BatamNow.com – Dua pekan upaya pembersihan tumpahan limbah atas insiden kandasnya Kapal LCT Mutiara Garlib Samudera (MGS) di perairan Pulau Dangas dan daratan di Kecamatan Sekupang, masih berlangsung.
Salah seorang petugas pengelola pantai pemancingan, Novrianto, yang dijumpai BatamNow.com menjelaskan bahwa setelah kapal itu kandas dan sebagian muatannya terdampar di sekitar Pantai Tangga Seribu hingga ke tempatnya, perusahaan langsung mengerahkan puluhan orang untuk mengumpulkan jumbo bag yang terdampar di bibir pantai.
“Perusahaan mengerahkan puluhan orang untuk mengutip jumbo bag yang mendarat ke bibir pantai, puluhan orang itu merupakan dari pihak perusahaan,” kata Novri kepada BatamNow.com di pelataran pantai pemancingan.
Pantai pemancingan itu berjarak ±1 kilometer (Km) dengan perairan tempat kandasnya kapal.
Selain pihak perusahaan mengerahkan puluhan orang untuk membersihkan bibir pantai itu, masyarakat nelayan yang tergabung dalam Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Sekupang, juga ikut membantu dalam pembersihan serta diberi kompensasi upah oleh perusahaan.
“Masyarakat di sini juga ikut membantu, termasuk KNTI, tapi kita kerja bukan gotong royong. Kita ikut membantu membersihkan limbah yang tercecer itu digaji, perusahaan tidak menyuruh dengan cuma-cuma,” ujarnya.
Hampir dua minggu lamanya, kata Novri, pihak perusahaan terus bekerja untuk membersihkan sisa-sisa limbah yang tercecer di bibir pantai yang merupakan bebatuan.
“Selama dua minggu ini, warga di sini dan pihak perusahaan juga bekerja membersihkan bibir pantai setiap harinya,” kata Novri.

Selain mengumpulkan jumbo bag, warga dan pihak perusahaan juga membersihkan batu-batu yang ada di bibir pantai itu dengan menyemprotkan air sabun (Spray chemical sabun) yang terdampak minyak.
Pada Rabu (04/02/2026) sejumlah orang yang tergabung dalam asosiasi perusahaan pengelola limbah di Batam juga turut membantu.
“Rabu kemarin juga puluhan orang dari perusahaan katanya, ikut membersihkan juga,” jelas Novri.
Dari perkiraan Novri, persentase pembersihan bibir pantai itu telah mencapai hampir 90 persen, dan pekerjaan pembersihan masih berlangsung sampai dengan waktu yang belum ditentukan.
“Sampai hari ini, pembersihan masih berlangsung, namun kita tidak menemukan lagi jumbo bag, sekarang fokusnya pembersihan bebatuan ini saja,” kata Novri.

Banyak Mengaku Warga Tempatan
Di beberapa pemberitaan, banyak mengaku sebagai warga tempatan yang terdampak akibat pencemaran yang tidak disengaja itu.
“Kami warga di sini juga heran kalau baca beberapa di pemberitaan, yang mengaku warga di sini, terkadang namanya yang tertera dalam berita itu, tidak pernah kami dengar di sini,” ujar Novri.
Menurutnya, jumlah warga di sekitar pantai yang terdampak itu hanya berkisar sebanyak 10 Kepala Keluarga (KK).
“Warga tempatan di sini hanya berkisar kurang lebih 10 KK,” jelasnya.
Ini Penjelasan Pihak Perusahaan
Sementara itu menurut General Manager PT Jagar Prima Nusantara (JPN) perusahaan pemilik kapal, Rahmat Hidayat menjelaskan, sesegera pasca-kejadian telah dilakukan upaya intensif berupa transfer sisa muatan menggunakan tongkang, serta penyedotan limbah cair di area yang telah diisolasi.
