BatamNow.com – Reputasi Batam sebagai gerbang internasional kian tergerus.
Pintu masuk utama WNA, khususnya Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, justru menjadi simbol buruknya tata kelola, lemahnya pengawasan, dan dugaan praktik menyimpang yang memalukan oleh para oknum petugas.
Kasus dugaan pemerasan terhadap warga negara asing (WNA) oleh oknum petugas imigrasi yang viral beberapa hari ini menjadi puncak persoalan yang selama ini seolah dibiarkan.
Wisatawan yang masuk lewat Singapura dan Malaysia mengaku digiring ke “ruangan tersembunyi”, diintimidasi, lalu dipaksa membayar ratusan dolar Singapura dengan ancaman deportasi.
Jika benar, ini bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi pukulan langsung terhadap kredibilitas dan keamanan pintu masuk lintas negara.

Keluhan WNI Ramai di Ulasan Google: Dapat Rating Bintang Satu
Bukan saja hanya WNA yang mengalami pelayanan buruk dari oknum petugas instansi pemerintah di pelabuhan.
Tapi sejumlah WNI yang lewat pemeriksaan konter petugas imigrasi di pelabuhan juga mengaku mendapat pelayanan buruk dari para oknum imigrasi.
Keluhan mereka selama ini dilampiaskan lewat rating dan ulasan di Google Maps untuk Pelabuhan Internasional Batam Center. Saking tidak puasnya dengan pelayanan yang dirasakan, mereka memberi hingga memberi ulasan dengan penilaian (rating) satu bintang.

Pelabuhan Penumpang Internasional Pelik Masalah
Kondisi pelayanan buruk ini muncul di tengah masalah lama yang tak pernah tuntas: masuknya pakaian bekas ilegal; praktik joki IMEI; dugaan penyeludupan dan pemerasan terhadap PMI; penyelundupan narkotika, hingga lemahnya kontrol di jalur Pelabuhan Internasional Batam Center.
Penanganan dan penuntasan kasus seperti ini tidak bisa lagi sepenuhnya diserahkan hanya ke aparat lokal.
Fakta di lapangan menunjukkan pengusutan setiap kasus sering berputar dalam lingkaran yang sama—saling mengenal sesama petugas dan berpotensi saling melindungi, meski ada beberapa kasus yang ditangani dengan benar.
Karena itu, pengusutan harus diambil alih oleh Direktorat Jenderal Imigrasi. Tanpa intervensi pusat, penindakan berisiko hanya menjadi formalitas tanpa menyentuh akar masalah.
Pernyataan Kepala Kantor Imigrasi Batam, Hajar Aswad, yang menjanjikan sanksi tegas patut dicatat. Namun publik menunggu bukti, bukan sekadar komitmen normatif.
Dugaan Pola Sistemik
Pengakuan wisatawan menunjukkan pola yang seragam: digiring ke ruang tertutup, dituduh tanpa dasar jelas. Lalu dipaksa membayar “denda” yang diduga tidak resmi.
Tidak cukup sampai disitu, ancaman deportasi
wisatawan bahkan menawar “denda” dari 300 menjadi 250 dolar Singapura (USD)—praktik yang lebih menyerupai transaksi ilegal.
Keterlibatan pihak tak berseragam juga mengindikasikan dugaan praktik terorganisir, bukan sekadar ulah oknum.
Manajemen Pelabuhan Dipertanyakan
Masalah yang muncul, mau tak mau–suka tidak suka, dari kacamata publik melihat lemahnya pengelolaan pelabuhan di tengah selentingan pengelola baru dinilai belum berpengalaman dan kurang profesional dalam menjaga standar layanan pelabuhan internasional.
Padahal Batam adalah etalase Indonesia di perbatasan. Jika pintu masuknya bermasalah, maka citra investasi dan pariwisata ikut runtuh.
Dampak skandal ini; kepercayaan wisatawan asing berpotensi menurun, bahkan Iklim investasi bisa terganggu.
Pun reputasi Indonesia di kawasan tercoreng.
Batam yang seharusnya menjadi pusat perdagangan bebas justru berisiko dicap sebagai wilayah dengan praktik pungli dan ketidakpastian hukum.
Saatnya Bersih-bersih Nyata
Kasus ini harus menjadi titik balik dan diusut tuntas. Tidak cukup dengan klarifikasi dan kesan pembelaan diri dari para pimpinannya seolah tidak benar ada masalah pelik.
Dibutuhkan audit menyeluruh sistem pelayanan imigrasi dan petugas lain di pelabuhan.
Penindakan tegas yang transparan, pengawasan langsung dari pusat dan reformasi manajemen pelabuhan.
Jika tidak, maka satu hal pasti: reputasi Batam akan terus ambruk—bukan karena isu, tetapi karena kegagalan memperbaiki sistem yang profesional, transparan dan akuntabel di enam pelabuhan penumpang internasional di Batam, khususnya di Batam Center. (A/Redaksi)

