Kadis LH Batam Dohar Hasibuan Diam Membisu Kala Minyak Hitam Cemari Pulau Labu - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Kadis LH Batam Dohar Hasibuan Diam Membisu Kala Minyak Hitam Cemari Pulau Labu

16/Feb/2026 10:17
Minyak Hitam Cemari Laut dan Pemukiman Pulau Labu di Batam, Ancam Kesehatan dan Ekonomi Warga

Pencemaran minyak hitam yang muncul di bawah rumah-rumah pelantar penduduk di Pulau Labu, Kecamatan Bulang, Batam. Dipotret pada Minggu (15/02/2026). (F: Dok. Warga)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Pencemaran minyak hitam yang mengotori perairan dan kolong rumah pelantar milik warga Pulau Labu, Kecamatan Bulang, sejak Sabtu (14/02/2026) malam, hingga kini belum menunjukkan penanganan nyata dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam.

Warga mengaku belum melihat tim DLH Kota Batam turun langsung ke lokasi meski laporan telah disampaikan.

Jarak laut antara Kantor Pemerintah Kota (Pemko) Batam di Batam Center ke Pulau Labu diperkirkan hanya 12 hingga 14 mil laut dengan jarak tempuh lewat laut sekitar 20-30 menit menggunakan speedboat berkecapatan 30 mil laut per jam.

Minyak pekat menyerupai tar aspal itu diduga berasal dari aktivitas tank cleaning kapal di sekitar laut.

Dan kejadian seperti ini bukan yang pertama kali meresahkan warga Kecamatan Bulang, namun menurut warga, selalu tak mendapat atensi dari pemerintah daerah.

Dampaknya tidak hanya mencemari pesisir, tetapi juga menempel di tiang-tiang rumah pelantar dan mengganggu aktivitas nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil tangkap udang di perairan dangkal.

@batamnow Warga di Pulau Labu, Kecamatan Bulang, Batam, resah akibat pencemaran minyak hitam yang muncul di bawah rumah-rumah pelantar penduduk sejak Sabtu malam. Ketua Pokmaswas DKP Kepri, Moh Sapet, mengatakan minyak tersebut pertama kali terlihat sekitar pukul 20.30 WIB dengan bentuk menyerupai tar aspal kental. Warga sempat menelusuri sumber pencemaran, namun belum berhasil menemukannya. “Tadi malam jam 08.30 kita menelusuri. Sumbernya belum ketemu, tapi dampak yang terbesar itu berada di Pulau Labu,” ujar Sapet melalui sambungan telepon, Minggu (15/02/2026). Ia menjelaskan, saat air surut, minyak menyebar hingga ke Pulau Buluh. Namun, Pulau Labu yang berada di Kelurahan Batu Legong itu menjadi lokasi paling terdampak karena posisinya berada di jalur tumpuan arus. “Kalau untuk luas satu pulau itu kena ya, satu Pulau Labu itu di pemukiman penduduk semua kena karena dia kan pulau sebelah dalam, jadi teradang untuk tumpuan arus di situ, jadi tumpuan minyaknya berada di situ,” jelasnya. Sapet menambahkan, pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut kepada instansi terkait, termasuk DLH, DKP, KSOP, Gakkum, kepolisian, namun hingga kini belum ada petugas yang turun ke lokasi. “Apa mereka turun, apa tidak, karena di hari libur begini ya kan. Tapi ya kita berharap mereka segera mungkin untuk melihat kondisi di sana dan melihat jenis apa yang ada di sana. Yang kita khawatirkan dampak dari limbah tersebut yang berada di bawah tempat rumah penduduk,” katanya. Menurutnya, jika tidak segera ditangani, pencemaran tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius bagi ekosistem laut yang akan memngancam kesehatan dan ekonomi masyarakat berprofesi nelayan di sana. “Kita khawatirkan pertama kesehatan masyarakat. Dengan musim cuaca yang tidak baik begini takut penguapan bisa jadi ISPA ke masyarakat atau terpapar mungkin alergi di tubuh manusia,” tegasnya. Cemaran itu disebut mengganggu aktivitas nelayan di mana menjelang hari raya Imlek adalah musim memburu ikan dingkis yang memiliki nilai ekonomis tinggi. “Yang kedua, kegiatan masyarakat, baik itu saat ini masih dalam suasana berkelong mencari dingkis ya, itu terganggu dengan aktivitas kejadian ini dengan alat-alat tangkap nelayan juga terganggu ya,” jelasnya.   Sapet juga menegaskan, perlu ada langkah cepat dan konkret dari pemerintah untuk menangani pencemaran lingkungan ini. “Perlu ada tindakan dari pemerintah dalam hal ini bagaimana mengatasi pencemaran ini supaya tidak berada di situ dalam jangka waktu yang lama sehingga nanti bisa memicu hal yang tidak kita mau kita inginkan di tengah masyarakat,” tegasnya. Ia juga meminta BP Batam agar tidak hanya berpatokan pada regulasi administratif dalam pengawasan lingkungan, tetapi juga mengambil langkah tegas terhadap pelaku pencemaran. “Mohon BP Batam dalam pengawasan ini jangan mengacu kepada PP 25, 28, 47-nya saja. Action-nya dalam pengawasan di lapangan seperti apa? Tindakan tegas harus ada, tindakan terhadap pelaku baik itu nanti unsurnya perdata atau pidana tolong diproses,” ucapnya. Sapet mengingatkan, kasus pencemaran lingkungan di Batam yang mirip sudah beberapa kali terjadi. “Mau sampai kapan lingkungan dan masyarakat kita terancam dengan kerusakan lingkungan, dengan penjahat-penjahat lingkungan,” tukasnya. Baca beritanya di BatamNow.com #batam #batamnow #batamtiktok #fyp #batamhits ♬ News, news, seriousness, tension(1077866) – Lyrebirds music

