BatamNow.com – Kabut asap semakin tebal menyelimuti Kota Batam, Rabu (14/10/2026). BMKG menyebut kondisi ini berpotensi bertahan selama kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah sumber asap belum teratasi.
Konsentrasi partikel halus atau PM2.5 yang mencapai 204,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 15.00 WIB, menunjukkan kualitas udara berada masih dalam kondisi tidak sehat.
Kepala Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam, Suratman, mengatakan asap yang menyelimuti Batam didominasi kiriman dari wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan bagian selatan.
Asap dari kedua wilayah tersebut terbawa angin menuju Batam, mengikuti arah angin yang bertiup ke barat laut dan utara.
“Sumber asap dominan dari Sumatera bagian selatan dan Kalimantan bagian selatan, asap tertiup angin sesuai arah angin yang bertiup ke arah barat laut dan utara,” ujar Suratman saat dikonfirmasi BatamNow.com.
@batamnow Kabut asap semakin tebal menyelimuti Kota Batam, Rabu (14/10/2026). BMKG menyebut kondisi ini berpotensi bertahan selama kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah sumber asap belum teratasi. Konsentrasi partikel halus atau PM2.5 yang mencapai 204,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 15.00 WIB, menunjukkan kualitas udara berada masih dalam kondisi tidak sehat. Kepala Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam, Suratman, mengatakan asap yang menyelimuti Batam didominasi kiriman dari wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan bagian selatan. Asap dari kedua wilayah tersebut terbawa angin menuju Batam, mengikuti arah angin yang bertiup ke barat laut dan utara. “Sumber asap dominan dari Sumatera bagian selatan dan Kalimantan bagian selatan, asap tertiup angin sesuai arah angin yang bertiup ke arah barat laut dan utara,” ujar Suratman saat dikonfirmasi BatamNow.com. Selain menurunkan kualitas udara, kabut asap juga membatasi jarak pandang di Batam. BMKG mencatat jarak pandang saat ini berkisar antara 1.000 hingga 1.500 meter. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Meski demikian, batas minimum jarak pandang untuk operasional penerbangan berbeda-beda, bergantung pada jenis pesawat dan ketentuan operasional yang berlaku. Suratman menyarankan agar informasi lebih terperinci mengenai ambang batas jarak pandang penerbangan dikonfirmasi kepada Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia. “Untuk nilai ambang, mohon maaf kami tidak mengetahui secara detail, barangkali bisa dikonfirmasi ke Perum LPPNPI/AirNav dan kami hanya sebatas supporting informasinya,” jelasnya. Asap Berpotensi Bertahan Selama Karhutla Belum Teratasi Suratman memperkirakan kondisi kabut asap dapat bertahan selama Karhutla di wilayah sumber asap belum teratasi. Selain asap kiriman dari luar daerah, kebakaran hutan dan lahan di Batam maupun sekitarnya juga berpotensi menambah kabut asap apabila terjadi. “Kondisi asap tebal ini diperkirakan bertahan selagi kejadian Karhutla dari wilayah sumber asap belum teratasi dan bisa juga dari kejadian Karhutla di Batam dan sekitarnya (apabila ada),” ungkapnya. Di tengah kondisi tersebut, hujan berpotensi membantu mengurangi konsentrasi partikel asap di udara. Namun, BMKG memperkirakan hujan tidak turun secara merata dan hanya berlangsung dalam durasi singkat. “Ada potensi hujan, tetapi tidak merata dan durasi singkat,” kata Suratman. Warga Diminta Waspadai Dampak Kabut Asap Konsentrasi PM2.5 sebesar 204,3 µg/m³ menunjukkan kualitas udara Batam berada dalam kategori sangat tidak sehat berdasarkan data pukul 15.00 WIB yang digunakan dalam naskah ini. Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau jantung termasuk kelompok yang perlu lebih waspada. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat, selama kabut asap masih pekat. Jika harus beraktivitas di luar, warga disarankan menggunakan respirator seperti masker N95 atau KN95 yang terpasang rapat, serta menjaga kualitas udara di dalam ruangan. Warga juga perlu memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gejala kesehatan serius. Sementara masyarakat yang hendak bepergian melalui Bandara Internasional Hang Nadim Batam disarankan memantau informasi terbaru dari maskapai dan pengelola bandara terkait kemungkinan perubahan jadwal maupun operasional penerbangan akibat terbatasnya jarak pandang. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ suara asli – Keke
Selain menurunkan kualitas udara, kabut asap juga membatasi jarak pandang di Batam. BMKG mencatat jarak pandang saat ini berkisar antara 1.000 hingga 1.500 meter.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Meski demikian, batas minimum jarak pandang untuk operasional penerbangan berbeda-beda, bergantung pada jenis pesawat dan ketentuan operasional yang berlaku.
Suratman menyarankan agar informasi lebih terperinci mengenai ambang batas jarak pandang penerbangan dikonfirmasi kepada Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia.
“Untuk nilai ambang, mohon maaf kami tidak mengetahui secara detail, barangkali bisa dikonfirmasi ke Perum LPPNPI/AirNav dan kami hanya sebatas supporting informasinya,” jelasnya.

Asap Berpotensi Bertahan Selama Karhutla Belum Teratasi
Suratman memperkirakan kondisi kabut asap dapat bertahan selama Karhutla di wilayah sumber asap belum teratasi.
Selain asap kiriman dari luar daerah, kebakaran hutan dan lahan di Batam maupun sekitarnya juga berpotensi menambah kabut asap apabila terjadi.
“Kondisi asap tebal ini diperkirakan bertahan selagi kejadian Karhutla dari wilayah sumber asap belum teratasi dan bisa juga dari kejadian Karhutla di Batam dan sekitarnya (apabila ada),” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, hujan berpotensi membantu mengurangi konsentrasi partikel asap di udara. Namun, BMKG memperkirakan hujan tidak turun secara merata dan hanya berlangsung dalam durasi singkat.
“Ada potensi hujan, tetapi tidak merata dan durasi singkat,” kata Suratman.

Warga Diminta Waspadai Dampak Kabut Asap
Konsentrasi PM2.5 sebesar 204,3 µg/m³ menunjukkan kualitas udara Batam berada dalam kategori sangat tidak sehat berdasarkan data pukul 15.00 WIB yang digunakan dalam naskah ini.
Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau jantung termasuk kelompok yang perlu lebih waspada.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat, selama kabut asap masih pekat. Jika harus beraktivitas di luar, warga disarankan menggunakan respirator seperti masker N95 atau KN95 yang terpasang rapat, serta menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
Warga juga perlu memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gejala kesehatan serius.
Sementara masyarakat yang hendak bepergian melalui Bandara Internasional Hang Nadim Batam disarankan memantau informasi terbaru dari maskapai dan pengelola bandara terkait kemungkinan perubahan jadwal maupun operasional penerbangan akibat terbatasnya jarak pandang. (H)

