tidak ingin lagi mendengar adanya isu krisis air bersih (air minum) di Batam tahun 2026 ini.
Amsakar bahkan berbicara tegas kepada jajarannya agar persoalan air minum benar-benar diselesaikan secara menyeluruh.
“Nggak ada ceritanya, pokoknya isu tentang air bersih tahun 2026 ini harus betul-betul hilang ceritanya dari Batam,” tegas Amsakar.
Pernyataan itu disampaikan Amsakar dalam Rapat Kerja Rancangan Awal Rencana Kerja (Ranja) Tahun 2027 yang digelar di Aula Balairungsari, Lantai 3 Gedung Bida Utama BP Batam, Batam Center, Rabu (04/02/2026).
@amsakarachmad Menatap masa depan Batam dengan perencanaan yang presisi. Bersama sahabat saya, Wakil Kepala BP Batam Ibu Li Claudia Chandra, beserta para Deputi dan jajaran pegawai BP Batam, melaksanakan Rapat Kerja Rancangan Awal Rencana Kerja Tahun 2027. Kami percaya bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus dimulai dari perencanaan yang matang dan terukur. Fokus kami mengoptimalkan anggaran agar tepat sasaran dan selalu berorientasi pada kepentingan masyarakat. Sinergi ini adalah komitmen kami untuk memastikan Batam terus tumbuh menjadi kota yang lebih maju, tertata, dan sejahtera bagi kita semua. #BPBatam #PembangunanBatam #Batam2027 #batamrumahkita #batammaju ♬ suara asli – Amsakar Achmad
Satu pernyataan yang dikutip BatamNow.com dari video yang diunggah di akun TikTok pribadi Amsakar.
Rapat tersebut dihadiri Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, para deputi, direktur, serta jajaran pegawai BP Batam.
Amsakar menekankan bahwa persoalan air minum harus diselesaikan, bersamaan dengan persoalan banjir dan sampah.
“Satu, bagaimana agar cerita soal air ini selesai. Yang kedua, bagaimana cerita agar soal banjir ini selesai. Soal air, soal banjir, soal sampah, bagaimana ceritanya agar semua ini selesai,” ujar Amsakar.
Permasalahan Air Minum Masih Berlanjut
Meski pernyataan tegas telah disampaikan, persoalan air minum di Batam hingga kini masih dirasakan masyarakat.
Pada 22 Januari 2026, ratusan warga Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, menggelar aksi demonstrasi di empat lokasi, yakni Kantor Wali Kota Batam, Kantor DPRD Batam, Kantor BP Batam, dan Kantor PT Air Batam Hilir (ABH).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas krisis air minum yang telah dialami warga selama berbulan-bulan.
Saat berorasi di depan Kantor BP Batam, situasi sempat memanas. Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra yang menemui massa aksi terlibat adu argumen dengan warga.
@batamnow Tensi aksi demonstrasi krisis air oleh warga Tanjung Sengkuang di depan Kantor BP Batam pada Kamis (22/01/2026) siang, sempat memanas. Awalnya, ratusan warga tiba sekira pukul 12.30 WIB di depan gerbang BP Batam yang telah ditutup dan dijaga personel kepolisian serta Ditpam. Selang beberapa waktu, Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan wakilnya Li Claudia Chandra keluar dari gedung dan menemui peserta aksi. Tampak hadir juga Kapolresta Barelang, Kombes Pol Anggoro Wicaksono dan Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait. Kemudian Amsakar yang berdiri di atas kap mesin bagian depan mobil polisi yang dilengkapi pengeras suara bersama Li Claudia di balik gerbang BP Batam, meminta perwakilan aksi untuk menyampaikan poin tuntutan. Syamsuddin pun membacakan tiga tuntutan warga (Tritura) Tanjung Sengkuang: segera alirkan air bersih, keadilan dalam distribusi air, dan permintaan mundur dari jabatan bila tidak melaksanakan dua tuntutan warga. Sebelum giliran Amsakar merespons tuntutan warga, massa aksi sempat protes ketika ada gestur menunjuk dari Li Claudia. “Woi jangan nunjuk-nunjuk,” begitu suara teriakan dari barisan peserta demo. Kemudian suasana kembali tenang, dan Amsakar menyampaikan tanggapannya. “Pertama, soal pelayanan air bersih tidak ada perbedaan kita sama dengan lain warga sini,” katanya, lalu dibalas sorakan protes dari warga. Namun, lanjut Amsakar, masih ada 18 stressed-area termasuk Tanjung Sengkuang, yang aliran air perpipaannya belum terdistribusi secara normal. Menurutnya sudah ada pengerahan armada truk air sebagai solusi sementara, meski memang belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan