BatamNow.com – Jurnalis, aktivis, hingga masyarakat sipil di Batam menggelar aksi memperingati World Press Freedom Day (WPFD) atau Hari Kebebasan Pers Sedunia, Senin (04/05/2026).
Aksi diawali dengan orasi di depan pintu masuk Gedung DPRD Batam lalu dilanjutkan ke depan Kantor Wali Kota Batam yang hanya terpisah Jalan Engku Putri.
Pantauan di lokasi, massa membawa perlengkapan aksi seperti poster dan spanduk yang memuat tulisan mengekspresikan perjuangan atas pers yang bebas dari intervensi apapun, serta mendesak pengusutan tuntas kasus penyiraman air keras kepada aktivis Andrie Yunus.
Aksi massa ini mengusung tema “Lawan Pembungkaman Pers Gaya Baru-Hentikan Swasensor” yang disampaikan lewat orasi, musikalisasi puisi, aksi teatrikal, dan pernyataan sikap bersama.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam, Yogi Eka Sahputra dalam orasinya menyinggung masih ada kasus di Batam terkait pers yang dibawa ke ranah kepolisian.
“Main lapor ke kepolisian, itu tidak masuk dalam aturan yang kita pahami dalam jurnalistik. Seharusnya setiap sengketa pers dibawa ke Dewan Pers, bukan ke kantor polisi,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan seluruh pihak untuk menghentikan segala bentuk pembungkaman terhadap pers, baik secara fisik maupun nonfisik.
Sementara aksi teatrikal yang dipertunjukkan, meyampaikan bagaimana pihak berkuasa mengekang pers yang kritis.

Kemudian ditampilkanjuga musikalisasi puisi oleh aktivis dari NGO Akar Bhumi Indonesia (ABI).
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam, Muhammad Khafi Anshary menyoroti bagaimana kebebeasan pers yang terlihat gagah di slogan, namun rapuh dalam implementasi di lapangan.
“Para penguasa juga mengabaikan, kami ini hanya penyampai suara masyarakat, bukan musuh dari penguasa,” ujarnya.
Aksi ini diikuti juga oleh wartawan dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Pewarta Foto Indonesia (PFI), Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ), Lembaga Bantuan Hukum Mahasiswa (LBH MK), dan lainnya.

Aksi Massa Perdana dalam Tiga Bulan Terakhir
Catatan BatamNow.com, unjuk rasa yang diinisiasi oleh jurnalis ini adalah aksi massa perdana yang baru digelar lagi dalam tiga bulan terakhir di depan kantor pemerintahan.
Melihat kondisi ini, AJI Batam mengingatkan kembali kepada masyarakat Batam kebebasan berekspresi harus tetap dijaga.
“Ekspresi itu bisa disampaikan. Jangan sampai ketika mau berekspresi kemudian ada intimidasi, aksi-aksi di jalan tidak ada lagi. Jadi kita mau menunjukkan bahwasanya Kota Batam, atau Provinsi Kepri masih bisa menjaga kita untuk menyampaikan ekspresi,” pesan Yogi.
“Jangan takut untuk menyampaikan ekspresi di depan publik. AJI, Aliansi Jurnalis Independen Kota Batam akan selalu membantu kawan-kawan yang ingin menyampaikan ekspresi dan akan kita lindungi bersama-sama,” tambahnya.
Sebagai informasi, kali terakhir masyarakat menggelar aksi massa di depan kantor pemerintahan adalah saat warga Tanjung Sengkuang demonstrasi soal krisis air, Kamis (22/01/2026), tiga bulan yang lalu.
Saat itu, unjuk rasa damai dilaksanakan mulai dari depan Kantor Wali Kota Batam hingga ke depan Kantor BP Batam.
