BatamNow.com – Tiga siswa SMPIT Insan Harapan Tembesi yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas (laka) tunggal di kawasan Galang dikenal sebagai pribadi yang sopan, ramah, dan tidak pernah bermasalah di sekolah.
Ketiga almarhum diketahui bernama Rino Arif Bakhtiar (kelas 8B), Safaraz Akma (kelas 9B), dan Ruhalzan Syakir (kelas 9B). Mereka merupakan siswa aktif di SMPIT Insan Harapan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun pihak sekolah, sebelum kecelakaan terjadi, ketiganya sempat pergi memancing di sebuah danau yang berada di dekat rumah salah satu korban, tidak jauh dari kawasan Jembatan 1 Barelang.
Kepala Sekolah SMPIT Insan Harapan, Sri Nurhayati, mengatakan bahwa ketiga siswa tersebut dikenal sebagai anak-anak yang baik dan rajin beribadah.
“Mereka bertiga baik, sopan dan ramah, mereka tidak pernah buat masalah di sekolah. Memang hobinya memancing, ada warga yang bilang sebelumnya mereka juga memancing di danau dekat rumah Rino. Kami merasa sangat kehilangan tadi wali kelas saat masuk menangis juga,” ujarnya dengan haru saat ditemui di sekolah.
Sri juga mengaku sempat berbincang dengan anak dari warga yang mengetahui kejadian tersebut. Dari keterangan saksi, kecelakaan terjadi setelah kendaraan yang ditumpangi korban menabrak tiang di pinggir jalan.
“Anak itu yang memberi tahu sama bapaknya, kemudian bapaknya menelepon polisi,” tambahnya.
Wali kelas Safaraz, Mayzura, mengatakan komunikasi terakhir dengan siswanya itu terjadi pada Kamis saat kegiatan belajar mengajar.
“Terakhir berkomunikasi saat saya mengajar di kelas waktu saya memberi tugas untuk dikerjakan hari itu sekitar jam 14.00, setelah itu kan libur. Mereka bertiga ini memang baik di pendiam tapi ramah,” ujarnya.
Sementara itu, Bima, teman sekelas Rino, mengaku sangat kehilangan sosok sahabatnya yang dikenal suka berbagi.
“Rino orangnya baik, saya merasa kehilangan tadi pas masuk kelas seperti ada yang kurang,” ungkapnya.
Di sisi lain, orang tua Safaraz, Alwani, mengaku tidak memiliki firasat apapun sebelum kejadian tragis tersebut. Ia menyebut anaknya memang memiliki hobi memancing dan telah meminta izin sejak malam sebelumnya.
“Anak saya ini memang hobinya memancing, karena menurut saya ini positif saya tidak pernah mempersempit ruang hobinya, jadi kalau libur dia mengisi waktunya dengan memancing,” ujarnya saat ditemui di rumah duka.
Alwani yang juga seorang guru di SD 016 Blongkeng menuturkan, Safaraz berangkat memancing sekitar pukul 05.30 WIB usai menunaikan salat subuh.
“Kebetulan hari Minggu saya belanja ke SP. Setelah itu saya sampai rumah sekitar jam 09.00 ada panggilan tak terjawab dan WA dari Polsek Galang. Setelah itu saya telepon balik katanya anak saya kecelakaan dan sudah dibawa ke RS Embung Fatimah dan kami langsung pergi ke sana,” jelasnya.
Ia menambahkan, tidak ada tanda-tanda mencurigakan sebelum kejadian. Namun, sang istri sempat mengingat momen terakhir bersama anaknya.
“Tapi kalau dari mamanya bilang sebelum pergi dia minta cium sama mamanya dan malam dia menyisir rambut mama. Tapi menurut saya itu biasa karena anak terakhir biasa seperti itu sama mamanya,” pungkasnya. (H)

