BatamNow.com – Warga Tembesi dan Nongsa, Batam menggelar unjuk rasa dalam dua hari berturut-turut, Rabu–Kamis (14–15/10/2026).
Mereka menuntut pemenuhan hak atas air minum jaringan perpipaan yang tak kunjung tuntas.
Aksi unjuk rasa dengan tema permasalahan pelayanan aliran air yang buruk sudah berlangsung berkali-kali oleh warga Batam.
Di tengah aksi warga Nongsa dan Tembesi, mencuat suara sebagian warga pendemo yang meminta Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus.
Perhatian terhadap persoalan pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Batam yang terus menuai keluhan sejak pengelolaannya beralih ke BP Batam setelah masa konsesi PT Adhya Tirta Batam (ATB) berakhir per November 2020.
Pada Rabu (14/10/2026), warga Nongsa berunjuk rasa di depan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park (NDP).
Sebelumnya pada Senin (05/10/2026), aksi yang sama juga lakukan warga Nongsa.
Mereka menuntut haknya atas air minum sebagaimana dijamin negara lewat undang-undang.
BP Batam lewat Deputi Bidang Pengusahaan Denny Tondano menjanjikan air akan mengalir normal dalam dua hari pasca unjuk rasa.
Namun, kata warga, janji BP Batam hanya tinggal janji.
@batamnow Ratusan warga Kampung Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menggelar aksi spontan di depan gerbang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Senin (05/10/2026). Mereka memprotes krisis air yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Pantauan BatamNow.com di lokasi, unjuk rasa hari ini didominasi emak-emak. Warga berkumpul di depan gerbang akses KEK Nongsa yang menjadi lokasi sejumlah perusahaan data center di Batam. Perwakilan warga, Dewi, mengatakan aksi tersebut dilakukan karena warga tak kunjung mendapatkan solusi atas persoalan distribusi air minum jaringan perpipaan yang mereka alami. “Kami sudah bertemu perwakilan SPAM, tidak ada respons. Kami sudah bertemu orang data center, tidak ada respons. Makanya kami hari ini baru turun. Kalau hari ini air tidak mengalir, kami tidak akan pulang,” kata Dewi. Menurut warga, sekitar 300 kepala keluarga (KK) yang tersebar di tiga RT terdampak krisis air dari jaringan perpipaan. Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air. Bahkan, uang yang seharusnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok terpaksa dialihkan untuk membeli drum sebagai tempat penampungan air. “Saya sudah tiga kali beli air tangki. Satu tangki itu Rp125 ribu, dipakai cuma satu hari saja,” ujar seorang emak-emak lainnya. Warga juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air tangki dari pihak penyedia. Mereka mengaku harus berebut dengan warga lainnya ketika air tangki datang. “Kalau nunggu ABH, kita kelahi dulu sama warga, berebut air. Berantem warga kami. Jangan sampai gara-gara air, kami terpecah belah,” keluh warga. Warga Pertanyakan Pasokan Air ke Data Center Warga juga mempertanyakan kondisi pasokan air di kawasan industri dan perusahaan data center yang berada di sekitar permukiman mereka. Mereka mengaku tidak percaya dengan publikasi BP Batam yang menyebut aktivitas data center yang membutuhkan suplai air besar untuk sistem pendingin tidak memiliki kaitan dengan krisis air yang terjadi di Nongsa. Menurut warga, tidak pernah terdengar adanya perusahaan atau industri di kawasan tersebut yang mengalami persoalan pasokan air seperti yang dialami masyarakat. “Tidak ada, hanya warga yang dirugikan. Perusahaan hidup semua kok. Buktinya tadi saya numpang kencing, airnya hidup deras,” ujarnya. Warga menilai kondisi tersebut berbanding terbalik dengan situasi yang mereka alami. Dewi menjelaskan, sudah sekitar tiga bulan tidak mendapatkan aliran air dari jaringan perpipaan. “Tiga bulan tidak pernah menetes. Kami datang ke sini hanya mau air kami mengalir. Kami tidak ingin anarkis,” tegasnya. Hingga pukul 10.09 WIB, warga Sambau masih bertahan di depan gerbang akses KEK Nongsa. Mereka menuntut adanya kepastian terkait distribusi air minum melalui jaringan perpipaan ke permukiman warga. Warga kukuh menegaskan, tak ada lagi negosiasi, air harus menyala hari ini. Aksi tersebut dilakukan warga sebagai bentuk protes atas krisis air yang dinilai telah berlangsung terlalu lama dan membebani kehidupan sehari-hari mereka. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Kemudian pada Kamis (15/10/2026), giliran ratusan warga Tembesi yang mendatangi kantor PT Air Batam Hilir (ABHi) untuk menuntut perbaikan pelayanan.
Warga mengeluhkan suplai air yang terhenti selama berbulan-bulan. Dan mereka pun meradang.