@batamnow Tensi aksi demonstrasi krisis air oleh warga Tanjung Sengkuang di depan Kantor BP Batam pada Kamis (22/01/2026) siang, sempat memanas. Awalnya, ratusan warga tiba sekira pukul 12.30 WIB di depan gerbang BP Batam yang telah ditutup dan dijaga personel kepolisian serta Ditpam. Selang beberapa waktu, Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan wakilnya Li Claudia Chandra keluar dari gedung dan menemui peserta aksi. Tampak hadir juga Kapolresta Barelang, Kombes Pol Anggoro Wicaksono dan Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait. Kemudian Amsakar yang berdiri di atas kap mesin bagian depan mobil polisi yang dilengkapi pengeras suara bersama Li Claudia di balik gerbang BP Batam, meminta perwakilan aksi untuk menyampaikan poin tuntutan. Syamsuddin pun membacakan tiga tuntutan warga (Tritura) Tanjung Sengkuang: segera alirkan air bersih, keadilan dalam distribusi air, dan permintaan mundur dari jabatan bila tidak melaksanakan dua tuntutan warga. Sebelum giliran Amsakar merespons tuntutan warga, massa aksi sempat protes ketika ada gestur menunjuk dari Li Claudia. “Woi jangan nunjuk-nunjuk,” begitu suara teriakan dari barisan peserta demo. Kemudian suasana kembali tenang, dan Amsakar menyampaikan tanggapannya. “Pertama, soal pelayanan air bersih tidak ada perbedaan kita sama dengan lain warga sini,” katanya, lalu dibalas sorakan protes dari warga. Namun, lanjut Amsakar, masih ada 18 stressed-area termasuk Tanjung Sengkuang, yang aliran air perpipaannya belum terdistribusi secara normal. Menurutnya sudah ada pengerahan armada truk air sebagai solusi sementara, meski memang belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan warga Tanjung Sengkuang. “Yang kedua kalau persoalan mundur, jangankan dari warga di hadapan OPD kalau dari 15 yang kami janjikan tidak selesai, tidak perlu Amsakar Achmad meneruskan jabatan,” tegasnya. Amsakar mengungkapkan, tender proyek untuk peningkatan infrastruktur air perpipaan ke Tanjung Sengkuang baru bisa dilaksanakn pada Februari nanti. “Jadi butuh waktu empat bulan paling cepat. Sementara menuju ke tahapan itu, kami akan lakukan pengiriman armada ke lokasi bapak/ibu,” katanya mengakhiri tanggapan atas tiga tuntutan warga. Selanjutnya giliran orator yang menanggapi respons Kepala BP Batam, hingga akhirnya menaikkan tensi di lokasi aksi. “Izin kepada yang terhormat bapak Kepala BP Batam hari ini yang hanya bisa mengandalkan argumen, tapi kenyataan di lapangan…” ucap Syamsuddin. Sontak Amsakar memprotes sambil menunjuk orator, “Bapak jangan menyerang personal, pak Syamsuddin. Bapak jangan menyerang personal”. Akhirnya orang nomor satu di Batam itu sampai memaksa turun dari atas mobil tempatnya berbicara, memprotes orator yang dituding menyerang personal. Namun langkahnya ditahan oleh beberapa orang di sana. Syamsudin menjawab bahwa tidak ada yang menyerang personal dalam penyampaian tuntutan aksi. Namun kemudian, giliran Wakil Kepala BP Batam Li Caludia Chandra yang memprotes. “Pak Syamsuddin, bapak titipan dari mana!” teriak Li Claudia dengan gestur menunjuk dan wajah dengan ekspresi yang sudah berubah. “Tidak ada, tidak ada, kami murni,” jawab Syamsuddin. Akhirnya Amsakar dan Li Claudia meninggalkan massa aksi, dan kembali ke gedung BP Batam. Tak pelak, tidak tercapai solusi dalam pertemuan itu. Warga Tanjung Sengkuang gagal mendapat tanda tangan pimpinan BP Batam untuk surat berisi tuntutan yang telah mereka persiapkan. Sayangkan Arogansi BP Batam Koordinator aksi sekaligus warga Tanjung Sengkuang, Harisdianto, menyayangkan adanya sikap yang dinilai arogansi dalam merespons aksi damai tersebut. “Kita sangat menyayangkan sikap yang menurut kita arogan ditunjukkan oleh BP Batam, yang mana massa aksi masih stabil, tidak memancing suatu keributan,” katanya kepada BatamNow.com, Kamis (22/01/2026). Ia mengapresiasi warga peserta aksi yang tidak terpancing atas tindakan pimpinan BP Batam… Baca selengkapnya di BatamNow.com #batampunyacerita #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Demonstrasi itu sebagaimana aksi pada umumnya. Namun situasi akhirnya menjadi panas ketika pimpinan BP Batam yang hadir, menyebut orator menyerang personal dan bahkan mempertanyakan kemurnian aksi.
Bahkan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) yang biasanya dirayakan dengan aksi turun ke jalan dan menyuarakan tuntutan hak, tak begitu lagi pada tahun ini di Batam. (D)

