Konferensi Waligereja Indonesia Resmikan Sentrum Caritas Batam untuk Latih PMI dan Cegah TPPO - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Konferensi Waligereja Indonesia Resmikan Sentrum Caritas Batam untuk Latih PMI dan Cegah TPPO

by BATAM NOW
29/Mei/2026 16:48
Konferensi Waligereja Indonesia Resmikan Sentrum Caritas Batam untuk Latih PMI dan Cegah TPPO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC, meresmikan Sentrum Caritas di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Jumat (29/05/2026).

Sentrum Caritas difungsikan sebagai Balai Latihan Kerja dan Pusat Informasi Migran (BLK-PIM) guna mendukung migrasi aman dan mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Sentrum Caritas dibangun di lokasi yang sama dengan Shelter Migran St. Theresia Batam dan merupakan kerja sama antara Caritas Indonesia dengan Komisi Keadilan dan Perdamaian Pastoral Migran dan Perantau (KKPPMP) Keuskupan Pangkalpinang.

 

Peresmian dihadiri sekitar 150 peserta dari unsur pemerintah, enam uskup, perwakilan Caritas Internasional dan Indonesia, perwakilan KKPPMP, Perwakilan Tarekat, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi dari keuskupan se-regio Sumatera, LSM/NGO pegiat isu migran dan anti-TPPO.

Kehadiran Mgr. Anton mewujudkan dukungan KWI atas karya di bidang pendampingan migrasi aman yang minim risiko TPPO di Sentrum Caritas ini.

Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, RD Fredy Rante Taruk mengatakan, pendirian Sentrum Caritas ini menjadi jawaban atas keprihatinan Caritas Indonesia dan KKPPMP Keuskupan Pangkalpinang akan perlunya peningkatan keterampilan dan kapasitas bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Selain itu, Batam selama ini diketahui menjadi pusat lalu lintas PMI dan tempat transit bagi migran, baik yang punya kelengkapan dokumen maupun tidak. Hal ini menjadi alasan pemilihan Batam sebagai tempat pendirian Sentrum.

Selama tahun 2025, Kantor Imigrasi Batam mencatat 5.659 penundaan keberangkatan di berbagai pintu keluar wilayah Batam.

Penundaan ini dengan alasan dokumen keberangkatan yang tidak lengkap yang mengindikasikan adanya indikasi PMI non prosedural dan risiko Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Romo Fredy menyampaikan, pendirian Sentrum Caritas ini menjadi wujud perhatian Gereja Katolik pada isu migran dan sebagai pusat pendampingan bagi korban TPPO.

Ia menambahkan, “Sejak masa Paus Fransiskus, Gereja Katolik menunjukkan perhatian istimewa pada isu-isu migran. Romo Fredy juga menyebutkan, perhatian Gereja Katolik Indonesia untuk isu migran ini dilandaskan pada keprihatinan di mana ada banyak PMI yang selama ini menjadi korban TPPO”.

Sementara itu, Direktur Shelter Santa Theresia Batam dan Sentrum Caritas, RD. Chrisanctus Paschalis Saturnus mengatakan, di Sentrum Caritas para pekerja migran akan mendapat pelatihan keterampilan dan pendampingan agar bisa mengatasi kerentanan sebagai migran.

Pelayanan di Sentrum Caritas ini juga mencakup pendampingan hukum bagi para pekerja migran dan korban TPPO.

Romo Paschal berharap, kehadiran Sentrum Caritas dapat menyediakan informasi dan pelayanan yang bisa diandalkan bagi para PMI dan korban TPPO.

Selama ini, Shelter Santa Theresia Batam telah menjadi pusat pendampingan korban TPPO yang ada di Batam.

Ia mengatakan, korban TPPO umumnya terdorong faktor ekonomi sehingga terpaksa mencari kesempatan bekerja di luar negeri melalui jalur ilegal.

Menrutu Romo Paschal, kehadiran Sentrum Caritas akan memperkuat dan memperluas karya yang selama ini dijalankan Shelter Migran St. Theresia.

“Dalam banyak kasus, perdagangan orang melekat dan beririsan dengan berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi pada yang rentan, seperti kekerasan seksual, psikis, fisik, penelantaran, dan perbudakan modern. Itu sebabnya problem migrasi kerap terkait erat dengan kekerasan berbasis gender  yang menyasar anak-anak dan perempuan. Kaum rentan lainnya seperti penyandang disabilitas juga kerap jadi sasaran TPPO. Itu sebabnya Sentrum Caritas ini dapat menjadi model perlindungan kelompok rentan, migran, yang memberikan ruang aman dan pendampingan bagi yang membutuhkan,” ungkap Romo Paschal.

Selain Mgr. Anton, peresmian Sentrum Caritas ini juga dihadiri beberapa uskup yaitu: Mgr. Adrianus Sunarko (Uskup Pangkalpinang); Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF (Ketua Badan Pembina Yayasan Karina-KWI); Mgr. Siprianus Hormat (Sekretaris Badan Pembina Yayasan Karina-KWI); Mgr. Fransiskus Tuaman Sinaga (Anggota Badan Pengawas Yayasan Karina-KWI); Mgr. Riana Prapdi (Ketua Badan Pengurus Yayasan Karina-KWI); Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ (Wakil Ketua Badan Pengurus Yayasan Karina-KWI); Mgr. Yohanes Harun Yuwono (Uskup Agung Pelembang); dan Mgr. Agustinus Agus, OP (Uskup Agung Emeritus Pontianak). (*)

Berita Sebelumnya

SMSI Dukung ADI Perjuangkan Kelayakan Gaji Dosen

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com