warga Tanjung Sengkuang. “Yang kedua kalau persoalan mundur, jangankan dari warga di hadapan OPD kalau dari 15 yang kami janjikan tidak selesai, tidak perlu Amsakar Achmad meneruskan jabatan,” tegasnya. Amsakar mengungkapkan, tender proyek untuk peningkatan infrastruktur air perpipaan ke Tanjung Sengkuang baru bisa dilaksanakn pada Februari nanti. “Jadi butuh waktu empat bulan paling cepat. Sementara menuju ke tahapan itu, kami akan lakukan pengiriman armada ke lokasi bapak/ibu,” katanya mengakhiri tanggapan atas tiga tuntutan warga. Selanjutnya giliran orator yang menanggapi respons Kepala BP Batam, hingga akhirnya menaikkan tensi di lokasi aksi. “Izin kepada yang terhormat bapak Kepala BP Batam hari ini yang hanya bisa mengandalkan argumen, tapi kenyataan di lapangan…” ucap Syamsuddin. Sontak Amsakar memprotes sambil menunjuk orator, “Bapak jangan menyerang personal, pak Syamsuddin. Bapak jangan menyerang personal”. Akhirnya orang nomor satu di Batam itu sampai memaksa turun dari atas mobil tempatnya berbicara, memprotes orator yang dituding menyerang personal. Namun langkahnya ditahan oleh beberapa orang di sana. Syamsudin menjawab bahwa tidak ada yang menyerang personal dalam penyampaian tuntutan aksi. Namun kemudian, giliran Wakil Kepala BP Batam Li Caludia Chandra yang memprotes. “Pak Syamsuddin, bapak titipan dari mana!” teriak Li Claudia dengan gestur menunjuk dan wajah dengan ekspresi yang sudah berubah. “Tidak ada, tidak ada, kami murni,” jawab Syamsuddin. Akhirnya Amsakar dan Li Claudia meninggalkan massa aksi, dan kembali ke gedung BP Batam. Tak pelak, tidak tercapai solusi dalam pertemuan itu. Warga Tanjung Sengkuang gagal mendapat tanda tangan pimpinan BP Batam untuk surat berisi tuntutan yang telah mereka persiapkan. Sayangkan Arogansi BP Batam Koordinator aksi sekaligus warga Tanjung Sengkuang, Harisdianto, menyayangkan adanya sikap yang dinilai arogansi dalam merespons aksi damai tersebut. “Kita sangat menyayangkan sikap yang menurut kita arogan ditunjukkan oleh BP Batam, yang mana massa aksi masih stabil, tidak memancing suatu keributan,” katanya kepada BatamNow.com, Kamis (22/01/2026). Ia mengapresiasi warga peserta aksi yang tidak terpancing atas tindakan pimpinan BP Batam… Baca selengkapnya di BatamNow.com #batampunyacerita #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Namun, pasca aksi demonstrasi, warga mengaku belum merasakan perbaikan signifikan terhadap pelayanan air minum dari pengelola SPAM.
Hingga kini, masyarakat Tanjung Sengkuang masih mengeluhkan distribusi air yang tidak normal.
Sejumlah pelanggan menyebutkan air hanya mengalir pada malam hari, itu pun dengan tekanan kecil. Di beberapa titik lain, air memang mengalir sepanjang hari, tetapi debitnya sangat lemah.
Meski demikian, kondisi tersebut masih dinilai membantu karena warga dapat menampung air untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, pada 5 Februari 2026, warga kembali mengeluhkan aliran air yang kembali mati, setelah sebelumnya sempat mengalir sesaat pasca demonstrasi.
“Setelah demo kemarin, air sempat mengalir. Tapi beberapa hari ini air kembali mati,” ujar warga RT 02/ RW 12 Tanjung Sengkuang.
Selain itu, warga juga mengeluhkan pendistribusian air menggunakan truk tangki yang dinilai belum mampu mencukupi kebutuhan seluruh warga.
SPAM BP Batam ‘Keteteran’ Distribusi Air Tangki
Di sisi lain, BP Batam mengakui kewalahan dalam mendistribusikan air melalui truk tangki akibat tingginya permintaan dari warga terdampak.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan kondisi ini terjadi seiring proses evaluasi dan penyesuaian rekayasa jaringan yang sebelumnya dilakukan untuk menstabilkan distribusi air.
BP Batam, kata dia, telah memetakan kebutuhan masing-masing wilayah. Di Tanjung Sengkuang, misalnya, satu RW sempat membutuhkan hingga 17 truk tangki per hari.
Setelah dilakukan rekayasa distribusi, kebutuhan tersebut berkurang menjadi sekitar 11 truk tangki per hari.
Saat ini, BP Batam memiliki 15 armada truk tangki dan menyewa tambahan 10 unit.
Namun jumlah tersebut masih dinilai belum mencukupi mengingat luasnya wilayah yang terdampak krisis air. (A)

