BatamNow.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut wilayah Kepulauan Riau, termasuk Batam, telahmemasuki musim hujan.
Kondisi ini menjadi catatan terhadap penjelasan BP Batam yang mengaitkan turunnya produksi air minum di Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Nongsa dengan kemarau yang diperkuat fenomena El Nino.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, menjelaskan dampak El Nino paling kuat umumnya dirasakan wilayah Indonesia yang memiliki pola curah hujan monsunal, terutama wilayah selatan khatulistiwa.
“Dampak El Nino yang paling dirasa adalah wilayah Indonesia dengan tipe hujan Monsunal (angin monsun), yaitu wilayah Sumatera bagian selatan, seluruh Jawa, Bali, NTB, Kalimantan bagian tengah, selatan dan timur, sebagian Maluku dan Papua,” kata Ramlan melalui pesan WhatsApp kepada BatamNow.com, Selasa (06/10/2026).
@batamnow Krisis air yang melanda warga Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, terjadi di tengah penurunan produksi air baku di Waduk Nongsa. Pantauan BatamNow.com di Waduk Nongsa, Senin (05/10/2026) siang, terlihat sebagian areanya kini mengering dengan permukaan tanah yang pecah-pecah. Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Denny Tondano yang hadir dalam demonstrasi warga Sambau di depan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, mengatakan bahwa krisis air tak lepas dari ekses musim kemarau. “Hari ini kondisi kemarau, kondisi air lagi sulit. Walaupun kita masih cukup aman untuk di Batam, ayo kita pakai dengan hemat, kita pakai bijak. Terus satu lagi, kita jaga lingkungan,” ujar Denny. Imbauan tersebut disampaikan Denny setelah ratusan warga Sambau menggelar aksi spontan di depan KEK Nongsa akibat krisis air yang telah mereka rasakan selama berbulan-bulan. Denny menjelaskan, kondisi Waduk Nongsa saat ini mengalami penurunan produksi cukup signifikan akibat kemarau. Produksi air yang biasanya mencapai sekitar 90 liter per detik kini turun menjadi sekitar 25 liter per detik. “Kondisinya hari ini memang sudah turun dan produksi memang turun jauh. Hari ini kita support dengan booster yang kita pasang mengarah ke sini dari Duriangkang. Jadi saat ini, Nongsa didukung dari Duriangkang,” katanya. Menurut Denny, kondisi sejumlah waduk di Batam masih relatif aman. Namun, Waduk Nongsa menjadi salah satu sumber air yang mengalami penurunan produksi paling signifikan. Untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, BP Batam saat ini mendorong suplai air dari Waduk Duriangkang ke kawasan Nongsa. Menjawab keluhan warga Sambau yang berdemonstrasi, PT Air Batam (ABH) Hilir akhirnya mengerahkan tujuh truk tangki untuk menyuplai kebutuhan air warga pada hari ini. Sementara untuk akses air minum jaringan perpipaan dijanjikan mengalir normal mulai besok. BP Batam Sebut Data Center Tak Ambil Air dari Waduk Nongsa Terkait munculnya kekhawatiran warga mengenai kebutuhan air untuk kawasan data center di Nongsa, Denny menegaskan fasilitas tersebut tidak mendapatkan pasokan dari Waduk Nongsa. Menurutnya, infrastruktur data center saat ini menggunakan suplai air dari kawasan Kabil Industrial Estate (KIE), yang memiliki kolam penampungan air hujan untuk kemudian diolah dan digunakan memenuhi kebutuhan kawasan tersebut. “KIE mereka punya semacam kolam, mereka tadah hujan di situ, dan mereka produksi di situ. Cukup besar produksinya, itu yang mereka pakai saat ini,” jelasnya. Denny juga memastikan pasokan air dari Waduk Duriangkang yang saat ini didorong ke Nongsa tidak dialirkan untuk kebutuhan data center. “Duriangkang tidak ada yang masuk ke data center,” tegasnya. Ia menjelaskan fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk kebutuhan air data center memang tengah dipersiapkan, termasuk rencana pembangunan sistem dengan kapasitas 800 dan 400 liter per detik. Pembangunan fasilitas tersebut ditargetkan membutuhkan waktu sekitar delapan bulan hingga satu tahun… Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Menurut Ramlan, kondisi tersebut berbeda dengan Kepulauan Riau. Kepri termasuk wilayah dengan pola curah hujan ekuatorial yang ditandai curah hujan relatif tinggi sepanjang tahun dan memiliki dua puncak musim hujan atau pola bimodal.
Dua puncak musim hujan tersebut umumnya terjadi sekitar Maret dan Oktober.
“Sedangkan Kepri, Sumbar dan Kalimantan Barat tipe musimnya adalah tipe equatorial sehingga dampak El Nino tidak begitu besar seperti wilayah tipe Monsunal,” jelasnya.
Meski El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, Ramlan menegaskan kondisi Kepri saat ini sudah memasuki musim hujan.
“Namun wilayah Kepri sudah memasuki musim hujan,” katanya.

