BatamNow.com – Direktur Badan Usaha SPAM, Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana menjelaskan kondisi tiga waduk penyuplai air baku yang mengalami penurunan tinggi muka air (TMA) secara signifikan.
Data yang dikirimkan Iyus kepada BatamNow.com, Waduk Muka Kuning yang mengalami penurunan signifikan. Per 30 Maret 2026, permukaan air waduk di Kecamatan Sei Beduk itu turun 2,5 meter dari top spill (batas tinggi maksimum) 25 meter.
Lalu permukaan air Waduk Nongsa turun 2,01 meter dari top spill 10 meter.
Sementara Waduk Sei Harapan, permukaan airnya turun 0,63 meter dari top spill 9,50 meter.
Iyus mengungkapkan, BP Batam juga tengah menjajaki koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk modifikasi cuaca bila TMA waduk terus menurun.
“BP Batam saat ini sedang melakukan koordinasi dengan BMKG Batam dan pusat khususnya deputi bidang modifikasi cuaca untuk penjajakan melakukan modifikasi cuaca jika tidak terjadi hujan atau TMA mendekati minimum operasional waduk,” jelas Iyus kepada BatamNow.com, Selasa (31/03/2026).
Catatan BatamNow.com, hujan merata dengan intensitas tinggi di Batam terakhir kali pada 19 Februari, atau sudah hampir satu setengah bulan yang lalu. Hujan saat itu bahkan menyebabkan banjir di sejumlah titik.
Kemarin, Senin (30/03), Pemko Batam menggelar salat istisqa yang mendoakan agar hujan turun.
Sementara dalam keterangan resmi Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan, bahwa kondisi cuaca saat ini hinggga satu minggu ke depan masih didominasi cerah berawan, dan diperkirakan hujan secara sporadis/tidak merata baru terjadi pada awal April.
Hal itu katanya, mengingat kondisi angin musim barat masih menguat dan kondisi El Nino dalam keadaan netral dan menuju El Nino lemah mulai Juni yang akan datang.
“Sehingga hujan yang agak merata di Kepri diperkirakan pertengah April hingga bulan Mei,” jelas Ramlan.
Untuk itu, seluruh BPBD se-Kepulauan Riau (Kepri) perlu mewaspadai masih adanya kekeringan dan potensi terjadinya kebakaran lahan, kekeringan yang lebih parah terjadi di Natuna, Anambas dan Bintan bagian timur.
Iyus: Rationing Jalan Terakhir
Bila kemarau panjang tetap terjadi dan kapasitas air baku terus menurun di waduk-waduk milik BP Batam, Iyus mengungkapkan tak menutup kemungkinan akan diberlakukan penjatahan (rationing) aliran air minum perpipaan.
Namun, lanjutnya, rationing adalah langkah terakhir bila waduk sudah mencapai minimum level operasional dan teknologi modifikasi cuaca sudah ditempuh.
“Rationing merupakan jalan terakhir ketika ketersediaan air waduk sudah mencapai minimum level operasional waduk, namun sebelum langkah itu dilakukan BP Batam bekerjasama dengan BMKG melakukan modifikasi cuaca,” kata Iyus.
Sebagai informasi, rencana rationing distribusi air di Batam juga pernah mencuat kala kemarau panjang melanda di tahun 2020.
Saat itu, pengelola air minum sebelumnya yakni PT Adhya Tirta Batam menyebut kondisi Waduk Duriangkang yang permukaan airnya menurun 3,2 meter dari top spill. Waduk itu menyusut 2 centimeter per hari.
Rationing yang direncanakan kala itu dengan skenario lima hari menyala dan dua hari mati (5:2). Namun akhirnya, rencana itu urung dilakukan. (D)

