Masa berjubel di program vaksinasi massal di Mega Mall, Batam Center, Kamis (17/06/2021).
Dari 700 vial vaksin yang disediakan panitia dari Polsek Batam Kota dengan Puskesmas Baloi Permai, ternyata berjubel warga yang datang ingin divaksinasi. Jauh di atas kuota.
Akhirnya massa calon penerima vaksin yang tidak mendapat nomor antrean, dibubarkan.
Mengapa bisa demikian? Bagaimana tata cara panitia mengundang para calon penerima vaksin sehingga sampai berjubel alias berkerumum datang ke lokasi vaksinasi?
Memang kini pemerintah sedang giatnya melakukan vaksinasi massal sesuai program nasional mempercepat penanganan Covid-19.
Dan malah ada unsur “paksaan” lagi seperti surat edaran di Kelurahan Tanjung Buntung yang viral di grup WhatsApp.
Untuk itulah, bagi Gugus Tugas Covid-19 dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam serta panitia maupun vaksinator yang hendak melakukan program vaksinasi ke depan, harus mengevaluasi cara vaksinasi massal ini.
Selain di Mega Mall, beberapa program yang sama termasuk di Temenggung Abdul Jamal, Maha Vihara Duta Maitreya oleh Apindo, membludak warga yang datang.
Apindo malah menyediakan hadiah guna menarik orang datang untuk divaksin di tempat dengan masif.
Bentuk hadiahnya, 1 unit sepeda motor, 5 unit sepeda gowes, 2 unit sepeda listrik dan 10 mesin toge.
Cara seperti ini hendaknya dipikir ulang oleh Pemko Batam agar tidak salah kaprah.
Mengundang warga dengan cara menyediakan hadiah juga harus berhati-hati.
Bisa saja ada orang yang sudah divaksin 2 kali, tapi nekat mendaftar lagi karena tergiur hadiah yang disediakan. Mudah-mudahan tak sampai ada.
Kita bukan di California, negara bagian Amerika yang sampai menyediakan undian vaksin berhadiah Rp 20 miliar. Sampai ada 10 orang yang sudah divaksin mendapat hadiah Rp 20 miliar karena datang ke pos vaksinasi.
Memang di California itu berhasil dengan cepat program vaksinasinya sampai 70% dari total jumlah penduduknya. Bahkan ada negara bagian yang mencapai 90% berhasil vaksinasi.
Namun masalah dan kondisinya pasti beda. Lain lubuk lain ikan, seperti pepatah kuno itu.
Menjadi catatan sekarang, antusiasme masyarakat Batam untuk menerima vaksin, ternyata jumlahnya cukup tinggi. Tak seperti yang digemborkan selama ini, banyak yang menolak.
Kalau memang persediaan vaksin itu di Batam dengan stok cukup, sesuai dengan pupulasi calon penerima vaksin, harusnya cara yang akan dikemas ke depan, jangan sampai pelaksanaan vaksinasi itu terkonsentrasi di mal atau di titik tertentu.
Bisa, misalnya, selain di setiap Puskesmas alangkah baiknya kalau di tempat yang tidak bercampur dengan warga lain. Sebab di mal itu banyak warga lain yang tidak ikut di program vaksinasi itu, tapi terganggu dengan kerumunan itu.
Pilihan lokasi di mal harus dikaji ulang. Program ini bukan acara kontes kecantikan atau program lain yang biasa dilakukan di mal.
Memang kalau sebelum pandemi Covid-19, semakin berkerumun orang di mal akan menguntungkan bagi pedagang di sana.
Program vaksinasi mesti kita dukung sepenuhnya.
Tapi cara melakukan vaksinasi massal ini harus ditata ulang, caranya juga pemberitahuannya agar tidak terjadi kerumunan. Tidak harus ramai-ramai datang di tempat vaksinasi.
Jangan sampai jatuh di lubang yang sama. Itu namanya…
Besok jadwal vaksinasi massal direncanakan masih ada di Kepri Mall dan Mall Botania 2. Harapan kita bersama jangan sampai ada kerumunan lagi.
Kita semua sudah tahu risikonya kan?(red)
