Osman Hasyim Sebut Pengelolaan Batam Amburadul: Waduk dan Hutan Lindung Tak Terurus - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
BatamNow.com

Osman Hasyim Sebut Pengelolaan Batam Amburadul: Waduk dan Hutan Lindung Tak Terurus

06/Okt/2026 13:16
Osman Hasyim Sebut Pengelolaan Batam Amburadul: Waduk dan Hutan Lindung Tak Terurus

Ilustrasi. Hamparan tanah nyaris tanpa ditumbuhi pohon di Nongsa, Batam, dengan latar belakang proyek pembangunan. (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Ketua Forum Masyarakat Peduli Batam Maju (MPBM), Osman Hasyim, melontarkan kritik keras terhadap pengelolaan Batam di tengah persoalan krisis air minum yang terjadi di sejumlah kawasan.

Osman menilai persoalan air tidak semata-mata disebabkan kondisi cuaca. Ia menyoroti pengelolaan lahan dan kawasan hutan lindung di sekitar waduk yang dinilainya tidak dilakukan secara serius.

“Ini penyebab masalah air, terutama kelalaian kita dalam mengelola lahan-lahan hutan lindung di sekitaran dam-dam kita. Bahkan hutan-hutan lindung kita dialokasikan, tidak dijaga, terjadi pendangkalan sehingga kapasitas waduk menjadi rendah,” ujar Osman saat ditemui di Batam Center, Selasa (06/10/2026).

Kondisi Waduk Nongsa, Batam, kini mengering. Dipotret pada Senin (05/10/2026). (F: BatamNow)

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memperburuk ketersediaan air Batam ke depan.

“Ini sebentar lagi kita ini akan kekurangan air. Itu sudah pasti, hitung-hitungan jelas, tak bisa dibantah,” tegasnya.

Osman mengatakan pihaknya telah mengingatkan potensi persoalan tersebut sejak sekitar satu tahun lalu.

“Kita dari Forum Masyarakat Batam Bersatu sudah mengingatkan sejak setahun lalu akan bahaya dan timbulnya kejadian seperti ini,” katanya.

Ketua Forum Masyarakat Peduli Batam Maju (FMPBM), Osman Hasyim. (F: BatamNow)

Ia memperingatkan, apabila tidak segera ditangani, persoalan air akan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

“Kalau tidak disegerakan penanganannya, Batam akan menjadi masalah yang sangat besar. Air, listrik, perencanaan investasi, tanah, Batam ini tak ada selesai-selesainya,” ujarnya.

@batamnow Krisis air yang melanda warga Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, terjadi di tengah penurunan produksi air baku di Waduk Nongsa. Pantauan BatamNow.com di Waduk Nongsa, Senin (05/10/2026) siang, terlihat sebagian areanya kini mengering dengan permukaan tanah yang pecah-pecah. Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Denny Tondano yang hadir dalam demonstrasi warga Sambau di depan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, mengatakan bahwa krisis air tak lepas dari ekses musim kemarau. “Hari ini kondisi kemarau, kondisi air lagi sulit. Walaupun kita masih cukup aman untuk di Batam, ayo kita pakai dengan hemat, kita pakai bijak. Terus satu lagi, kita jaga lingkungan,” ujar Denny. Imbauan tersebut disampaikan Denny setelah ratusan warga Sambau menggelar aksi spontan di depan KEK Nongsa akibat krisis air yang telah mereka rasakan selama berbulan-bulan. Denny menjelaskan, kondisi Waduk Nongsa saat ini mengalami penurunan produksi cukup signifikan akibat kemarau. Produksi air yang biasanya mencapai sekitar 90 liter per detik kini turun menjadi sekitar 25 liter per detik. “Kondisinya hari ini memang sudah turun dan produksi memang turun jauh. Hari ini kita support dengan booster yang kita pasang mengarah ke sini dari Duriangkang. Jadi saat ini, Nongsa didukung dari Duriangkang,” katanya. Menurut Denny, kondisi sejumlah waduk di Batam masih relatif aman. Namun, Waduk Nongsa menjadi salah satu sumber air yang mengalami penurunan produksi paling signifikan. Untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, BP Batam saat ini mendorong suplai air dari Waduk Duriangkang ke kawasan Nongsa. Menjawab keluhan warga Sambau yang berdemonstrasi, PT Air Batam (ABH) Hilir akhirnya mengerahkan tujuh truk tangki untuk menyuplai kebutuhan air warga pada hari ini. Sementara untuk akses air minum jaringan perpipaan dijanjikan mengalir normal mulai besok. BP Batam Sebut Data Center Tak Ambil Air dari Waduk Nongsa Terkait munculnya kekhawatiran warga mengenai kebutuhan air untuk kawasan data center di Nongsa, Denny menegaskan fasilitas tersebut tidak mendapatkan pasokan dari Waduk Nongsa. Menurutnya, infrastruktur data center saat ini menggunakan suplai air dari kawasan Kabil Industrial Estate (KIE), yang memiliki kolam penampungan air hujan untuk kemudian diolah dan digunakan memenuhi kebutuhan kawasan tersebut. “KIE mereka punya semacam kolam, mereka tadah hujan di situ, dan mereka produksi di situ. Cukup besar produksinya, itu yang mereka pakai saat ini,” jelasnya. Denny juga memastikan pasokan air dari Waduk Duriangkang yang saat ini didorong ke Nongsa tidak dialirkan untuk kebutuhan data center. “Duriangkang tidak ada yang masuk ke data center,” tegasnya. Ia menjelaskan fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk kebutuhan air data center memang tengah dipersiapkan, termasuk rencana pembangunan sistem dengan kapasitas 800 dan 400 liter per detik. Pembangunan fasilitas tersebut ditargetkan membutuhkan waktu sekitar delapan bulan hingga satu tahun… Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com

