Enam Tahun Kelola SPAM, BP Batam Baru Targetkan SCADA 2027 - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
BatamNow.com

Enam Tahun Kelola SPAM, BP Batam Baru Targetkan SCADA 2027

15/Sep/2026 19:27
Warga Khawatir Ada Air Muncrat dari Bawah Aspal Jalan Simpang Kepri Mall Dekat Pipa yang Dulu Bocor Besar

Ilustrasi. Monitor SCADA dengan nama SPARTA Smart Solution milik PT Adhya Tirta Batam. (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Enam tahun setelah mengambil alih penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam dari PT Adhya Tirta Batam (ATB), BP Batam baru menargetkan pengadaan dan pengembangan sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) pada 2027.

Padahal, teknologi pemantauan jaringan air secara real time tersebut sebelumnya telah digunakan ATB selama 25 tahun masa konsesi pengelolaan SPAM Batam.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan pihaknya akan kembali mengadakan dan mengembangkan sistem SCADA untuk mendukung pemantauan jaringan air minum.

“Nanti BP akan mengadakan sistem SCADA yang lebih rapi lagi,” kata Ariastuty, Minggu (13/09/2026), seperti dikutip BatamPos.

Menurut Ariastuty, rencana pengadaan SCADA tersebut telah dikomunikasikan dengan PT Air Batam Hilir (ABHi) selaku operator SPAM Batam.

Namun, ia menyebut jadwal pelaksanaannya masih perlu dikonfirmasi kepada deputi yang kini membidangi pengusahaan air.

Kebocoran Berulang, Deteksi Dini Dipertanyakan

Rencana pengadaan SCADA pada 2027 menjadi sorotan di tengah berulangnya gangguan jaringan air minum di Batam.

Kebocoran pipa terjadi di sejumlah lokasi dan berdampak terhadap kontinuitas distribusi air kepada pelanggan.

Sejumlah kawasan juga kerap disebut sebagai stress area atau wilayah ujung jaringan (end of line) yang memiliki tekanan relatif terbatas. Kondisi tersebut menjadi salah satu penjelasan yang disampaikan terkait keluhan pelanggan mengenai distribusi air.

Mantan pejabat operasional SPAM di era ATB menjelaskan, SCADA memang tidak secara langsung mencegah terjadinya kebocoran pipa.

Namun, melalui sensor, telemetri, dan sistem alarm, perubahan tekanan, debit, serta kondisi peralatan dapat dipantau dari pusat kendali. Dengan begitu, kondisi abnormal pada jaringan dapat diketahui lebih cepat.

Tanpa sistem pemantauan terintegrasi yang bekerja secara menyeluruh, gangguan jaringan berpotensi baru diketahui setelah ditemukan petugas di lapangan, dilaporkan masyarakat, atau dampaknya sudah dirasakan pelanggan.

Kondisi tersebut menjadi penting mengingat SPAM Batam kini melayani sekitar 400 ribu pelanggan.

Gangguan yang berulang menunjukkan tantangan pelayanan air minum bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan air baku dan kondisi jaringan, tetapi juga kemampuan mendeteksi serta menangani gangguan secara cepat.

SCADA Bukan Teknologi Baru di SPAM Batam

SCADA bukan teknologi baru dalam pengelolaan SPAM Batam.

Pada era ATB, sistem berbasis teknologi informasi telah dikembangkan untuk memantau pengelolaan air mulai dari waduk, instalasi pengolahan air (WTP), reservoir hingga jaringan distribusi.

Sistem tersebut juga terintegrasi dengan Geographic Information System (GIS) untuk membantu pemantauan jaringan.

Setelah konsesi ATB berakhir pada 2020, sistem tersebut tidak lagi digunakan dalam pengelolaan SPAM oleh BP Batam.

Baca Juga:  Sengsara Warga Batam Berlanjut ke Hari Kelima Krisis Air: Tangki Tak Dikirim ABH, Terpaksa Cari Solusi Sendiri

Salah satu persoalan yang muncul berkaitan dengan kepemilikan sistem dan hak kekayaan intelektual. Sistem SCADA yang sebelumnya digunakan berada dalam pengelolaan manajemen ATB dan tidak lagi digunakan setelah masa konsesi berakhir.

Kini, setelah enam tahun pengelolaan SPAM berada di tangan BP Batam, sistem pemantauan SCADA kembali direncanakan untuk diwujudkan pada 2027.

Program Prioritas Dipertanyakan

Kondisi tersebut menjadi sorotan karena penyediaan dan perbaikan pelayanan air minum merupakan salah satu program prioritas Pemerintah Kota Batam di bawah kepemimpinan Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra.

Namun, di lapangan, pelanggan masih menghadapi persoalan kontinuitas, tekanan, kuantitas hingga kualitas layanan.

Gangguan distribusi air yang terjadi berulang kali juga membuat sebagian masyarakat harus menunggu aliran kembali normal atau mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Kontributor Utama Kedua Pundi-pundi BP Batam

Di sisi lain, sektor air minum merupakan salah satu sumber penerimaan penting (pundi-pundi utama) dalam ekosistem pengelolaan BP Batam.

Dengan jumlah pelanggan sekitar 400 ribu dan nilai penerimaan dari sektor air minum yang disebut mencapai triliunan rupiah per tahun, publik berhak mempertanyakan seberapa besar investasi yang dikembalikan untuk memperkuat sistem pelayanan dan teknologi pengawasan jaringan.

SCADA memang bukan solusi tunggal untuk seluruh persoalan SPAM.

Namun, bagi jaringan pelayanan air minum sebesar Batam, sistem pemantauan secara real time menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat deteksi gangguan dan respons terhadap persoalan di lapangan.

BP Batam Diminta Buka Alasan Keterlambatan

Atas kondisi tersebut, BP Batam perlu menjelaskan secara terbuka mengapa teknologi pemantauan yang sebelumnya telah digunakan dalam pengelolaan SPAM Batam belum tersedia secara operasional secara menyeluruh selama enam tahun setelah pengambilalihan.

Publik juga perlu mengetahui besaran anggaran pengadaan SCADA, cakupan jaringan yang akan dipantau, target waktu operasional, serta indikator keberhasilan sistem tersebut.

Pertanyaan tersebut telah dikonfirmasi kepada Ariastuty, Direktur Badan Usaha SPAM BP Batam, dan Humas BP Batam. Namun, hingga berita ini ditulis, belum diperoleh tanggapan.

Sementara itu, Ariastuty sebelumnya menyatakan BP Batam tetap terbuka dan transparan terhadap konfirmasi wartawan.

Bagi pelanggan, ukuran keberhasilan pengelolaan SPAM pada akhirnya bukan sekadar rencana pengadaan teknologi, melainkan air minum yang mengalir secara kontinu, memenuhi standar kualitas, memiliki kuantitas yang terukur, serta gangguan yang dapat dideteksi dan ditangani dengan cepat. (A/Red)

ADVERTISEMENT
Berita Sebelumnya

Konflik Lahan Setokok Tewaskan Dua Orang, Mengapa BP Batam Tak Tuntaskan Ganti Rugi Warga?

Berita Selanjutnya

Pimpinan Ormas Lang Laut dan Dua Orang Lain Jadi Tersangka Bentrokan Maut Setokok

Berita Selanjutnya
Pimpinan Ormas Lang Laut dan Dua Orang Lain Jadi Tersangka Bentrokan Maut Setokok

Pimpinan Ormas Lang Laut dan Dua Orang Lain Jadi Tersangka Bentrokan Maut Setokok

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Central Tiban
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini

© 2021-2026 BatamNow.com