5 Soft Skill yang Paling Dibutuhkan Perusahaan dari Lulusan Kampus di Era Milenial - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

5 Soft Skill yang Paling Dibutuhkan Perusahaan dari Lulusan Kampus di Era Milenial

21/Apr/2021 15:45

Atmosfer lingkungan pendidikan ini tentunya berperan sangat besar dalam memberikan kenyamanan buat siswa atau mahasiswa mengembangkan pengetahuan-pengetahuan dan kualitas diri mereka masing-masing. Kenyataannya memperlihatkan siswa dan mahasiswa banyak menghabiskan waktunya di sekolah atau kampus tersebut.

Perubahan dan kecepatan dari perubahan itu sendiri menuntut sekolah dan kampus harus berbenah dan lebih peka terhadap tuntutan perubahan yang ada. Kemampuan tenaga pengajar dan manajemen membaca perubahan yang dibutuhkan, menjadi penentu kualitas lulusannya yang merupakan generasi masa depan tersebut.

Melihat sedikit ke belakang, lembaga pendidikan seperti kampus dan sekolah cenderung memprioritaskan kemampuan hard skill mahasiswa. Sebagai contoh di beberapa kampus perhotelan, sudah barang tentu penekanan akan kemampuan mengolah makanan dan minuman atau melayani tamu check in/ out menjadi sebuah prioritas.

Namun mencoba melihat ke depan, ada baiknya kemampuan soft skill mahasiswa atau siswa harusnya sudah mendapat porsi yang sama banyak atau lebih dari yang sebelumnya dalam proses belajar mengajarnya. Tidak dapat dipungkiri lagi kemajuan dunia teknologi dan media sosial sekarang ini berperan sangat besar terhadap “tuntutan” itu.

Nah, pertanyaannya sekarang adalah soft skill seperti apa yang paling dibutuhkan dan harus menjadi prioritas lembaga pendidikan dalam mempersiapkan para lulusannya tersebut. Di bawah ini sebagai seorang pengajar dan juga penggiat media sosial, setidaknya ada lima soft skill yang mesti wajib kudu dan harus dilatih kepada generasi masa depan ini, diantaranya :

1. Creative Thinking

Creative Thinking atau kemampuan berpikir kreatif, harusnya semakin dipupuk dan dibiasakan dalam dunia pendidikan saat ini. Setiap pengajar harusnya mulai berani menyelipkan proses kreativitas selama proses belajar mengajar berlangsung. Kreativitas itu mencintai ketidakteraturan dan membenci keteraturan, sehingga sangat disarankan pengajar harus mampu menciptakan suasana yang jauh dari rutinitas dan kebosanan.

Pengajar sudah seharusnya mau untuk mengubah gaya mengajar bertipe ceramah yang menuntut mahasiswanya dalam kondisi hanya mendengar saja. Metode ini juga diperparah dengan pola tempat duduk mahasiswa di dalam kelas yang selalu berbaris rapi. Keteraturan ini sangat membosankan dan secara tidak langsung menanamkan budaya yang jauh dari kata kreativitas.

Harapannya mulai saat ini teman-teman pengajar harus mau membuka diri dan justru bertanya terhadap mahasiswanya tentang pola belajar mengajar yang diingini mahasiswanya. Setelah itu pengajar bisa mengajak mahasiswanya berdiskusi dengan maksud merangsang kemampuan kreatifnya. Dan pada akhirnya menghasilkan pola belajar mengajar hasil dari kombinasi pemikiran mahasiswa dan dosennya.

Hal lain yang juga sebaiknya diperhitungkan adalah games dan social media. Ada begitu banyak pengajar yang kesulitan untuk mengatur mahasiswa dalam memainkan HPnya. Ada baiknya sekarang ini pengajar juga punya pola mengajar yang justru melibatkan HP mahasiswa. Memberi tugas kepada mahasiswa untuk menganalisis sesuatu video atau case yang terjadi di social media seperti TikTok, YouTube dan Instagram. Sepertinya adalah cara cerdas di mana pengajar tidak menjauhkan mahasiswa dari hal yang dia senangi namun justru menjadikannya alat agar mahasiswa lebih mudah mengerti materi yang ingin disampaikannya.