Ketua Pokmaswas DKP Kepri, Moh Sapet, mengatakan pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut ke DLH Kota Batam, DKP, KSOP, Gakkum, dan kepolisian.

Namun hingga Minggu (15/02) sore, belum ada petugas yang melakukan pengecekan lapangan. “Kami sudah sampaikan. Tapi sampai sekarang belum ada yang turun,” ujarnya.

Baca Juga:  Daratan Batam Darurat Sampah, Pun Laut dan Perairan: Apa Kabar Gema Batam ASRI?

Ketua RW 03 Kelurahan Batu Legong, Ramadan, juga menyampaikan kekecewaan serupa.

Menurutnya, sehari pasca-temuan pencemaran, warga masih menunggu kehadiran instansi terkait, setidaknya untuk memastikan kondisi dan memberikan kepastian langkah penanganan.

@batamnow Pencemaran limbah minyak hitam sejak Sabtu kemarin di Pulau Labu, Kecamatan Bulang, ternyata bukan kali pertama terjadi. Pantauan BatamNow.com di pulau yang dihuni 65 Kepala Keluarga (KK) itu pada Minggu (15/02/2026), terlihat minyak hitam pekat menutup sebagian permukaan air dan tanah di bawah rumah pelantar di sana. Sebagian limbah minyak juga menempel pada  tiang rumah warga. Bahkan terlihat beberapa ikan mati dan menghitam akibat pencemaran. Ketua RW 03 Kelurahan Batu Legong, Ramadan mengatakan pencemaran yang sama pernah terjadi di Pulau Labu pada bulan yang sama di tahun 2021. Namun warga tak tahu bagaimana penyelesaiannya. “Sejauh ini yang kita tahu dua kali. Kemarin tahun 2021 dari Marcopolo, kita pernah 3 kali RDP ke DPR. Habis itu mentok di Polda. Terputus sampai di situ saja, sampai hari ini tidak ada penyelesaian,” ujarnya saat ditemui di Pulau Labu, Minggu (15/02). Kali ini terjadi lagi dan setelah dilaporkan kepada instansi terkait malah belum ada tim yang turun ke lokasi hingga sehari setelah warga menemukan pencemaran itu. “Sedikit saya ingin sampaikan juga kepada instansi terkait, sampai sore ini saya merasa kecewa, seharusnya untuk instansi terkait turun datang ke Pulau Labu, memberi dukungan, setidaknya dukungan moral kurang-kurangnya, atau mencari jalan keluar agar bagaimana supaya kesehatan masyarakat tetap terjaga. Sampai sore ini belum ada yang datang, setahu kita belum sampai sore ini. Kita sudah laporkan ke lurah,” tandasnya. Khawatir Ganggu Kesehatan Anak dan Ibu Melahirkan Ramadan khawatir limbah minyak hitam yang mencemari Pulau Labu bakal mengganggu kesehatan anak-anak dan ibu-ibu yang baru melahirkan. “Yang kita khawatirkan saat ini, terutama kepada anak-anak yang baru lahir, banyak ibu yang baru melahirkan di sini, kita takut nanti dampaknya kepada anak-anak,” ujarnya. Ia menambahkan, kejadian ini juga sangat berpengaruh kepada nelayan karena tidak bisa mencari udang. “Kejadian ini sangat berpengaruh karena udang-udang pasti ke laut semua nggak mau ke pantai karena sudah dipenuhi minyak hitam,” tukasnya. Senada, warga Pulau Labu yakni Hendra membenarkan bahwa nelayan tidak bisa lagi mencari udang di pantai yang tercemar limbah minyak hitam. “Udang itu berada di pesisir pantai. Berdasarkan