Tak Hanya ke Sambau, Interkoneksi Pipa di Nongsa Bercabang Diduga Mengarah ke Proyek Data Center - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
BatamNow.com

Tak Hanya ke Sambau, Interkoneksi Pipa di Nongsa Bercabang Diduga Mengarah ke Proyek Data Center

Direktur Operasional PT ABHi Mengaku Belum Tahu

10/Okt/2026 15:54
Tak Hanya ke Sambau, Interkoneksi Pipa di Nongsa Bercabang Diduga Mengarah ke Proyek Data Center

Interkoneksi pipa dari IPA Duriangkang, ditanam di Nongsa, di tepi Jalan hang Jebat, tak jauh dari Mapolda Kepri. (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Interkoneksi pipa dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Duriangkang di Nongsa, Batam, yang dibangun untuk membantu suplai air perpipaan ke wilayah terdampak krisis air, terpantau memiliki percabangan yang membentang diduga searah lokasi proyek pembangunan pusat data (data center).

Namun, Direktur Operasional PT Air Batam Hilir (ABHi), Jefri Maulidani, mengaku belum mengetahui peruntukan pipa yang membentang ke arah timur Nongsa tersebut.

Berdasarkan pantauan BatamNow.com pada Senin (05/10/2026), interkoneksi pipa itu berada di tepi kanan simpang empat Jalan Hang Jebat, sekitar satu kilometer dari arah Markas Polda Kepulauan Riau (Kepri).

Pipa utama yang menjulur dari arah Mapolda Kepri membentang lurus ke arah simpang Teluk Mata Ikan.

Sekitar dua kilometer dari titik interkoneksi tersebut terdapat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, yang menjadi lokasi demonstrasi warga Sambau pada Senin (05/10) terkait krisis air yang telah berlangsung selama beberapa bulan.

Di titik interkoneksi, pipa tersebut memiliki dua percabangan yang masing-masing membentang ke arah barat dan timur.

Jefri membenarkan bahwa pipa di lokasi tersebut merupakan interkoneksi yang berasal dari IPA Duriangkang. Namun, ia hanya memastikan peruntukan cabang pipa yang mengarah ke barat, yakni untuk membantu suplai air ke wilayah Sambau.

“Betul, betul. Itu yang ke arah Sambau yang ke kiri,” kata Jefri kepada BatamNow.com, Kamis (08/10/2026).

Pernyataan itu disampaikannya setelah PT ABHi menemui warga Sagulung Berseri untuk membahas persoalan krisis air di wilayah yang masuk Kelurahan Sei Lekop itu.

Sementara itu, cabang pipa yang mengarah ke timur belum diketahui peruntukannya oleh pihak ABHi.

@batamnow Interkoneksi pipa dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Duriangkang di Nongsa, Batam, yang dibangun untuk membantu suplai air perpipaan ke wilayah terdampak krisis air, terpantau memiliki percabangan yang membentang diduga searah lokasi proyek pembangunan pusat data (data center). Namun, Direktur Operasional PT Air Batam Hilir (ABHi), Jefri Maulidani, mengaku belum mengetahui peruntukan pipa yang membentang ke arah timur Nongsa tersebut. Berdasarkan pantauan BatamNow.com pada Senin (05/10/2026), interkoneksi pipa itu berada di tepi kanan simpang empat Jalan Hang Jebat, sekitar satu kilometer dari arah Markas Polda Kepulauan Riau (Kepri). Pipa utama yang menjulur dari arah Mapolda Kepri membentang lurus ke arah simpang Teluk Mata Ikan. Sekitar dua kilometer dari titik interkoneksi tersebut terdapat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, yang menjadi lokasi demonstrasi warga Sambau pada Senin (05/10) terkait krisis air yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Di titik interkoneksi, pipa tersebut memiliki dua percabangan yang masing-masing membentang ke arah barat dan timur. Jefri membenarkan bahwa pipa di lokasi tersebut merupakan interkoneksi yang berasal dari IPA Duriangkang. Namun, ia hanya memastikan peruntukan cabang pipa yang mengarah ke barat, yakni untuk membantu suplai air ke wilayah Sambau. “Betul, betul. Itu yang ke arah Sambau yang ke kiri,” kata Jefri kepada BatamNow.com, Kamis (08/10/2026). Pernyataan itu disampaikannya setelah PT ABHi menemui warga Sagulung Berseri untuk membahas persoalan krisis air di wilayah yang masuk Kelurahan Sei Lekop itu. Sementara itu, cabang pipa yang mengarah ke timur belum diketahui peruntukannya oleh pihak ABHi. “Yang ke kanan, nah itu saya belum tahu itu kalau itu. Kami tidak mengoperasikan itu, belum diserahterimakan,” ujar Jefri. Hingga berita ini dipublikasi, Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano belum membalas pesan konfirmasi yang dikirimkan BatamNow.com pada Sabtu (10/10/2026) mengenai titik interkoneksi pipa IPA Duriangkang yang salah satu cabangnya membentang searah lokasi diduga proyek PT EGS. Direktur Diseminasi Informasi dan Hubungan Antar Lembaga BP Batam, Sthefani Barlian, juga belum merespons permintaan konfirmasi terkait hal tersebut. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com