Pengembangan kreativitas seperti ini memang kurang familiar di negara kita, apabila kita melihat kembali belakang, kita lebih sering dilatih untuk mengingat, menghafal dalam pendidikan selama ini. Hal ini bukan berarti buruk, hanya saja ini hanya melatih fungsi otak kiri kita saja. Padahal Tuhan juga sudah memberi kita otak kanan di mana fungsinya adalah berimajinasi. Kreativitas sendiri adalah bagian dari fungsi otak kanan yaitu berimajinasi.

Sebagai contoh kecil dari relevansi fungsi otak ini, seorang pengajar bertanya kepada mahasiswanya siapa presiden kelima Amerika Serikat, dan kemungkinan besar mahasiswanya tidak langsung bisa menjawab namun meminta waktu 1 menit untuk menjawab pertanyaan dosennya tersebut. Mahasiswa tersebut pun membuka HP dan Google, seketika itu juga ia akan bisa menjawab dengan benar pertanyaan dosennya. Artinya ada begitu banyak fungsi otak kiri dalam hal mengingat sudah bisa digantikan oleh teknologi yang merupakan produk dari otak kanan.

Dari pendidikan SD sampai SMA cenderung proses belajar mengajar kita terlalu melatih kemampuan otak kiri dalam hal mengingat (memori). Perlu kiranya saat ini dan untuk masa depan kemampuan berimajinasi mahasiswa atau siswa lebih dilatih dan mendapat porsi yang lebih besar, seperti yang pernah dikatakan ilmuwan terkemuka di dunia Albert Einstein yang pernah mengatakan “Imagination more than knowledge” atau dalam Bahasa Indonesianya “Imajinasi lebih dari sekedar ilmu pengetahuan”.

Pada akhirnya apabila kreativitas menjadi prioritas dalam proses belajar mengajar, maka kita akan melihat seorang pengajar merupakan pembelajar yang sesungguhnya, pengajar akan lebih banyak belajar dari pada mahasiswa yang diajarinya. Dengan cara seperti itu mahasiswa akan terpenuhi dengan pengetahuan dari apa yang ditekuninya.

2. Critical Thinking

Dunia pendidikan kita juga cenderung tidak terbiasa dengan critical thinking atau berpikir kritis. Hal ini bisa kita lihat bagaimana mahasiswa masih jarang dilatih untuk mengasah kemampuan tersebut secara konsisten.

Kemampuan berpikir kritis masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu perlu, hal ini mungkin bisa terjadi karena kemampuan berpikir kritis diposisikan sama dengan kritik. Padahal kritik yang membangun itu sendiri pada dasarnya adalah bentuk dari berpikir kritis, dan bukan semata-mata hanya mengkritik saja.

Sederhananya berpikir kritis bisa kita katakan sebagai suatu pola pikir yang selalu mencari tahu apa, kapan, di mana, dan bagaimana dari suatu hal, namun dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk memilah hal apa yang paling penting dalam memecahkan masalah tersebut. Sementara mengkritik adalah proses berpikir yang tujuannya adalah mencari kesalahan dan kekurangan orang lain atau sesuatu hal.

Adapun bentuk-bentuk berpikir kritis yang perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan seperti bagaimana sebaiknya seorang siswa atau mahasiswa harus diizinkan memberikan penilaian terhadap proses belajar mengajar yang dilakukan pengajarnya, tidak semata-mata hanya memilih skala penilaian 1 sampai 5, dimana point 5 adalah sangat baik. Bahkan ada beberapa oknum dosen yang masih sering ditemukan tidak bisa menerima masukan-masukan yang membangun dari mahasiswanya.

Budaya memberikan penilaian yang disertai essay (comment) ini harusnya menjadi sebuah kekuatan dalam proses belajar. Karena sebuah angka (nilai) tanpa penjelasan merupakan keterangan yang mengambang. Kurikulum kita perlu mendesain sebuah penilaian yang menjelaskan secara detail makna angka tersebut. Oleh karena itu tidak jarang di era milenial saat ini kita menemukan banyak usaha online semacam Go-jek, Trip Advisor, Shopee sangat mengandalkan penilaian bintang/angka berupa comment dari para usernya.