“Limbah yang berhasil dikumpulkan kemudian
diangkut menggunakan truk menuju PT Mega Green Technology untuk pemanfaatan lebih lanjut,” kata Rahmat kepada BatamNow.com, saat di jumpai di sekitar Batam Center.
Selain melibatkan masyarakat lokal dalam penyisiran limbah di hutan bakau hingga wilayah Patam Lestari, pihak perusahaan juga aktif berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait,
termasuk KLH RI, DLH Kota Batam, Ditpolairud Polda Kepri, hingga Komisi III DPRD Kota Batam.
Hingga Minggu, 1 Februari 2026, proses pembersihan dan pemompaan limbah cair terus berlangsung.
“Tim penyelam juga diturunkan untuk mencari kemungkinan adanya karung sludge oil yang tertinggal di dasar laut,” ujar Rahmat.
Sementara PT Mutiara Haluan Samudera (MHS) yang mengoperasikan kapal tersebut, melalui direkturnya Juliandi Asmara, mengatakan tim dari KLH langsung turun dan melakukan penelusuran di sekitar lokasi kandasnya kapal serta melakukan pengambilan foto udara setelah peristiwa.
Tampak pada peta citra yang dihimpun BatamNow.com, penyebaran limbah dominan ke arah Timur Tenggara dari titik kandasnya kapal pada koordinat 1°08’46.11” LU dan 103°56’57.84” BT.
“KLH telah mengambil sampel limbah di Kapal LCT Mutiara, sampel air laut Dangas dan sampel sedimen di perairan Pantai Dangas,” ujar pria yang akrab disapa Andi itu.
Kata Andi, selain mengambil sampel, tim KLH juga menurunkan hingga 3 ahli profesor untuk melakukan penelitian dan penelusuran akibat pencemaran itu.
Adapun 3 ahli itu antara lain :
- Prof Etty Riani, Ahli Ekotoksikologi dan Pencemaran dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University.
- Prof Widodo Setiyo Pranowo, Ahli Modeling
dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sekolah Tinggi Angkatan Laut - Prof La Ode Muhammad Yasir Haya, Ahli Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut dari Universitas Halo Oleo.
“Respons cepat dari KLH dan DLH Kota Batam menunjukkan komitmen mereka terhadap kelestarian lingkungan dan hak-hak masyarakat yang terdampak,” ujar Andi.
Saat ini, baik perusahaan maupun KLH dan DLH Batam, sedang menunggu hasil dari penelusuran dan penelitian yang dilakukan oleh beberapa instansi dan ahli.
Kronologi Kandasnya Kapal LCT MGS
Insiden bermula pada Kamis, 29 Januari 2026, sekitar pukul 17.00 WIB, saat LCT Mutiara Garlib Samudera (MGS) bertolak dari MT Nave Universe (Anchorage Batu Ampar) menuju Jetty Bintang 99 Persada.
Kapal tersebut membawa muatan sekitar 200 jumbo bag limbah B3 jenis sludge oil. Di tengah perjalanan, kapal dihantam ombak tinggi secara terus-menerus yang menyebabkan air masuk ke tangki nomor 1 dan 2, sehingga kapal mulai miring ke kiri.
Menghindari risiko tenggelam dan pencemaran yang lebih luas, serta menyelamatkan nyawa awak kapal, nakhoda memutuskan untuk mengandaskan kapal di Pantai Dangas, Sekupang, pada pukul 17.30 WIB.
Akibat kecelakaan tersebut, sebagian muatan jatuh ke laut terbungkus dengan plastik dan di-double dengan jumbo bag.
Setelah kapal kandas, petugas KSOP Khusus Batam langsung memasang Oil Boom untuk mencegah tumpahan limbah menyebar lebih luas ke perairan dan pesisir.
Meski Oil Boom telah dipasang setelah kapal kandas, akibat angin yang cukup kencang hingga mencapai sekitar 10 Knot, beberapa jumbo bag limbah itu pun mendarat hingga ke bibir pantai. (A)

