BatamNow – Dam Baloi, dulu, debit airnya 293.000 m3. Beberapa tahun belakangan, terkulai, tak beroperasi.

Rumah tak berizin dibiarkan pihak BP Batam menjamur berdiri di seputaran Dam.
Dam yang dibangun tahun 1977 itu, kini, dipenuhi sampah. Tertutup semak-belukar. Air Dam sudah mengering.
Kondisinya sekarang, menjadi tempat limbah rumah tangga; seperti septic tank umum.
Dan, konon areal lahan Dam sudah lama dialokasikan BP Batam ke para spekulan lahan.
Entah berapa puluh miliar duit negara, titipan rakyat, yang dihabiskan membangun Dam itu. Kapasitas Dam ini awalnya, menyuplai air ke kawasan Nagoya, Jodoh dan seputaran Baloi itu.
BP Lalai Menata dan Menjaga Keberlangsungan Dam Duriangkang
Kondisi Dam Duriangkang, kini, nyaris senasib Dam Baloi. Dam yang memiliki luas 8543 Ha itu, kini “sekarat”. Mengapa?
Menurut Anggota DPRD Provinsi Kepri Irwansyah, pihak BP Batam lalai menata dan menjaga kelestarian Dam itu.
Investigasi tim BatamNow ke area Dam Duriangkang, Selasa (10/3), seakan menyakini nasib waduk tadah hujan terbesar di Batam ini, hendak di “Baloi” kan.
Dugaan itu terlihat dari kondisi di sekeliling Dam, terkesan terbiarkan jauh dari perawatan dan pengawasan.
Di areal Dam berkembang-biak gulma eceng gondok (eichhornia crassipes), menutupi hampir separuh luas genangan waduk 874 Ha itu.
“Ini sudah lama sekali,” kata Waden, seorang penangkap ikan di sana, seraya menunjuk hamparan pendangkalan di Dam yang sudah menyemak.
Menurutnya, kondisi seperti ini, paling tidak dalam kurun waktu 5 tahun atau sejak terjadi penyusutan waduk.
Selain gulma enceng gondok, tumbuhan ”putri malu” (mimosa pudica) menyemak di sela-sela gulma lainnya.
Lain lagi hamparan puluhan hektar ilalang (imperata cylindrica) yang sudah menyemak.
“Kondisi seperti ini sudah lama pak, sejak air di sini mulai mengering,” kata Pak Endang yang sedang menyabit daun ilalang di areal Dam yang sudah lama mengering.
Keterangan diperoleh, selama hampir 25 tahun Dam itu bertahap terjadi pendangkalan (sedimentasi), lalu tak pernah dikeruk pihak BP Batam.
Kondisi Dam Duriangkang/Piayu dengan permukaan 1.284,20 Ha yang menyusut tajam sekarang, ternyata sudah diprediksi BP Batam sejak 10 tahun lalu.
Air Dam Tembesi Mau Dipompa Ke Duriangkang. Minta Dana Lagi Rp 47 Miliar
Melihat kondisi kekeringan di Dam Duriangkang, pihak BP Batam dan ATB bermaksud mencari alternatif dari Dam Tembesi.
Direncanakan Dam Tembesi akan dikoneksikan ke Dam Duriangkang. Ini sebagai solusi jangka pendek untuk mengatasi krisis air di Duriangkang.
Itupun menurut pihak BP Batam baru bisa terealisasi sekitar Juni mendatang, karena butuh proses.
Pengadaan Pompa dan alat lainnya berbiaya Rp 47 Miliar untuk mengkoneksi antara Tembesi dengan Duriangkang, masih akan dibicarakan.
Krisis air mendera Batam. Sementara Pulau Industri yang bersebelahan dengan Singapura dan Malaysia ini, dimimpikan menjadi kawasan ekonomi dan industri yang dapat bersaing di regional bahkan global.
Bila benar-benar diberlakukan rationing (penggiliran) air kepada pelanggan, bukan saja hanya pelanggan rumah, tapi pelanggan komersil yang 30 ribu dan hampir 3000 industri manufaktur bisa tutup.
Masalah ini berpotensi mematikan kawasan ekonomi ini. Sementara menurut prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Batam, puncak turunnya hujan lebat dan merata, baru Mei mendatang.
Bukan hanya Dam Duriangkang yang dikuatirkan. Termasuk Dam baru Tembesi dan Sei Gong masih bermasalah.
Hutan atau catchment area di seputar kedua Dam itu sudah rusak.(*)