BatamNow.com – Warga Kavling Bakau Serip merasa seperti di-“prank” oleh janji pemulihan aliran air minum jaringan perpipaan.
Pasokan yang sudah berbulan-bulan bermasalah hanya sempat mengalir beberapa jam sebelum kembali terhenti.
Air sempat mengalir pada Kamis dan Jumat (8–9 Oktober 2026), setelah Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, menjanjikan pemulihan dalam dua hari saat menemui ratusan warga yang berunjuk rasa di depan gerbang Nongsa Digital Park (NDP), Senin (05/10/2026).
Saat itu, Denny terkesan serius merespons tuntutan warga. Namun, kenyataan di lapangan justru berlawanan. Keran kembali kering, sementara kepastian penyelesaian tak kunjung diberikan.
Janji Pejabat, Penderitaan Warga
Ketua RT 03/RW 02 Kavling Bakau Serip, Andi Lalang, menyebut sekitar 80 rumah di lingkungannya masih mengalami mati air total.
Aliran di blok lain juga tidak menentu. Bantuan mobil tangki yang datang 10–11 kali sehari belum mencukupi kebutuhan warga. Mereka harus menghemat air untuk mandi, memasak, dan mencuci. Bahkan, perebutan air sempat memicu pertengkaran antarwarga.
Ironisnya, warga harus berunjuk rasa untuk mendapatkan perhatian. Setelah pejabat datang membawa janji, mereka kembali menghadapi persoalan yang sama.
@batamnow Ratusan warga Kampung Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menggelar aksi spontan di depan gerbang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Senin (05/10/2026). Mereka memprotes krisis air yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Pantauan BatamNow.com di lokasi, unjuk rasa hari ini didominasi emak-emak. Warga berkumpul di depan gerbang akses KEK Nongsa yang menjadi lokasi sejumlah perusahaan data center di Batam. Perwakilan warga, Dewi, mengatakan aksi tersebut dilakukan karena warga tak kunjung mendapatkan solusi atas persoalan distribusi air minum jaringan perpipaan yang mereka alami. “Kami sudah bertemu perwakilan SPAM, tidak ada respons. Kami sudah bertemu orang data center, tidak ada respons. Makanya kami hari ini baru turun. Kalau hari ini air tidak mengalir, kami tidak akan pulang,” kata Dewi. Menurut warga, sekitar 300 kepala keluarga (KK) yang tersebar di tiga RT terdampak krisis air dari jaringan perpipaan. Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air. Bahkan, uang yang seharusnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok terpaksa dialihkan untuk membeli drum sebagai tempat penampungan air. “Saya sudah tiga kali beli air tangki. Satu tangki itu Rp125 ribu, dipakai cuma satu hari saja,” ujar seorang emak-emak lainnya. Warga juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air tangki dari pihak penyedia. Mereka mengaku harus berebut dengan warga lainnya ketika air tangki datang. “Kalau nunggu ABH, kita kelahi dulu sama warga, berebut air. Berantem warga kami. Jangan sampai gara-gara air, kami terpecah belah,” keluh warga. Warga Pertanyakan Pasokan Air ke Data Center Warga juga mempertanyakan kondisi pasokan air di kawasan industri dan perusahaan data center yang berada di sekitar permukiman mereka. Mereka mengaku tidak percaya dengan publikasi BP Batam yang menyebut aktivitas data center yang membutuhkan suplai air besar untuk sistem pendingin tidak memiliki kaitan dengan krisis air yang terjadi di Nongsa. Menurut warga, tidak pernah terdengar adanya perusahaan atau industri di kawasan tersebut yang mengalami persoalan pasokan air seperti yang dialami masyarakat. “Tidak ada, hanya warga yang dirugikan. Perusahaan hidup semua kok. Buktinya tadi saya numpang kencing, airnya hidup deras,” ujarnya. Warga menilai kondisi tersebut berbanding terbalik dengan situasi yang mereka alami. Dewi menjelaskan, sudah sekitar tiga bulan tidak mendapatkan aliran air dari jaringan perpipaan. “Tiga bulan tidak pernah menetes. Kami datang ke sini hanya mau air kami mengalir. Kami tidak ingin anarkis,” tegasnya. Hingga pukul 10.09 WIB, warga Sambau masih bertahan di depan gerbang akses KEK Nongsa. Mereka menuntut adanya kepastian terkait distribusi air minum melalui jaringan perpipaan ke permukiman warga. Warga kukuh menegaskan, tak ada lagi negosiasi, air harus menyala hari ini. Aksi tersebut dilakukan warga sebagai bentuk protes atas krisis air yang dinilai telah berlangsung terlalu lama dan membebani kehidupan sehari-hari mereka. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Denny Berjanji, BP Batam Bungkam
Masalah ini bukan sekadar gangguan distribusi, tetapi menyangkut kredibilitas janji pejabat dan tanggung jawab BP Batam.
