BatamNow.com – BP Batam gencar mempromosikan Bandara Internasional Hang Nadim sebagai hub logistik nasional dan internasional.
Namun di balik ambisi tersebut, sebuah fakta menunjukkan ironi. Bukan hanya pembangunan Terminal II Penumpang yang belum terealisasi, Terminal Kargo Baru senilai sekitar Rp 116 miliar juga belum dioperasikan meski pembangunannya telah rampung sejak 2022, atau empat tahun yang lalu.
Akibatnya, aset yang dibangun menggunakan dana Badan Layanan Umum (BLU) BP Batam itu belum memberikan manfaat ekonomi, sementara biaya pemeliharaan terus berjalan.
Kondisi tersebut menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan BP Batam Tahun 2024 yang dipublikasikan pada Juli 2025.
Berdasarkan observasi BPK pada 14 Maret 2025, Terminal Kargo Baru belum dimanfaatkan secara optimal karena belum dioperasikan.
Menurut BPK, kondisi itu mengakibatkan BP Batam berpotensi terbebani biaya pemeliharaan atas aset yang belum dimanfaatkan serta kehilangan potensi penerimaan dari operasional terminal secara tepat waktu.
Terminal Kargo Baru Belum Diserahterimakan
Di satu sisi, BP Batam terus mengampanyekan Bandara Hang Nadim sebagai motor pertumbuhan ekonomi dan logistik nasional maupun internasional.
Namun di sisi lain, aset bernilai ratusan miliar rupiah tersebut belum menghasilkan manfaat dan malah tengkurap.
Terminal Kargo Baru memiliki luas sekitar 9.600 meter persegi (m²) dengan apron sepanjang 500 meter dan lebar 168 meter yang mampu melayani hingga lima pesawat berbadan lebar jenis Boeing 777.
Nilai asetnya terdiri atas gedung dan bangunan sekitar Rp 108 miliar, peralatan dan mesin Rp 5,9 miliar, serta jaringan Rp 1,7 miliar, sehingga totalnya mencapai sekitar Rp 116 miliar.
Pantauan BatamNow.com, hingga kini aset tersebut belum diserahterimakan BP Batam kepada PT Bandara Internasional Batam (BIB) untuk dioperasikan menggantikan terminal kargo lama.
Kondisi ini diklaim turut berdampak pada rencana pembangunan Terminal II Bandara Hang Nadim senilai sekitar Rp 2,7 triliun yang telah dilakukan peletakan batu pertama pada 2024, namun hingga kini belum terealisasi.
PT BIB sebelumnya menyatakan pembangunan Terminal II belum dapat dimulai karena terminal kargo lama masih digunakan.
Selain itu, BP Batam juga disebut belum melengkapi sejumlah utilitas dan fasilitas penunjang operasional Terminal Kargo Baru dengan nilai sekitar Rp 31 miliar.

PT BIB Usulkan Skema Revenue Sharing
Dalam dokumen pemeriksaan BPK dijelaskan, PT BIB mengusulkan pemenuhan kekurangan fasilitas Terminal Kargo Baru melalui mekanisme pengurangan porsi revenue sharing BP Batam.
Kekurangan fasilitas tersebut meliputi pekerjaan sipil, elektrikal, ICT dan elektro, timbangan, meubelair, pengujian (commissioning), serta pekerjaan pendukung lainnya dengan total nilai sekitar Rp 31 miliar.
Sementara itu, BP Batam mengusulkan skema kompensasi berupa perubahan jangka waktu konsesi.
Perbedaan skema tersebut diduga menjadi salah satu penyebab belum beroperasinya Terminal Kargo Baru.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari BP Batam maupun PT BIB mengenai perkembangan penyelesaiannya.
Pengelola Terminal Lama Berganti
BatamNow.com juga memperoleh informasi yang masih menunggu konfirmasi bahwa pengelolaan Terminal Kargo Lama telah beralih dari PT Persero Batam kepada PT Integrasi Aviasi Solusi (IAS), anak perusahaan InJourney Aviation Services.
BatamNow.com telah meminta konfirmasi kepada BP Batam terkait penyebab belum dioperasikannya Terminal Kargo Baru, belum diserahterimakannya aset kepada PT BIB, serta progres penyelesaian kekurangan fasilitas. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan.
Demikian juga manajemen PT BIB perusahaan konsorsium Incheon Airport Korea, Angkasa Pura dan WIKA itu, belum memberi respons.
Mangkraknya aset senilai Rp 116 miliar tersebut menjadi sorotan publik. Sejumlah pemerhati meminta Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi.
“Ini penting agar pimpinan BP Batam dapat melihat langsung penyebab belum beroperasinya terminal kargo baru dan segera mengambil langkah penyelesaiannya,” ujar Parodi, seorang pemerhati publik. (A/Red)

