Getirnya Hidup Pak Murni dari Geranting ke Batam Jual Ikan Asin Ketengan Demi Menopang Hidup Keluarga - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Getirnya Hidup Pak Murni dari Geranting ke Batam Jual Ikan Asin Ketengan Demi Menopang Hidup Keluarga

08/Feb/2021 09:10
Getirnya Hidup Pak Murni dari Geranting ke Batam Jual Ikan Asin Ketengan Demi Menopang Hidup Keluarga

Pak Murni menjajakan ikan asin ketengannya di tangga kaki lima Adhya Building, Sukajadi. (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

Believe It or Not

BatamNow.com – Usianya sudah jalan 60 tahun. Asal dan lahir di Pulau Geranting di gugusan pulau di wilayah Kelurahan Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam.

Saya kenal orang tua empat anak ini setahun lalu. Ketika dia menjaja dagangan ikan asin ketengannya di perumahan di tempat saya tinggal di kawasan Batam Kota.

Saat itu saya beli ikan asin yang dibawanya dari pulau. Hitung-hitung berbagi rezeki.

Minggu malam, ketika mau menggesek kartu ATM di mesin di anjungan yang ada di lantai dasar Gedung ATB, Adhya Building di kawasan Sukajadi, saya bertemu lagi dengan ayah yang agak kurang sehat ini.

Saya lihat jarum jam di tangan mendekati pukul 21.00.

“Masih menunggu pembeli pak. Sebentar lagi baru pulang,” ujar Pak Murni dengan suara pelan.

Di tengah tiupan angin malam yang berhembus agak kencang, dia duduk lesehan di tangga kaki lima di bawah kanopi gedung itu. Tentu menunggu, harap-harap ada pembeli.

Kaki lima gedung itu sangat sepi. Gedung itu sudah turup karena sudah malam. Kecuali para nasabah ATM yang satu dua orang keluar masuk di sana. Sepi gitu.

Gaya berjualan ayah dipanggil Pak Murni itu bukannya menjejer ikan daganganya dengan bungkusan plastik kecil.

Tapi dionggok saja di dalam plastik asoy (kresek), mengiba menawarkan.

“Hanya dua bangsa saja jenis ikan asing yang saya jual. Ikan gonje dan kepala batu. Tak banyak. Hanya 60 bungkus saja ukuran kemasan plastik kecil,” dia jelaskan.

Ikan asin ketengan, dagangan Pak Murni. (F: BatamNow)

Setiap Hari Numpang Tidur di Masjid Baiturrahman Sekupang

Dari Sukajadi tempat nongkrongnya berjualan kemarin, tak lama lagi akan pulang ke Masjid Baiturrahman di Sekupang karena sudah semakin malam.

Di Batam, pengakuan Pak Murni, dia selalu menumpang tidur di masjid Baiturrahman di Sekupang. “Selalu di sana. Saya sudah kenal marbotnya,” dia mengakui.

“Saya nanti menumpang bus karyawan Rumah Sakit Awal Bros Batam ke masjid Baiturrahman di Sekupang,” jawabnya.

Jarak dari Sukajadi ke RS Awal Bros sekitar 2 Km menuju halte bus jemputan karyawan itu.

“Nanti dari sini naik bus, turun di perempatan di bawah jalan layang Laluan Madani simpang jam. Tapi terkadang jalan kaki ke perempatan dari sini kalau tak ada uang,” tambah dia yang masih duduk lesehan.

Seharian sejak berjualan, dari Minggu (07/02/2021) pagi kemarin, jumlah jualannya yang laku masih hanya 3 bungkus. Setiap 1 bungkus beratnya sekitar 70 gram. Harga sebungkusnya Rp 10.000,-

Jadi dengan terjual 3 bungkus, berarti Pak Murni baru mengantongi uang Rp 30.000 di hari Minggu kemarin.

Setelah menarik uang dari ATM seadanya, hati saya pun tergerak membeli dagangan Pak Murni sebanyak 10 bungkus atau setara Rp 100.000,-

“Terima kasih, pak,” ujarnya dengan suara memelas sambil mengangkat dua telapak tangannya yang menyatu dekat kepala.

Begitulah setiap hari hidup yang dilakoni Pak Murni. Datang dari Geranting ke Batam hanya jualan ikan asin ketengan. Hampir dua tahun sudah dilakoninya.

Boat pancung dari Geranting menuju Batam. (F: BatamNow)

Pak Murni ke Batam sekali dalam tiga hari. Dia naik boat pancung. Boat yang ditumpanginya selalu dengan rute Geranting pulau Teluk Sunti, Teluk Bakau, Geranting, Kasu ke Sekupang.

Rute ini hanya sekali dalam tiga hari. Boat ini membawa orang dari pulau-pulau ke Belakang Padang atau ke Batam. Mereka para pebelanja kedai untuk dijual di pulau-pulau. Ongkos Rp 40.000 per orang sekali jalan. “Paling ramai penumpangnya 20 orang,” jawab Pak Murni.

Usai Salat Subuh, Langsung Berangkat Jaja Ikan Asin

Pagi sehabis salat subuh dia sudah berkemas dari Sekupang ke arah Sei Jodoh, menenteng dagangannya di beberapa plastik asoy. Dari Sekupang dia naik bus dari halte di sana, tak jauh dari masjid tempat dia menumpang tidur.

