BatamNow.com – BP Batam bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta AirNav Indonesia melaksanakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Batam pada Mei 2026.
Tujuannya, untuk mengantisipasi potensi kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung pada Juni hingga Agustus 2026.
Operasi modifikasi cuaca tersebut dilakukan dengan metode penyemaian Natrium Klorida (NaCl) atau garam ke awan yang memiliki potensi hujan guna mempercepat proses turunnya hujan.
Dalam siaran pers sebelumnya, Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga ketersediaan air baku di Batam di tengah ancaman musim kemarau.
“Operasi TMC ini dilakukan untuk menghadapi fenomena kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung pada Juni sampai Agustus 2026,” ujar Denny dalam siaran pers itu.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, menegaskan bahwa operasi TMC bukan untuk menciptakan hujan, melainkan mempercepat proses hujan dari awan yang memang telah memiliki potensi.
“Operasi ini bukan menciptakan hujan, tetapi mempercepat turunnya hujan dari awan yang sudah memiliki bibit hujan,” kata Ramlan.
Dalam operasi tersebut, bahan semai NaCl diterbangkan menggunakan pesawat Cessna PK-AKR milik PT Elang Nusantara Air (ENA) dari Bandara Hang Nadim Batam.
Setiap penerbangan membawa sekitar 800 kilogram hingga satu ton bahan semai garam, tergantung potensi pertumbuhan awan di wilayah target.
Menurut Ramlan, dalam satu hari operasi dapat dilakukan satu hingga dua kali penerbangan apabila kondisi cuaca memungkinkan.
“Rata-rata satu ton tergantung potensi pertumbuhan awan,” ujarnya.
Namun hingga Jumat (22/05), operasi penyemaian baru dilakukan sebanyak tujuh kali penerbangan sejak dimulai pada 15 Mei 2026.
Ramlan menjelaskan, minimnya jumlah penerbangan disebabkan sejumlah kendala teknis dan cuaca, termasuk tipisnya potensi awan hujan serta penyesuaian area terbang dengan lalu lintas penerbangan di sekitar Bandara Hang Nadim.
“Baru tujuh kali terbang karena beberapa kendala, seperti potensi awan hujan yang tidak memadai, area terbang yang harus clear dari penerbangan lain, dan kendala teknis lainnya,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa dalam dua hari terakhir penyemaian tidak dilakukan karena potensi awan dinilai terlalu tipis.
“Hari kemarin dan hari ini tidak dilaksanakan penyemaian karena potensi awannya tipis,” tambah Ramlan, Jumat (22/05).
Operasi TMC tersebut direncanakan berlangsung selama satu bulan dan akan dievaluasi secara berkala setiap pekan atau 10 hari.
“Bila potensinya masih ada, operasi bisa berlanjut,” ujarnya.
Terkait anggaran, Ramlan memperkirakan biaya operasi TMC di sejumlah daerah lain berkisar antara Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per hari operasi, tergantung jenis pesawat, biaya avtur, sewa hanggar, dan intensitas penerbangan.
“Kalau di Batam mungkin bisa lebih murah karena jenis pesawat yang digunakan berbeda, tapi juga bisa lebih mahal mengingat harga avtur saat ini cukup tinggi,” katanya.
Dengan estimasi tersebut, apabila operasi dilakukan penuh selama satu bulan, kebutuhan anggaran diperkirakan dapat mencapai miliaran rupiah.
Informasi yang diperoleh menyebutkan biaya satu kali operasi penerbangan modifikasi cuaca dengan pesawat khusus dapat mencapai ratusan juta rupiah, terutama jika frekuensi penerbangan ditingkatkan sesuai kebutuhan cuaca.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Denny Tondano yang dihubungi melalui pesan WhatsApp belum memberikan penjelasan lebih lanjut terkait rincian total anggaran operasi modifikasi cuaca tersebut. (A)