Ketika Denny menjanjikan pemulihan dalam dua hari, warga berhak mengharapkan hasil nyata, bukan aliran sesaat yang kembali terhenti.
Lebih disayangkan, saat wartawan BatamNow.com meminta klarifikasi kepada Denny, BP Batam belum memberikan tanggapan hingga berita ini diterbitkan.
Ada apa? Mengapa BP Batam tidak menjelaskan penyebab gangguan dan kegagalan memenuhi janji pemulihan?
Warga yang kembali menghadapi keran kering wajar merasa dipermainkan. Harapan telah diberikan, tetapi hasilnya tak kunjung dirasakan.
Pejabat publik tidak cukup tampil meyakinkan di hadapan demonstran. Kesungguhan harus dibuktikan dengan tindakan dan hasil nyata. Sikap bungkam justru memperlebar jarak antara janji pejabat dan kenyataan yang dialami masyarakat.
Air Bukan Janji, Melainkan Kewajiban Pelayanan
Pelayanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) tidak cukup dinilai dari aliran selama beberapa jam.
Aspek kuantitas, kualitas, dan kontinuitas harus diperhatikan.
BP Batam perlu menjawab: apakah akar persoalan sudah ditemukan? Apakah tekanan jaringan dan kapasitas distribusi telah diperiksa? Mengapa pemulihan yang dijanjikan dalam dua hari tidak bertahan?
Tanpa jawaban berbasis data, warga hanya akan terus menerima janji tanpa kepastian kapan krisis berakhir.
Pers juga berhak meminta klarifikasi. Menjawab pertanyaan wartawan merupakan bagian dari keterbukaan dan akuntabilitas pejabat publik, bukan sekadar formalitas.
Ujian bagi Amsakar–Li Claudia
Krisis air Bakau Serip dan di kawasan lain di Batam juga menjadi ujian bagi kepemimpinan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, baik di BP Batam maupun Pemerintah Kota Batam.
Persoalan air telah menjadi prioritas, tetapi warga masih harus turun ke jalan untuk menuntut pelayanan dasar.
Menjelang dua tahun kepemimpinan mereka, komitmen tersebut semestinya dibuktikan melalui hasil nyata, bukan gangguan berulang dan janji yang tak bertahan.
Hingga Sabtu (10/10/2026), Andi Lalang menyatakan belum ada perubahan berarti. BatamNow.com juga belum memperoleh tanggapan dari Denny Tondano.
Sampai kapan warga harus menunggu? Berapa kali lagi mereka harus berunjuk rasa agar hak atas pelayanan air minum dipenuhi?
Pertemuan bukan penyelesaian. Janji bukan bukti keberhasilan. Aliran air beberapa jam bukan tanda pelayanan telah pulih.
Air adalah kebutuhan dasar, bukan kemurahan hati pejabat. Jika janji terus diucapkan sementara keran kembali mati, yang dipertaruhkan bukan hanya kelancaran distribusi, melainkan juga kepercayaan masyarakat kepada BP Batam.
Jangan sampai warga menyimpulkan bahwa untuk mendapatkan air di Batam, mereka harus berteriak lebih dahulu—dan setelah pejabat berjanji, mereka tetap dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian. (Redaksi)