Waduk Nongsa: Produksi Air Turun Drastis
Sebelumnya, ratusan warga Kampung Sambau dan Bakau Serip, Kecamatan Nongsa, Batam, menggelar aksi spontan di depan gerbang masuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Senin (05/10/2026).
Ratusan warga unjuk rasa memprotes terganggunya pasokan air minum yang disebut telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, kemudian menemui warga yang telah melakukan aksi sekitar lima jam.
Denny menjelaskan, salah satu persoalan yang menyebabkan terganggunya pasokan air di kawasan Nongsa adalah kondisi kemarau yang berdampak terhadap produksi air pada Sistem Nongsa.
“Yang pertama, kita pahami bahwa kondisi kemarau ditunjang dengan El-Nino ini, bukan cuma di Batam. Maka hari ini, kita akan lihat kondisi bendungan kita, Nongsa,” kata Denny saat menemui warga.

Menurut Denny, kondisi Waduk Nongsa mengalami penurunan signifikan sehingga berdampak langsung terhadap produksi air.
“Kita akan lihat sama -sama kondisinya sudah turun, produksinya sudah turun jauh. Hari ini kita support dari booster yang kita pasang yang mengarah ke sini dari Duriangkang,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, sistem air di kawasan Nongsa saat ini mendapat dukungan pasokan dari Waduk Duriangkang.
“Jadi saat ini Nongsa ini didukung dari Duriangkang,” katanya.
Denny menyebut produksi normal IPAM Nongsa berada di kisaran 90 liter per detik. Namun saat ini produksinya disebut turun drastis.
“Memang kondisi kemarau ini yang buat kondisi air kita turun jauh. Biasanya di Nongsa ini kita produksi 90 liter per detik. Hari ini kita tinggal produksi kurang 25 liter per detik,” jelasnya.

Data Center Disebut Belum Jadi Faktor Utama
Di tengah berkembangnya kawasan industri dan pusat data di Nongsa, Denny mengatakan keberadaan data center belum menjadi faktor utama persoalan pasokan air di kawasan tersebut.
“Kalau data center, contoh Equator belum beroperasi. Yang di sini beroperasi pun tidak begitu besar, masih sangat kecil,” kata Denny.
Ia kembali menegaskan bahwa persoalan utama yang dihadapi saat ini berkaitan dengan turunnya produksi air akibat kondisi kemarau.

Untuk mengantisipasi kebutuhan air, BP Batam juga tengah menyiapkan sistem pengolahan air laut atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).
“Hari ini mereka sedang menyiapkan SWRO,” ujarnya.
Selain SWRO, Denny menyebut terdapat kawasan di sekitar KEK Nongsa, yakni Kabil Industrial Estate (KIE), yang telah mengelola kebutuhan air secara mandiri.
“Mereka tampung hujan di situ, mereka produksi di situ. Cukup besar produksinya itu yang mereka pakai sehari-hari,” jelasnya. (A)