Selain warga Nongsa dan Tembesi, warga di berbagai kawasan di Batam juga sudah lama tak mendapat akses atas kontinuitas, dan kuantitas air minum.
Bahkan kualitas air yang terkadang berbau, keruh, bahkan kehitaman yang menetes di keran mereka juga menjadi persoalan yang mereka keluhkan.
“Kami meminta Presiden Prabowo memberikan perhatian serius terhadap persoalan pengelolaan air yang tak kunjung tuntas. Sejak 2020, berbagai masalah pelayanan terus berulang,” ujar beberapa warga pengunjuk rasa kepada BatamNow.com.
Desakan tersebut menguat setelah warga melihat respons Presiden Prabowo terhadap blackout listrik yang melanda Batam dan Bintan pada 12–13 Oktober 2026.
Setelah gangguan kelistrikan itu, terjadi pergantian Direktur Utama PT PLN (Persero) dan Danantara Indonesia mengumumkan perubahan struktur pengelolaan serta rencana penyegaran manajemen PLN Batam.
Warga berharap evaluasi dan pembenahan serupa dilakukan terhadap SPAM BP Batam, termasuk mengevaluasi kinerja para pejabat yang bertanggung jawab di Badan Usaha SPAM BP Batam.
Bahkan mitra operasional serta pemeliharaan, yakni PT Air Batam Hulu (ABHu) dan PT ABHi pun mereka singgung saat unjuk rasa berlangsung.
@batamnow Gelombang demonstrasi krisis air di Batam masih berlanjut. Hari ini, Kamis (15/10/2026), giliran warga Tembesi yang berunjuk rasa. Amatan BatamNow.com di Perumahan Gesya Talenta, Tembesi, sekitar seratus warga kukuh akan menggeruduk Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) PT Air Batam Hilir (ABHi), di tepi Jalan Letjend Suprapto, Kecamatan Batu Aji. “Sudah dua bulan mati di Gesya. Tapi seperti di rumah kami dua minggu total tak menetes satu tetes pun. Sementara di perumahan yang ada pemerintahan lancar 24 jam,” ujar seorang warga, Kamis (15/10) pagi. “Kenapa perumahan kami Green Laguna, Winner, Gesya, kenapa nggak hidup. Apa masalahnya. Pak Amsakar tidak ada datang melihat perumahan kami. Janjinya Ibu Li Claudia itu hidup air, mana dia nggak datang,” kata warga lainnya. Sementara kiriman truk tangki air, ujar warga, tidak mencukupi kebutuhan mereka. Pantauan BatamNow.com, rombongan warga Tembesi tiba di kantor ABHi sekira pukul 10.30 WIB. Sehari sebelumnya, Rabu (14/10), unjuk rasa serupa juga dilakukan warga Teluk Mata Ikan di depan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa. Pelanggan SPAM BP Batam itu menduga krisis air yang dialami belakangan ini tak lepas dari adanya proyek beberapa pusat data (data center) di kecamatan tersebut. Sementara pada Senin (05/10), adalah warga Kavling Sambau dan Bakau Serip yang berdemonstrasi di depan KEK Nongsa. Tuntutannya juga sama, agar air minum jaringan perpipaan mengalir. Catatan BatamNow.com, unjuk rasa memprotes krisis air bukan peristiwa satu-dua kali, sebab masalah layanan air minum masih belum dapat dituntaskan hingga kini. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Evaluasi Pengelolaan dan Mitra SPAM
Menurut warga, BP Batam perlu mengevaluasi pengelolaan SPAM secara menyeluruh, terutama dalam menjamin kontinuitas, kuantitas, dan kualitas air minum bagi pelanggan.
Evaluasi juga dinilai perlu mencakup pembagian tanggung jawab dan kinerja masing-masing pelaksana di Badan Usaha (BU) SPAM BP Batam.
Demikian juga terhadap perusahaan mitra BP Batam, yakni PT Air Batam Hulu dan PT Air Batam Hilir di sektor hilir sebagai mitra kerja sama.
Di sisi lain, warga mengeluhkan kewajiban membayar tagihan yang tetap berjalan sesuai jadwal yang ditentukan meskipun pelayanan air minum dinilai tidak memadai.
Berdasarkan paparan BP Batam dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI pada 17 September 2026, target Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) BP Batam pada 2026 mencapai Rp 2,4 triliun. Adapun target penerimaan dari usaha SPAM dan pengelolaan air limbah mencapai Rp 572 miliar.
Besarnya target penerimaan tersebut dipertanyakan dan salah satu alasan masyarakat meminta transparansi, akuntabilitas, dan peningkatan kualitas pelayanan.
Permasalahan layanan air minum ini sudah berkarut larut dan tak kunjung tuntas sehingga warga meminta Presiden Prabowo memberi perhatian. (Red)