laporan warga mengatakan ketika mereka mencari udang itu oli hitam itu sudah sepanjang pantai. Saat mereka mengambil udang sudah tidak bisa karena ditutupi oli hitam itu. Jadi itu menghambat, jadi mereka langsung pulang,” ucapnya. Warga Telusuri Asal Minyak ke Kawasan Shipyard Ramadan mengetahui pencemaran itu dari laporan warga pada Minggu (14/02) sekira pukul 20.00. “Sekitar jam 8 malam lebih lah, warga lapor ke saya. Warga pulang dari cari udang lapor ke saya. Katanya pantai kita sudah dipenuhi dengan minyak, jadi saya langsung lihat memang benar adanya,” jelasnya. Setelah mendapat laporan, ia langsung mendokumentasikan foto dan video serta menelusuri asal limbah minyak itu bersama bersama Hendra yang melaporkan pencemaran… Baca selengkapnya di BatamNow.com #batam #batamnow #batamtiktok #fyp #batamhits ♬ original sound – BatamNow.com

Dipertanyakan Sikap Dohar atas Perintah Amsaka

Sorotan publik menguat ke Kadis LH Kota Batam karena situasi ini kontras dengan arahan tegas Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, saat melantik Dohar Mangalando Hasibuan, sebagai Kadis DLH yang baru, pekan lalu.

Dalam arahannya, Amsakar menekankan agar persoalan lingkungan, khususnya darurat sampah, ditangani dengan kerja ekstra, bahkan secara kiasan meminta agar “jangan tidur” demi mempercepat penyelesaian masalah.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad melantik dan mengambil sumpah jabatan empat kepala dinas (Kadis), di aula lantai IV Gedung Pemko Batam, Jumat (06/02/2026). (F: BatamNow)

Batam sendiri masih tercatat sebagai daerah dengan status darurat sampah, sehingga tuntutan respons cepat terhadap setiap persoalan lingkungan menjadi relevan.

Bukan saja hanya darurat sampah di darat, namun pencemaran di laut Batam, bukan hal baru dan kali ini pun terjadi.

Dalam kasus pencemaran minyak hitam di Pulau Labu, respons dari Kadis LH Kota Batam belum terlihat.

Warga kini mempertanyakan kepekaan dan kesigapan DLH Batam dalam menghadapi persoalan yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan ekonomi nelayan.

Selain uji sampel dan penelusuran sumber pencemaran, publik juga menunggu kejelasan mengenai pihak yang harus bertanggung jawab.

Wartawan media ini pun telah mengonfirmasi Dohar Hasibuan terkait langkah penanganan pencemaran minyak hitam di Pulau Labu yang meresahkan warga, namun tak ada respons alias diam membisu. (H/Red)

Berita Sebelumnya

Umrah dan Emas untuk Anggota, Koperasi Amanah Riau Kepri Konsisten Beri Reward

Berita Selanjutnya

Daratan Batam Darurat Sampah, Pun Laut dan Perairan: Apa Kabar Gema Batam ASRI?

Berita Selanjutnya
Pulau Labu Dicemari Limbah Minyak Lagi, Kasus Pertama pada 2021 dan Warga Tak Tahu Penyelesaiannya

Daratan Batam Darurat Sampah, Pun Laut dan Perairan: Apa Kabar Gema Batam ASRI?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




@batamnow

iklan PLN
BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com