Lima Titik Galian Pipa Membentang di Lokasi Bukan Pemukiman

Penelusuran BatamNow.com di lapangan menemukan sedikitnya lima titik galian lain yang telah terpasang pipa seperti berjenis High Density Polyethylene (HDPE) di sepanjang jalur ke arah timur dari titik awal interkoneksi.

Titik galian pertama berjarak sekitar 10 meter dari lokasi interkoneksi pipa di tepi simpang Jalan Hang Jebat. Secara kasat mata, ukuran pipa ini lebih besar dibanding pipa yang bercabang ke arah Sambau.

Interkoneksi pipa dari IPA Duriangkang, ditanam di Nongsa, membentang ke arah timur Nongsa. (F: BatamNow)

Sambungan pada pipa ini terlihat masih dibungkus plastik bening, begitu pula komponen semacam valve berwarna biru juga terbungkus plastik.

Sekitar 200 meter berikutnya, menyusuri jalan tanah dengan kontur tidak rata, kembali terlihat galian yang telah dipasangi pipa.

Bentangan pipa pada titik galian yang diduga menyamung dari interkoneksi pipa IPA Duriangkang, ditanam di Nongsa. (F: BatamNow)

Penelusuran berlanjut sekitar 300 meter hingga ditemukan titik galian ketiga.

Bentangan pipa pada titik galian yang diduga menyamung dari interkoneksi pipa IPA Duriangkang, ditanam di Nongsa. (F: BatamNow)

Sekitar 150 meter berikutnya, terdapat titik galian keempat yang juga telah terpasang pipa.

Dekat dari galian ini, sejumlah pipa sejenis berwarna hitam dengan garis biru juga masih tampak menumpuk.

Puluhan meter dari titik galian keempat, ada satu lagi titik galian pada tepi jalan tanah di puncak tanjakan.

Sepanjang menyusuri jalan lokasi bentangan pipa tersebut, hanya terlihat beberapa bangunan jenis rumah. Areal ini bukan pemukiman warga.

Tidak jauh dari titik galian kelima, terlihat kontur daratan di sana terpotong. Di bagian bawahnya terdapat aktivitas pengerukan pasir yang memisahkan area tersebut dengan satu lokasi proyek pembangunan.

Baca Juga:  Baru Dua Malam Mengalir, Warga Bakau Serip Kembali Krisis Air, Merasa Kena “Prank”
Hamparan tanah nyaris tanpa ditumbuhi pohon di Nongsa, Batam, dengan latar belakang proyek pembangunan. (F: BatamNow)

Berdasarkan informasi yang dihimpun, lokasi pembangunan itu disebut proyek PT Equator Gate System (EGS) Batam, perusahaan pengembang pusat data di kawasan Nongsa, di luar areal KEK.

 

Pada salah satu bangunan di kawasan proyek tersebut tampak plang nama “CSCEC”. China State Construction Engineering Corporation adalah perusahaan BUMN asal Tiongok yang bergerak di bidang jasa konstruksi, teknik dan investasi global.

Hasil pencarian PT Equator Global System Batam lewat Google Maps. (F: Google)

Ketika ditelusuri melalui Google Maps, nama perusahaan CSCEC juga terpampang di salah satu unggahan foto dua bulan yang lalu, menunjukkan gerbang masuk ke proyek dengan nama “EGS AI Data Center”.

Proyek pembangunan diduga lokasi perusahaan data center TP Equator Gate System Batam, di Nongsa. (F: BatamNow)

ABHi: Kami Tidak Mengoperasikan Itu

Ketika dikonfirmasi mengenai cabang interkoneksi pipa IPA Duriangkang yang mengarah ke timur dan searah dengan lokasi proyek tersebut, Jefri mengaku belum mengetahui peruntukannya.

“Yang ke kanan, nah itu saya belum tahu itu kalau itu. Kami tidak mengoperasikan itu, belum diserahterimakan,” ujar Jefri.

Hingga berita ini dipublikasi, Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano belum membalas pesan konfirmasi yang dikirimkan BatamNow.com pada Sabtu (10/10/2026) mengenai titik interkoneksi pipa IPA Duriangkang yang salah satu cabangnya membentang searah lokasi diduga proyek PT EGS.

Direktur Diseminasi Informasi dan Hubungan Antar Lembaga BP Batam, Sthefani Barlian, juga belum merespons permintaan konfirmasi terkait hal tersebut.