Berpikir kritis seperti ini sebenarnya sudah lebih dahulu ditunjukkan oleh Alm. Steve Jobs pada saat membangun kerajaan Apple-nya. Dulu pada saat ngehitsnya produk disc man untuk memutar musik, Steve Jobs mendengar ada begitu banyak customer yang mengeluh dengan ukuran besar dan berat serta tidak praktisnya penggunaan disc man, terlebih harus membawa CD untuk memutar 10-12 lagu saja. Steve dan tim pun bergerak cepat untuk menciptakan iPod yang ukurannya bisa dimasukkan ke saku namun mampu memutar ribuan lagu.

Cerita Steve Jobs harusnya menjadi rujukan buat lembaga pendidikan kita untuk bisa membangun pola pikir yang baik terhadap yang namanya kritik atau complaint. Mahasiswa atau siswa harusnya dibiasakan dengan kritik dan bagaimana mengambil keuntungan dari adanya kritik. Kemampuan melihat sisi lain yang lebih positif dari sesuatu hal akan membekali lulusan menjadi pribadi yang siap bersaing dengan kemajuan teknologi.

Intinya dalam skill berpikir kritis ini, pengajar harus mampu membudayakan kepada siswa/ mahasiswanya untuk bertanya terhadap sesuatu hal yang dilihat atau didengarnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti Apa, Mengapa, Bagaimana dan Kenapa adalah kata pertanyaan yang harusnya akrab dengan peserta didik.

Contohnya mengapa pisau itu bentuknya seperti ini? Kenapa tidak seperti ini? Bagaimana kalau bentuknya seperti ini? Ini semua adalah pertanyaan sederhana yang melatih kemampuan berpikir kritis dari siswa/ mahasiswa.

3. Communication Skill

Communication skill atau skill berbicara dalam dunia pendidikan sering hanya dilihat dari bagaimana mahasiswa bisa mempresentasikan tugas dari pengajarnya. Hal ini tentunya tidak salah, hanya saja communication skill berbicara lebih banyak dan lebih luas. Di poin ini penekanan tidak sepenuhnya kepada bagaimana mampu berbicara selama mungkin dengan pemilihan kosa kata yang kaya. Bahkan hal ini bisa menjadi buruk, karena bisa jadi pendengarnya tidak mengerti maksud dari kata-kata pembicara tersebut yang terlalu tinggi kosa katanya tadi.

Sebaliknya dalam communication skill sangat diutamakan memberikan kenyamanan kepada lawan bicara selama berkomunikasi. Artinya di sana harus ada saling menghargai ketika yang satu berbicara kepada yang lainnya. Kemampuan menjadi pendengar yang baik ketika teman kita berbicara, sangat menentukan kenyamanan dari komunikasi tersebut, selain tentunya pesan yang dikomunikasikan harusnya dimengerti oleh lawan bicara.

Dan kenyataannya latihan semacam ini masih perlu sangat ditingkatkan lagi di lingkungan sekolah atau kampus. Sebaiknya juga siswa dan mahasiswa kita ini dibekali untuk mampu berbicara dalam lingkungan yang formal dan informal. Kedua lingkungan ini sangat penting di era milenial, di mana menjamurnya social media menuntut seseorang harus bisa menyesuaikan dengan lingkungan kerjanya (konsumen, pasarnya).

Dalam hal persentasi, penting juga dirasa untuk para pengajar mengizinkan peserta didik menjelaskan sesuai karakter si mahasiswa/ siswa. Hal ini dimaksudkan untuk melihat kemampuan analisanya, melihat siswa/ mahasiswa berkembang sesuai karakter atau keunikannya masing-masing. Ke depan mahasiswa/ siswa tersebut akan lebih percaya diri dengan keunikannya tersebut.

4. Collaboration

Skill kolaborasi adalah sebuah skill kebutuhan di zaman sekarang ini. Kita bisa menemukan bagaimana banyak influencer top memaksimalkannya. Lihat saja YouTuber Deddy Corbuzier baru-baru ini secara tidak langsung sudah mengkolaborasikan konten YouTubenya dengan PERCASI (Catur). Di mana membuat siaran live pertarungan Dewa Kipas dengan GM Irene. Atau kita juga bisa melihat banyak penyanyi dunia yang sengaja kolaborasi dari dua jenis genre musik yang berbeda untuk membuat musik lebih hidup lagi.