Pertanyakan Pengelolaan Pendapatan

Osman juga mempertanyakan pengelolaan pendapatan yang diperoleh Batam apabila kebutuhan dasar masyarakat masih menghadapi persoalan.

Baca Juga:  BP Batam Sebut El Nino Penyebab Waduk Nongsa Kekeringan, BMKG: Kepri Sudah Masuk Musim Hujan

“Pertanyaan, untuk apa pendapatan yang ratusan M, tapi tidak ada manfaatnya bagi warganya?” katanya.

Menurut Osman, pendapatan Batam, baik dari anggaran maupun PNBP, seharusnya diarahkan untuk menyelesaikan kebutuhan dasar masyarakat dan persoalan strategis daerah.

“Seharusnya pendapatan Batam itu dikelola. Bagaimana kebutuhan-kebutuhan dasar yang dibutuhkan Batam ditangani dengan benar dari pendapatan anggaran belanja yang didapatkan, baik langsung maupun dari PNBP. Sehingga perencanaan itu penting, tidak asal-asalan,” tegasnya.

Ilustrasi. Hamparan tanah nyaris tanpa ditumbuhi pohon di Nongsa, Batam, dengan latar belakang proyek pembangunan. (F: BatamNow)

Ia menilai pengelolaan Batam tidak boleh hanya berorientasi pada kegiatan seremonial dan tingginya angka investasi.

“Tidak hanya mengurusi acara seremonial saja, investasi tinggi segala macam. Tapi kenyataannya, faktanya kita selalu dalam masalah dan ini akan jadi masalah terus-menerus berkepanjangan,” ujarnya.

Osman kemudian memberikan penilaian keras terhadap tata kelola Batam saat ini.

“Sehingga saya menilai pengelolaan Batam di bawah kepemimpinan sekarang ini amburadul, sudah tidak terarah, tidak terencana, ‘cincau’ betul,” tegas Osman. (A)

ADVERTISEMENT
Berita Sebelumnya

BP Batam Sebut El Nino Penyebab Waduk Nongsa Kekeringan, BMKG: Kepri Sudah Masuk Musim Hujan

Berita Selanjutnya

DPP APPEKNAS Gelar Rapat Kerja Harian, Perkuat Konsolidasi Organisasi dan Akselerasi Program Strategis

Berita Selanjutnya
DPP APPEKNAS Gelar Rapat Kerja Harian, Perkuat Konsolidasi Organisasi dan Akselerasi Program Strategis

DPP APPEKNAS Gelar Rapat Kerja Harian, Perkuat Konsolidasi Organisasi dan Akselerasi Program Strategis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Central Tiban
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini

© 2021-2026 BatamNow.com