Sebelumnya BP Batam Sebut Data Center Tak Gunakan Air Waduk

Sebelumnya, Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, menyatakan bahwa infrastruktur pusat data di Nongsa tidak mendapatkan pasokan air dari Waduk Nongsa maupun Waduk Duriangkang.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas aksi unjuk rasa warga Sambau yang memprotes krisis air minum jaringan perpipaan di wilayah mereka.

Warga bersyak wasangka bahwa proyek pembangunan data center berdampak pada ketersediaan air baku yang kini sudah sangat menipis di Waduk Nongsa.

Namun menurut Denny, perusahaan di sana mendapat suplai air dari kawasan industri Kabil yang memiliki fasilitas penampungan air hujan yang kemudian diolah.

Ia juga menyebut pembangunan fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yakni teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar, untuk mendukung kebutuhan air pusat data.

“Hari ini, mereka sedang menyiapkan SWRO. Kalau yang sudah jalan, contoh di sini mereka dapat dari KIIE. Di situ mereka ada pengolahan sendiri,” ujar Denny di depan KEK Nongsa, Senin (05/10).

@batamnow Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Denny Tondano menjelaskan, krisis air yang terjadi di kawasan Nongsa tidak terlepas dari penurunan produksi air akibat kondisi kemarau. Menurutnya, produksi air di Nongsa yang biasanya mencapai sekitar 90 liter per detik kini turun menjadi sekitar 25 liter per detik. “Kondisinya hari ini memang sudah turun dan produksi memang turun jauh. Hari ini kita support dengan booster yang kita pasang mengarah ke sini dari Duriangkang. Jadi saat ini, Nongsa didukung dari Duriangkang,” ujar Denny. Ia menegaskan, pasokan air untuk data center yang telah beroperasi di kawasan Nongsa tidak berasal dari sistem air baku Nongsa. Menurut Denny, sejumlah data center memperoleh pasokan dari sumber dan sistem pengolahan air masing-masing. “Hari ini, mereka sedang menyiapkan SWRO. Kalau yang sudah jalan, contoh di sini mereka dapat dari KIE. Di situ mereka ada pengolahan sendiri,” katanya. Denny juga menjelaskan, kawasan Kabil Industrial Estate (KIE) memiliki kolam penampungan air hujan yang kemudian diolah untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan tersebut. “KIE mereka punya semacam kolam, mereka tadah hujan di situ, dan mereka produksi di situ. Cukup besar produksinya, itu yang mereka pakai saat ini,” ujarnya. Data Center Juga Disebut Belum Mengambil Air dari Duriangkang Denny memastikan pasokan dari Waduk Duriangkang saat ini tidak dialirkan untuk kebutuhan data center. Ia menyebut pembangunan fasilitas pendukung kebutuhan air data center memang tengah dipersiapkan. Dalam tahap pertama, terdapat rencana pembangunan dengan kapasitas masing-masing 800, 400, totalnya 1.200 liter per detik. Pembangunan tersebut ditargetkan selesai dalam waktu sekitar delapan bulan hingga satu tahun. “Duriangkang tidak ada yang masuk ke data center,” tegasnya. Sementara kawasan selain data center, seperti Nongsa Digital Point (NDP), dan resort-resort di sana memang sudah sedari dulu disuplai dari waduk. “Duriangkang belum dipasang hari ini, kalau untuk data center. Tapi kalau untuk resort dan lain-lain, dari dulu kan memang sudah tersambung,” kata Denny. Sementara itu, Denny mengatakan kondisi sejumlah waduk di Batam masih relatif aman. Namun, Waduk Nongsa menjadi salah satu kawasan yang mengalami penurunan produksi cukup signifikan. “Tinggal Nongsa memang yang sangat kecil airnya, dan itu yang kita support dari Duriangkang hari ini,” katanya. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com

Denny juga menjelaskan bahwa kawasan Kabil Integrated Industrial Estate (KIIE) memiliki kolam penampungan air hujan yang diolah untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan tersebut.

“KIIE mereka punya semacam kolam, mereka tadah hujan di situ, dan mereka produksi di situ. Cukup besar produksinya, itu yang mereka pakai saat ini,” katanya. (D)

ADVERTISEMENT
Berita Sebelumnya

Angin Penyebab Tagihan Melonjak, LI-Tipikor Desak BP Batam Buka Temuan BPK soal Meteran Air

Berita Selanjutnya

Baru Dua Malam Mengalir, Warga Bakau Serip Kembali Krisis Air, Merasa Kena “Prank”

Berita Selanjutnya
BP Batam Sebut El Nino Penyebab Waduk Nongsa Kekeringan, BMKG: Kepri Sudah Masuk Musim Hujan

Baru Dua Malam Mengalir, Warga Bakau Serip Kembali Krisis Air, Merasa Kena “Prank”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Central Tiban
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini

© 2021-2026 BatamNow.com