Intinya tidak hanya lingkup pemerintah saja yang gemar berkolaborasi dengan negara lain untuk suatu kepentingannya namun seseorang yang ingin sukses pun butuh kolaborasi dengan orang/ perusahaan lain guna mendorong prestasinya. Hal ini juga yang dirasa perlu dilatih lagi dari lembaga pendidikan supaya menghasilkan generasi terbaik bangsa.

Soft skill kolaborasi ini menuntut kita mengenali siapa partner kerja sama kita. Ada baiknya mahasiswa/ siswa dilatih untuk mampu memilih partner yang ia butuhkan, tidak sekedar kolaborasi namun menemukan partner yang bisa membuat lompatan-lompatan untuk usahanya.

Hal lain juga adalah mendorong mahasiswa/ siswa berkolaborasi dengan partner yang berbeda jurusan atau tidak satu genre dengannya. Contohnya kampus perhotelan jangan hanya bekerja sama dengan hotel atau kampus perhotelan saja, melainkan memberanikan diri untuk menggandeng komunitas entrepreneur atau bahkan komika (stand up comedy) yang ada.

Dalam melatih mahasiswa/ siswa di soft skill ini sangat dibutuhkan untuk lembaga pendidikan bisa berpikir open minded bahkan tidak lagi berpikir out of the box tetapi without a box. Karena sering sekali ketika kita berpikir outside the box, kita masih membawa box-nya yang sering menjadi pagar atau pembatas untuk kita berpikir kreatif. Dengan cara seperti itu lembaga pendidikan melalui pengajarnya bisa menemukan cara-cara kreatif dalam melatih peserta didiknya untuk meningkatkan soft skill kolaborasinya.

5. Leadership

Dalam melatih kemampuan leadership atau memimpin ini, sering kita menemukan berorganisasi menjadi latihan terpopuler. Atau sering juga kita mendapatkan memberikan tugas untuk meminta mahasiswa/ siswa membuat sebuah kegiatan menjadi alternatifnya. Hal ini pastinya sudah sangat bagus hanya saja ada hal-hal detail lainnya yang perlu diingatkan dan dilatih supaya lulusan kita berdaya saing tinggi.

Adapun hal-hal lain tersebut diantaranya bagaimana mengarahkan mahasiswa/ siswa menjadi anggota tim yang jugalah sangat perlu. Karena bagaimanapun juga seorang pemimpin yang baik adalah seorang anggota tim yang baik pula, a good leader is a good team player. Karena menjadi pemimpin perlu lebih mendengarkan dan dalam organisasi kita harus mengerti kapan harus mendengarkan dan kapan harus didengarkan.

Prinsip lainnya yang juga harus mendapatkan penekanan ketika melatih mahasiswa/ siswa adalah bahwa “tidak ada dua jenderal dalam satu peperangan”. Hal ini dimaksudkan untuk membuat peserta didik mengerti sebenar-benarnya peran mereka dalam sebuah tim. Mereka harus menghargai pemimpin/ anggota tim mereka yang berbeda pendapat dengan mereka. Merasa diri paling benar harus menyesuaikan kebutuhan tim, dan ini sangat krusial dalam skill kepemimpinan. Di sini juga dituntut setiap orang harus tahu menyiapkan strategi alternatif apabila pemimpinnya dalam posisi salah dan tim dalam masa krisis.

Ke depan dengan perubahan kehidupan yang pasti, generasi masa depan ini harus lebih siap dan percaya diri mengahadapinya. Kepercayaan diri ini bisa terbangun dengan baik apabila lulusan tersebut terbekali secara baik kualitasnya. Dan kualitas terbaik ke depan sangat ditentukan oleh seberapa detail persiapan yang diberikan oleh lembaga pendidikan tempat ia menumbuhkan ilmunya.

Salam Sukses Selalu…!(*)

SendShare

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com