Getirnya hidup ayah dari pulau Geranting ini, agak di luar akal sehat. Bayangkan setiap 3 hari sekali paling banter laku 60 bungkus ikan ecerannya. Itu pun kalau nasib lagi memihaknya. Kadang hanya laku 40 bungkus. Kadang hanya 10 bungkus. Sesekali 100 bungkus. Tapi jarang. “Ikan ini saya beli dari pulau, lalu saya jual ke sini,” ujarnya menjelaskan.

Sementara margin yang didapat per bungkus hanya Rp 2.000,-

“Ongkos saya dalam satu bulan ke Batam, hitung-hitung totalnya satu jutaanlah,” katanya.

Padahal bila membandingkan ikan asin yang dijual dalam sebulan, marginnya tak seberapa.

Katakanlah bila nasib memihaknya paling dapat menjual total 2.000 bungkus rata-rata selama sebulan. Dari jumlah itu dia hanya dapat margin Rp 2.000 x 2.000 bungkus = Rp 4 Juta, bruto.

Belum dikeluarkan biaya ongkos Rp 1 Juta per bulan rata-rata. Belum uang makannya selama tinggal di Batam.

“Kalau untuk makan saya selama di Batam, ya cari yang harga murahlah pak. Rata-rata sekali makan sehari. Kadang pagi tak makan. Malam di masjid hanya makan roti atau gorengan seadanya dengan air putih menunggu tidur,” ujarnya lirih.

Yang mengecewakan Pak Murni, kala dia bernasib apes. Di saat ecerannya laku jauh dari normal. “Kadang begitulah pak, uangnya saya putar-putar,” katanya, sesekali dengan batuknya dari balik masker protokol kesehatan (prokes) Covid-19.

Untung saja Pak Murni tak perokok, meski batuk sesekali. “Saya kadang beli obat batuk dari mini market saja,” katanya seraya memperbaiki posisi maker yang dikenakannya.

Ayah satu istri ini tinggal di rumah pelantar RT 03/ RW 06 di tepi pantai Geranting.

Bila dihitung-hitung logika menjaja ikan asin, untung yang didapat tak seberapa untuk menopang hidup keluarganya.

Pulau Belakang Padang. (F: ist)

4 Anak Putus Sekolah

Istrinya bernama Imah disebut hanya menjalani pekerjaan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.

4 orang anaknya masing-masing, Rani gadis berusia berusia 20 tahun sebagai anak pertama. Suhada adik Rani berusia 16 tahun. Wahana laki laki umur 14 tahun dan si bungsu Iwan (13).

Rani sudah putus sekolah tapi masih belajar mengaji. Pernah sekolah tak lanjut. “Ga mampu bayar uang sekolah dan uang ini itu,” kata Pak Murni memelas.

Demikian juga anak gadisnya yang kedua. Tak sekolah lagi dengan alasan yang sama. Sementara dua anak lelakinya lagi-lagi putus sekolah. “Ikut ke laut mencari ikan bersama orang,” sebut Pak Murni.

Hidup keluarga Pak Murni memang hanya ditopang dari menjaja ikan asin ketengan itu. Dua anak laki-laki bekerja ke laut. Jadi tak mebebani orang tuanya lagi.

Selama Covid-19, Pak Murni mengaku tak pernah dapat bantuan sosial (bansos) dari pemerintah termasuk bantuan apapun. “Tak ngerti mau mengadu ke mana,” ujarnya polos.

Jangan-jangan keluarga Pak Murni selalu terdaftar sebagai penerima bansos yang tengah hangat digunjingkan terus, meski tak pernah dia terima.

Geliat industri Batam yang hiruk pikuk selama puluhan tahun, ternyata hanya dapat menghantarkan getirnya hidup keluarga Pak Murni.

Mudah-mudahan tak banyak Pak Murni yang lain.

Pak Murni gagal menyekolahkan keempat anaknya. Ia tak mampu membiayai sekolah anak-anak hinterland ini.

Anak-anak Pak Murni, agaknya tak tercover anggaran negara yang dikucurkan sampai 20 persen setiap tahun untuk biaya pendidikan, dari total APBN yang sekitar Rp 3.000 Triliun itu.

Hidup getir dan anak tak lanjut sekolah di tengah riuhnya APBD Kota Batam yang totalnya hampir Rp 3 Triliun.

Dan menurut pengakuan Pak Murni, masih ada banyak lagi masyarakat hinterland miskin yang nasibnya kurang lebih sama dengan dia. (Panahatan)

Berita Sebelumnya

HPN 2021: Bunda Risma Tertarik Program Kemanusiaan SMSI

Berita Selanjutnya

Penumpang dari Malaysia dan Singapura Kembali Mengikuti Karantina Sesuai Prokes

Berita Selanjutnya
Penumpang dari Malaysia dan Singapura Kembali Mengikuti Karantina Sesuai Prokes

Penumpang dari Malaysia dan Singapura Kembali Mengikuti Karantina Sesuai Prokes

Comments 3

  1. Muhmad rahul says:
    5 tahun ago

    Saya selaku pemuda pulau geranting, setau kami tidak ada orang geranting yang bernama pak muruni seperti yg di beritakan, tolong admin untuk mengklarifikasi lagi kebenaran berita ini.

    Balas
  2. Cincan says:
    5 tahun ago

    Ia setau saya tidak ada masyarakat geranting yang bernama pak murni, mohon admin klarifikasi lagi asal usul pak murni asli tinggal di manah?

    Balas
    • Wak can says:
      5 tahun ago

      Agag”

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




@batamnow

iklan PLN
BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com