BatamNow.com – Masyarakat mendukung Kepala BP Batam, Amsakar Achmad dan Wakilnya Li Claudia Chandra dalam penyelamatan Bukit Vista yang kini rusak akibat praktik cut and fill.
Dirangkum BatamNow.com, sejumlah masyarakat mengatakan kejadian ini menjadi ujian nyata bagi kedua pemimpin Batam ini.
Sejak kehebohan masalah Bukit Vista, sudah banyak masyarakat mendesak agar bukit yang dulunya hijau dan asri ini segera dikembalikan fungsinya sebagai kawasan lindung dan ekosistem alami.
Ketua DPP Kepri LI-Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Negara, Panahatan SH mengatakan, masyarakat meminta bukit itu dikembalikan dan dihijaukan kembali, karena dulunya Bukit Vista berperan penting sebagai bagian dari sistem lingkungan yang menjaga keseimbangan ekologis.
Ia menilai kondisi kerusakan Bukit Vista saat ini tidak perlu lagi memerlukan kajian ilmiah yang rumit untuk menunjukkan bahwa ekosistem telah terganggu.
“Anak SD saja secara kasat mata tahu itu rusak, masa para pejabat di BP Batam, ahli dan instansi seperti PUPR atau Dinas Lingkungan masih harus ‘mengkaji’? Sudah jelas lahannya diduga salah alokasi,” tegasnya.
Ia pun meminta Direktorat Pengelolaan Lahan BP Batam harus berani akui kekeliruan pengalokasian lahan ini.
“Anak-anak SD yang tinggal di sekitar Perumahan Puri Kasablanka, Kelurahan Baloi, ikut nimbrung mengomentari kondisi bukit yang gundul,” kata beberapa pengurus Rukun Tetangga (RT) di sana.

Menurut mereka, sejak pembukaan lahan, terjadi kerusakan lingkungan serius, termasuk pipa air minum utama berdiameter 400 mm yang pecah akibat pergeseran tanah.
“Air ke rumah-rumah kami sempat terputus. Separo bukitnya sudah nggak ada pohon lagi dan ada satu tangki air minum yang disebut tangki 1000 ada di sebelah bukit,” ujar mereka senda.
Perumahan mereka yang berada tidak jauh dari RS Awal Bros, dan kondisi bukit yang rusak terlihat jelas dari areal perumahan mereka jika memandang ke arah bukit.

Arifin Natsir, pemerhati lingkungan di Batam, juga menyoroti lemahnya kajian awal sebelum alokasi lahan Bukit Vista dilakukan.
“Kalau anak SD aja ngerti risikonya, masa para ahli ekologi, geologi, dan konservasi diam? Ini menunjukkan kegagalan sistemik dalam manajemen lahan di kota ini,” kata Arifin.
Ia mendorong agar momentum ini dijadikan pembuktian bagi Amsakar dan Li Claudia sebagai pemimpin baru yang berani bersih-bersih kebijakan lama yang merusak lingkungan.
@batamnow Masyarakat Batam mengapresiasi langkah Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala Li Claudia Chandra yang menindak aktivitas cut and fill di Bukit Vista, Baloi, Batam, yang telah merusak lingkungan. Malah sejumlah warga mendesak agar tidak hanya penghentian sementara, tetapi juga pencabutan seluruh perizinan proyek demi penyelamatan, pemulihan Bukit Vista ke kondisi alaminya. Baca Beritanya di BatamNow.com #batamnow #batamtiktokcommunity #batamhits #batamnews #batamisland #batamsirkel #kotabatam #batampunyacerita #semuatentangbatam #galang #rempang #barelang #bpbatam #amsakarachmad #liclaudiachandra #fyp #fypシ #batam ♬ Minimal for news / news suspense(1169746) – Hiraoka Kotaro
Usut Siapa Pejabat yang Keliru dan Sengaja
Panahatan juga secara tegas meminta BP Batam di bawah Amsakar-Li Claudia membatalkan seluruh izin pembangunan di atas Bukit Vista dan mengembalikan kawasan tersebut menjadi ruang hijau.
“Ini bukan hanya soal bukit, tapi ujian konsistensi kepemimpinan Amsakar dan Li Claudia dalam penegakan aturan kota dan penyelamatan lingkungan secara menyeluruh,” tambahnya lagi.

Pantauan wartawan media ini sejak kepemimpinan Amsakar dan Li Claudia banyak penertiban terhadap penggunaan lahan yang menyalahi aturan, hingga keduanya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lapangan.
Temuan di lapangan mulai penimbunan daerah aliran sungai (DAS), reklamasi ilegal pantai dan laut, sungai, yang alamnya dirusak para pelaku demi mendapatkan cuan bisnis.
Pengalokasian dan pemberian yang diduga keliru dan perizinan lainnya yang tidak dipatuhi diduga keras terjadi sebelum kepemimpinan Amsakar dan Li Claudia.
Amsakar juga sudah mengungkapkan di hadapan Komisi VI DPR RI, saat RDP baru-baru ini bahwa penertiban yang mereka lakukan ditujukan untuk mengakhiri praktik tidak sehat dalam pengelolaan lahan di BP Batam.
“Yang kedua, kita juga sedang mempersiapkan Perka bahwa cara-cara kerja lama yang memungkinkan ada praktik jual-beli di belakang layar itu mudah-mudahan bisa kita eliminir di era kepemimpinan kami,” kata Amsakar.
Banyak dari masyarakat menuding pengalokasian lahan yang sangat masif sebelumnya dinilai “rakus”, jor-joran dan sembarangan tanpa memperhatikan keselamatan linkungan.
Untuk itu sejumlah masyarakat mulai bersuara, mereka men-support Amsakar dan Li Claudia asal berani bertindak tegas, termasuk menindak siapa pun yang terbukti menyalahgunakan wewenang dalam pengalokasian lahan yang bermasalah.
“Bahkan jika itu melibatkan pejabat internal BP Batam sendiri baik yang dulu dan sekarang,” katanya. (Red)

